Dealing With Death

Beberapa hari yang lalu, beberapa rekan menulis twitter tentang seorang sesama alumnus. Twitternya berupa testimonial dan doa yang baik-baik sekali, kupikir si fulan berulangtahun. I refreshed the timeline, untuk make sure, mana tahu ternyata dia hendak menikah atau hal-hal lain. Dan tweet paling atas di linimasaku adalah: “RIP @radiktapawanto”.
Syok? Tentu saja.

Saya tidak dekat dengan beliau ini, tapi sering bertegur sapa, dan entah bagaimana orang yg saya kenal ada saja yg berhubungan dengan almarhum.
Saya tanya rekan seperantauannya, “Dit, berita soal Mbor beneran?”, sang rekan balas bertanya, “Mbor kenapa?”. Ya, kepergian beliau ternyata diakibatkan kecelakaan di lokasi kerja, mendadak sekali, dan setelah kami bertelepon, sang sahabat panik menelpon ponsel almarhum, lalu keluarganya, yang kemudian mengkonfirmasikan kebenaran berita tersebut. Baru saat itulah saya berucap, “innalillahi wa innaillaihi rajiun.”

Beliau adalah pribadi yang hangat dan lembut. Di semester awal saya kuliah, mendadak dia menyapa saya, “lo pasti temennya Hida yg pernah ikut summer travel juga, pasti, soalnya nama beginian gak banyak nih.” Waktu itu saya tertawa dan mengiyakan.
Saya bukan orang yang supel, lingkaran pertemanan saya tidak banyak. Beliau ini termasuk seseorang yang aktif dan populer, namun hingga hari terakhirnya di kampus, jika kami berpapasan, dia selalu menyempatkan menyapa saya. Setelah kami lulus, beliau sering menyapa melalui media sosial.

Saya tidak pernah dekat dengan Radikta, Mbor, Dito, atau apalah panggilan akrab kalian kepada si supel periang satu ini, tapi manusia pun toh tidak perlu dekat dengan matahari untuk merasakan kehangatannya.
Kepergian beliau membuat saya berpikir, apakah orang lain akan mengingat saya sehangat mereka mengingat beliau? Semoga ya, semoga.

See you on the other side, dude. May you wait in peace.

Swadaya

Raga yang dititipkan kepadamu belum hendak menjejak riak kefanaan dengan ringkih,
maka halangilah jiwamu merasa purna akan usia.

Tiap-tiap perkara yang terhanyut bersama waktu pada akhirnya akan menepi,
lelah menari bersama arus,
meraba citra elusif tentang mimpi yang dahulunya berkibar sebelum akhirnya angin meracau mati tepat di tepian buritan.

Tapi bukankah imaji di kepalamu masih nyata menderu?
Berhenti bersimpuh,
saat kau tertunduk mendamba kembalinya asa yang sekian lama menjadi cecapan tempatmu bergelayut menengadah,
maka dunia akan menginjakmu.
Masamu melaju bukan semata karena optimisme dan puja-puji,
melainkan karena kamu belum berhenti mencoba terus melangkah.

Berdirilah, beri lindap di atas mereka yang menghalangi cahayamu.
Karena kamu masih sempat menjadi lebih hebat.
Umurmu, toh, baru dua puluh empat.

Happy Birthday, ARALE!

Mereka bilang, "sebaiknya mulai sekarang lo dipanggil "Arale"",
seperti karakter kartun itu.
Aku bilang, "terserahlah".
Tiga minggu kemudian, mereka bawakan aku kue
yang tidak bertuliskan nama asliku.
Dasar gila,
makanya rasanya sulit untuk tidak tertawa saat bersama mereka.

Ringkasan Hal-Hal Yang Belum Kuucap

Ada tekad yang terlalu malam, lalu rasa yang terlalu pagi. Terang terbit meleburkan mereka menjadi biru.
Menjadi duka. Menjadi abu.
Menjadi kecewa.

Mulanya kupikir aku dapat mengatasi semuanya, hingga pada saat akhirnya kita kembali bersua. Hasrat ingin memelukmu, seolah dunia menyempit dan hanya cukup untuk disinggahi bila kita saling merengkuh, begitu menggebu hingga mengalahkan insting dasarku untuk bernafas dengan wajar.
Ternyata aku terlalu rindu, setelah sekian lama terlalu bangga untuk menyapa.

Ini bukan cinta. Bukan.
Ini adalah harapan yang terjebak dalam siklus repetisi dekonstruksi dan rekonstruksi seiring perpisahan dan pertemuan kita.
Kamu tahu. Kamu mengerti. Tapi memilih untuk mendiamkan.
Maka rasa itu aku endapkan, berharap ampasnya akan mengering dan hanyut sebagai debu seiring waktu.

Gambar

You're still the songs I sing in the car about. Haha. Yeah.

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

HANGOUT SPOT: Food Opera

Masih lanjut ya seri petualangan saya jadi turis di Bandung. Seumur-umur disini dulu, males dokumentasi sih. Food Opera ini lumayan baru sih, setau saya, dulunya ini Prefere 72, yang sempet juga jadi lokasi syuting film “From Bandung With Love“. Lokasinya di Jalan Dago (HR. Djuanda), persis di seberang Kartika Sari. Spesialisasi kafe ini masakan Timur Tengah dan Steak yang diklaim sebagai steak paling empuk. Masakan yang berbau padang pasirnya berupa Nasi Mandhi, Nasi Madguth, Nasi Kebuli, dan juga Nasi Biryani. Nasinya beda dari yang biasa kita makan, bentuknya pipih panjang dan rasanya lebih kering. Ini enak banget, reader, kemarin saya coba Kebulinya, pake Kebab Kambing, enak-enak-enak. Gak usah ragu untuk makan nasinya bareng taburan kismis sama kacang mede yang dicampur disitu. Kalau gak dimakan bareng, nanti rasa nasinya lebih asin.

Nasi Kebuli Food Opera

Steak yang diklaim paling empuk sama kafe yang berbagi lokasi sama Factory Outlet BRIGHT itu juga nggak main-main, memang empuk banget. Mungkin dipotong sama garpunya juga bisa deh, sepertinya dagingnya sudah digebuk dengan sepenuh hati sampe sedemikian empuknya. Jangan khawatir, masih kerasa kok bandelnya tekstur daging yang khas itu. Sayangnya, mashed potatonya agak kurang garem nih pas saya coba menu yang satu ini. Bleh.

Tenderloin Steak Food Opera

Minumannya variatif, biasanya saya cuma minum teh sih. Tapi di bukunya ada menu-menu unik semacam Beras Kencur atau Kunyit Asam dengan berbagai selera fusi, mulai dari yang original seperti yang biasa kita minum di rumah nenek sampe yang dicampur cokelat lah, green tea lah, strawberry dan sebagainya. Budget makan dan minum disini mulai dari 30 – 50 ribu per orang, murah meriah dan kenyang. Buat yang hobi, bisa ditambah shisha juga seharga 35 ribu per use. Sayangnya shisha-nya kurang recommended nih, uapnya agak lebih tajam dibanding shisha-shisha lain yang pernah saya coba, sedikit serak setelah shisha disini. Tapi makanannya oke dan suasananya oke banget, apalagi pake ada kolam-kolam berkura-kura segala. Overall, it’s a nice place to hang out and actually eat 😀

Food Opera

HANGOUT SPOT: Siete Cafe

Sudah lama gak ke Bandung, akhirnya saya bisa balik lagi ke Bandung tanpa harus mikirin beres-beres kosan atau ngerjain tugas yang belum sempet dikerjain sepanjang liburan. I’m officially a tourist now.  Untungnya, dua adik saya masih kuliah di Bandung, di fakultas yang sama dengan saya, di kosan lama saya pula.  Maka sebagai culinerd sejati, selama saya menginap, saya mencari-cari informasi soal tempat nongkrong baru. And they took me to Siete Cafe.

Siete Menu
Siete Cafe ini lumayan baru, buka di sekitar tahun 2011-2012 kayaknya, pokoknya after I graduate.  Tempatnya cozy dan menawarkan wi fi gratis. Berlokasi di antara UNPAD dan ITB, kafe ini jadi sasaran mahasiswa-mahasiswi yang demen nongkrong sampe ketiduran di kafe.  Alamatnya di Jalan Sumur Bandung Nomor 20.  Buat yang gak hafal nama jalan dan gak terlalu bisa memanfaatkan google maps seperti saya, silakan cari McD Simpang yang lokasinya adalah ke arah atas dari Kartika Sari. Kalau kamu sudah melihat McD simpang ini, siap-siap belok kiri di perempatan yang letaknya memang di kedua sisi McD Simpang Dago (now you know where they get the name). Setelah belok, arus akan membawa kamu untuk belok lagi ke kiri. Slow down, karena gak jauh dari situ, ada kafe bernuansa putih-biru yang merupakan highlight kita kali ini. Siete Cafe.

Siete Wide Window
Interior Siete Cafe ngingetin kita sama navy and sailor, the classic blue and white plus furnitur kayu.  Ada spot yang saya suka banget; wooden bench, dilengkapi bantal-bantal putih empuk, yang menempel di jendela besar. Cocok untuk duduk rumpi, baca buku, bikin tugas, foto-foto dan kegiatan pengunjung kafe lainnya.

Medalion

Tentunya kita gak mampir kafe cuma untuk liat-liat kan, this isn’t museum. So, we raided the menus. Dari menu appetizer, saya suka banget Tomato Soup-nya yang milky dan cheesy, padahal saya bukan penggemar tomat. Kebetulan nyicip punya adik, dan ternyata luar biasa enak, apalagi sambil dicelup sama crouton alias potongan roti panggang. Chicken Wings-nya juga oke untuk penggemar sayap ayam renyah, tapi saya kurang suka karena dilumuri saus BBQ. Gak ada yg salah dengan saus mereka ini, tapi di resto manapun itu, saya memang gak suka saus barbecueMain course yang dimakan hari itu macam-macam. Ada Entrecote Steak, konon menu ini diminta pertama kali oleh Lady Diana di Buckingham, isinya adalah Mashed Potato, tenderloin yang disiram mushroom sauce, lalu cauliflower dan brokoli yang di-blanch sampai matang. Ada juga Beef Medalion dengan tiga pilihan saus; BBQ (again!), mushroom, dan satu lagi saya lupa namanya, tapi ini signature sauce-nya grill menu Siete. Seandainya mereka punya blackpepper sauce, pasti lebih enak, kaerna menurut saya tiga saus ini terlalu blend buat mendampingi menu yang juga blend ini.  Tapi, mashed potato mereka boleh diacungi jempol.  Nah, adik saya sendiri memesan Chicken Curry yang rasa karinya ringan dan lembut, seperti kari-kari ala Melayu atau Thailand, bukan kari India yang kadang terlalu kaya rasa di lidah saya.

Strawberry Frio
Bandung selalu punya tempat istimewa untuk makanan manis, di Siete juga ada menu yang bikin saya penasaran. Cheesecake in a can. Cheesecake ini ada berbagai rasa, dan harganya start 22000, bisa makan on the spot atau dibawa pulang.  Minuman segar yang ada di foto saya ini namanya Frio, pada dasarnya adalah Iced Flavored Tea. Yang saya pesan ini Strawberry dan Peach. Untuk Strawberry Frio, ada potongan strawberry dan selasih di dalamnya. Untuk Peach Frio, ada potongan peach kalengan di dalamnya. Seger dan dikemas dengan menarik.

Cheese

Overall, rate saya untuk kafe ini 3,5 dari 5.  Harganya affordable, sekitar 6000-80000 rupiah, dan tempatnya cozy and clean.  Tempat parkirnya lumayan menampung, space kafe juga luas dengan musik lounge asik dan akustik ruang yang mendukung. No wonder, konser mini Sungha Jung diadakan disini.  Pelayanannya cepat dan ramah, dan memiliki EDC berbagai bank, didukung juga sama interior yang oke.  But seriously, dude, makanan disini gak terlalu mengenyangkan.  Memang enak, tapi porsinya tanggung. Lebih cocok untuk jam brunch (antara sarapan dan makan siang) atau coffee break, atau supper (sebelum atau sesudah makan malam), dan bukan untuk jam makan utama.  Jadi, lebih cocok untuk bener-bener hangout atau nge-date dibanding untuk benar-benar cari makan. Have fun at Siete, then, folks!

When I Got Over My Ex, I …

Entah kenapa banyak yang curhat kepada saya soal mantannya, soal cintanya yang hancur berkeping-keping, soal pacarnya yang berselingkuh, soal pria incarannya yang tidak juga menampakan sinyal. Terkadang saya ingin menjerit : “I’m not signing up to be your Aunt Agony !”, bukan karena saya tidak mau mendengarkan keluh kesah sahabat, tapi karena saya tidak mau melontarkan jawaban yang menyakiti hati mereka. Dan sayangnya, hanya itu lah jawaban yang (kebanyakan) benar, kejujuran itu memang selalu merupakan pil pahit.

Tapi beberapa pertanyaan dapat saya jawab tanpa harus menggunakan sembilu dan mengorbankan sekotak tisu.  Salah satunya : “Bagaimana kamu tahu kamu sudah melupakan mantan kekasihmu ?”

1. Sangat jelas, kamu tidak lagi merasa kehilangan dia.  Kamu tidak lagi memikirkan sedang apa dia saat kamu sedang sendiri, kamu tidak lagi menangis memikirkan apa yang bisa kalian wujudkan andai kalian tidak berpisah, dan hal-hal galau yang dialami orang putus cinta lainnya.

2. Kamu MEMAAFKANNYA, atau setidaknya MERELAKAN KESALAHANNYA.  Kamu tidak lagi mengumpat di jejaring sosialmu tentang dirinya, dan terutama kamu cukup dewasa untuk menerima kembali permintaan pertemanannya.

3. Kamu tidak lagi melompat setiap ada yang menyebut namanya, atau melihat fotonya yang terselip, atau status update-nya yang muncul di halaman Facebook kamu.

4. Sangat wajar jika ada rasa aneh melihat dia sedang bersama pacar barunya, ini bukan kecemburuan karena kamu masih ingin memilikinya, tapi sekedar rasa bersaingmu terusik.  Namun jika kamu terdorong untuk menjelek-jelekkan sang pacar baru, ini tanda bahwa kamu masih merasa sedikit posesif.  Dewasalah, cukup berikan dia selamat dan restu semoga berbahagia.

5.  Last but not least, kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu.  Jika kamu sendirian, ada kemungkinan bahwa ada sedikit mekanisme pembatasan diri dari dirimu sehingga orang sulit mendekati kamu, kemungkinan karena rasa terikatmu dengan mantan.  Sekalipun kamu berpasangan, bukan berarti kamu telah melupakan mantanmu.  Saat kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu, saat kamu tidak lagi membandingkannya dengan mantanmu, saat kamu tidak lagi berpikir bahwa pacarmu bukan sekedar tropi yang menunjukkan bahwa kamu telah bertahan dan mendapat yang lebih baik dari mantanmu … itulah saat kamu benar-benar melupakan si dia yang telah berlalu.

Forgetting The Ex(es)

and trust me, I got over mine too 😀

did my DEFENSE offend you ?

***
ini sebuah kisah tentang saya Mrs. E, dan Mr. T.
Mrs E, dipanggil Estri, bernama panjang Esterogen, suka sekali berteman dengn wanita, namun dalam beberapa kasus ditemukan juga bergaul bersama pria. Mr T, dipanggil Eron, bernama panjang Testoteron, tentunya adalah men’s best friend.

Sebagai wanita, sudah seharusnya saya menerima kodrat saya untuk berteman dengan Mrs E, sayangnya kenyataan hidup mendorong saya untuk menolak tunduk pada Mrs E. Saya berkata pada Mrs E “I won’t be dominated by you” lalu memalingkan muka dan mencoba hidup meniru kaum Mr T. Instead of using my intuition, I use my logic.

Suatu hari Mrs E berhasil mempengaruhi saya untuk JATUH CINTA pada seorang pria. Tapi dengan kekeraskepalaan saya, saya berkeras menggunakan logika dalam suatu hubungan. Sang pria terus mengetuk pintu hati saya, dan saya berusaha mengabaikan godaan untuk membukanya. Saat Mrs E berhasil lagi mempengaruhi saya untuk membukanya, ups, tangan si pria sudah berdarah-darah saking lamanya mengetuk.

***

Yah, begitulah ilustrasinya.
Baru-baru ini gue nyadar bahwa gue udah bikin dinding yang lumayan tebal untuk membentengi diri dari dunia. Dulu gue pernah bilang “beberapa orang berlebihan dalam membentengi dirinya karena takut disakiti orang tanpa menyadari sikapnya itu justru menyakiti orang yang disangkanya akan menyakitinya itu”. So, I realized, in sum kinda hard way, that I did it too. Dan bukanlah hal yang menyenangkan untuk mengetahui bahwa kita sudah menyebabkan luka-luka itu, dan dengan pahit harus mengakui bahwa ternyata kita MEMANG egois. Atau gue aja kali yah yang egois ?
Hahaha …

So, setelah renungan itu, gue memutuskan untuk mencoba mengurangi pertahanan-pertahanan yang gak penting. Apalah artinya lecet kecil, kalo dengan lecet itu kita bisa menghindarkan orang yang kita sayangi dari memar ? Bahkan, mungkin kalau memang dicoba, dengan mengurangi ego gue dalam mempertahankan prinsip, lecet itu pun gak akan timbul.

Live high, feel freely, calculates properly. Dan mungkin hidup akan jadi lebih ringan dan cerah.
*ESQ mode*

wish me luck in life.

Dignity In Death; Live Like You Mean It

Gue teringat sebuah film yang pernah gwe tonton, judulnya “Rory O’Shea Was Here” dan internationally known as “Inside I’m Dancing”. Pernah gwe rekomendasiin untuk ditonton nih di salah satu blog, and inspire me buat bikin satu post yang benilai positif dan mengajak berbuat kebaikan, mengingat tagline nih film, ‘Live Like You Mean It’. Main Role-nya dijabanin aktor yang jadi Mr. Tumnus di Narnia, disini dia perannya namanya Rory O’Shea. Ganteng gila, dan aktingnya bagus, film laennya yang udah pernah gwe tonton tuh “Last King Of Scotland”, “Penelope”, sama “Wanted”. Yup, he’s James McAvoy.

Rory OShea Was Here

Inside I

Film ini tentang orang-orang cacat gitu, en Rory is a patient of muscular dystrophy, specifically Duchenne Muscular Dystrophy. Satu2nya yang dia gerakkin itu dua jari, tangan kanan, otot muka (kepalanya bahkan gak bisa bergerak), en satu “bagian tertentu” yang bisa bergerak kalo dirangsang. Hahahahahaha…

Baca entri selengkapnya »

To all my friends!

This thing came up in my mind when I woke up this morning and found a message in my cell phone from a faraway friend, encourages me to wake up and face this day zestfully. Just that one simple sentence brightened up my day today. It takes me back into my memories, where everything you’ve done for me saved as a treasure. And this memory is playing in my mind like a film without sound.

Some of you come up since I was a little girl, some of you when I was a pre-teen drama queen, and some of you showed up when I am what I am now, a rebel teenager messing up in my university. I knew you would always be someone I could trust. I felt your presence through the good times and the bad. When you saw me getting nowhere, when my star began to fade and I found the life’s too hard to take, I looked inside me and you were there keeping the faith you always had about me, encourages me. You touched my heart and my soul, you show me the way in the thing I should do. I always knew that I’d be lost without you.

Baca entri selengkapnya »