Postcards From Lampung Carnival 2014

Nah ini foto Festival Krakatau loh. Foto yang dari saya menyusul.

 

visit our site and follow our IG @zeabrizkie for fashion stuffs!
150525113058_newlogo-POLKAlight

Jejak BOcahiLANG

Agenda tahunan bertajuk “Lampung Culture & Tapis Carnival IV” yang diselenggarakan pada tanggal 31 Agustus 2014 menjadi penutup dari rangkaian acara Festival Krakatau 2014. Panggung yang sudah tertata rapi di depan Mahan Agung, Bandar Lampung mulai dipenuhi para penonton sejak pukul 13.30 WIB. Mereka tidak menghiraukan terik matahari siang itu. Hanya menunjukkan niat dan minat untuk melihat karnaval bertaraf nasional tersebut.

Lihat pos aslinya 311 kata lagi

Krakatau Night Fashion Show by BRIZKIE – Krakatau Festival 2014

Siapa yang belum lihat foto-foto Krakatau Night 2014 dalam rangkaian penutupan Krakatau Festival 2014?

Ini foto-fotonya. Sempat mengira acara ini open for public eyes dan semua fashionista Bandar Lampung bisa menikmatinya, tapi ternyata khusus undangan ya. Yah, yasudahlah, mungkin eksklusifitas memang masih jadi kebutuhan. Terus terang, panitianya masih banyak kurangnya dibanding lebihnya, terutama di bagian prepping, information, scheduling, dan lain-lain, tapi mungkin karena faktor pengalaman.

Misalnya, I’m a part of the show, tapi gak dikasih daftar itinerary jelas. Gak dapat seat, we just wait in the room. Sejujurnya ini aneh, karena desainer itu bukan entertainer, tapi creative entrepreneur. Waktunya banyak yang mulur dari jadwal. Desainer gak bisa menentukan sequence model yang keluar, dan siapa pakai baju yang mana. Model masih kurang profesional dari segi waktu, manners, stances, juga postur. But yeah, they’re not models, professionally, they’re Muli Lampung. Kalau di Jakarta, itu sejenis None Jakarte gitu. Tapi banyak Muli yang masih baru dan pelajaran modelling-nya mungkin masih belum tamat banget. Who am I to whine. I can’t even walk straight.

Tapi overall, I enjoy the night quite much. Silakan dinikmatin baju kasual ready-to-wear dengan sentuhan sulaman Tapis cantik dari kami. It was a wonderful evening and the poolside of Sheraton Hotel Bandar Lampung helped the ambience. I want to make it look chic and simple, and modern-ish, so the models walked along with L’Apputamento by Ornella Vanoni and Carmen Consoli serenading in the background. Sempet nanya dapat musik apa waktu sedang latihan blocking (yang baru dilakukan 2-3 jam sebelum acara), dan panitia cuma mangap-mangap aja, so I whipped this song quickly because I always had this secret ambition to have this song on one of my show. Felt like I’ve brought Lampungnese Tapis to some Italian riverside. Happy feels.

Untuk yang mau lihat langsung, kami ada gelaran di Jakarta akhir Oktober 2014 nanti. Stay in tune.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

Tribuana Ardhia Garini, Runner Up 1 Putri Pariwisata Indonesia 2013, hosting Krakatau Night wearing BRIZKIE by Zea Zabrizkie's 2013 collection.

Tribuana Ardhia Garini, Runner Up 1 Putri Pariwisata Indonesia 2013, hosting Krakatau Night wearing BRIZKIE by Zea Zabrizkie’s 2013 collection.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

With Mr. Sapta Nirwandar, the Vice Minister of Ministry of Tourism and Creative Economy of. The Republic of Indonesia.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

visit our site and follow our IG @zeabrizkie for fashion stuffs!
150525113058_newlogo-POLKAlight

Perubahan

Tidak pernah terlintas bahwa tawamu semakin berubah,
lebih keras, lebih riang, namun juga lebih gugup.

Tidak pernah terlintas bahwa genggaman tanganmu sudah berganti pola,
lebih erat, lebih hangat, namun juga lebih bergetar.

Semua tanda terasa bisu; mungkin karena acuhku, mungkin karena sudah sifatmu.
Keduanya hal yang membuat kita padu tanpa banyak ini itu.

Kupikir akan ada riak api menari berkelebatan di kepala, atau nada surgawi yang melayang turun di antara kita.
Seperti saat kedua kita bersua, seperti itulah puncak rasa yang seharusnya.

Kau tahu kompleksitas bukanlah hal yang kusukai dan misogyny sangat kubenci.
Maka kau tidak berlutut memintaku membuatmu utuh; kau menggandengku sejajar.
Sama tinggi, sama rendah.
Sama takut dan sama butanya terhadap langkah yang harus dilakukan selanjutnya.

Tak masalah.
Keutuhan menuntut pembelajaran.
Toleransi menerima kesepakatan demi kesepakatan; menganggap cacat laku jadi kewajaran, dan polah lugu jadi kenangan.

Tidak ada drama sebelum dan di saat segala yang ingin dipintakan berhasil diungkapkan, maka sewajarnya tidak ada drama selama jauh masa kebersamaan.

Ektoplasma

Adaku dalam ruang kenanganmu hanya seperti hantu.
Menetap tanpa pernah benar kau tatap.
Menggentayangi tanpa bisa menggerayangi.
Menggebu tapi selalu dibuat bisu.
Dan bagaimana aku memberimu rasa yang utuh jika setiap sentuh berujung keluh?

Sudah Matikah Empati Di Negeri Ini?

MotorBirunya Igfar

Sumber Foto : Merdeka.com Sumber Foto : Merdeka.com

Beberapa hari lalu, hati saya ngilu karena membaca sebuah berita di media on-line nasional dimana seorang penyandang disabilitas terpaksa duduk di lantai kereta karena kursi yang seharusnya di peruntukkan untuk mereka diduduki oleh orang yang sehat jasmani.

Lihat pos aslinya 523 kata lagi

Unending Love – Tagore

Ini adalah salah satu puisi yang (masih) (selalu) saya suka.  Puisi ini jadi terkenal karena dibacakan Gregory Peck di pemakaman Audrey Hepburn. Di bawahnya terjemahan kasarnya aja, maaf kalau jadi kurang puitis. Namanya juga usaha.

Gambar

Cinta Tanpa Akhir
Sepertinya sudah tak terhitung cintaku padamu,
dalam berbagai bentuk, dalam berbagai kesempatan,
dalam kehidupan sesudah kehidupan, dalam masa sesudah masa, selamanya.

Hatiku yang termantra telah berulang kali membuat untaian kidung,
yang kau terima sebagai sebuah hadiah,
dan kau lilitkan di lehermu dalam berbagai bentukmu.
Dalam kehidupan sesudah kehidupan, dalam masa sesudah masa, selamanya.
Tiap kali kudengar sejarah lama tentang cinta, tentang rasa sakit yang lama,
tentang kisah kuno perpisahan atau kebersamaan.
Selagi aku menatap dan menatap ke masa lalu, kau muncul di akhirnya.
Dibalut dalam cahaya bintang penunjuk arah yang menembus gelapnya waktu.
Kau menjadi gambaran sesuatu yang diingat selamanya.
Kau dan aku telah mengapung kesana dan kemari
dalam arus yang mengalir dari sumbernya,
di dalam inti waktu, cinta dari seseorang kepada seseorang lainnya.

Kita telah berlakon bersama dengan jutaan pecinta lainnya,
berbagi rasa manis malu-malu yang sama dalam pertemuan,
tangisan putus asa yang sama dalam perpisahan.
Cinta lama, namun dalam bentuk yang terus terbarui dan terbarui selamanya.
Hari ini ia menumpuk di kakimu,
menemukan akhir di dalam dirimu,

Kasih tiap-tiap manusia baik di masa lalu dan selamanya;
Suka cita yang universal, pilu yang universal, hidup yang universal.
Kenangan semua cinta menjadi satu dengan cinta satu milik kita,
dan dengan setiap lagu para pujangga di masa lalu dan selamanya.

Tiga

Kamu ingat bagaimana kita mempelajari angka?
Menyamakannya dengan lekuk benda di sekitar kita.
Maka kamu adalah garpu dan aku adalah bangku.
Lalu kita akan berbangga dan berceloteh pada para ibu.

Kamu selalu lebih dahulu,
lalu aku menyusul malu-malu.
Cuma kamu Adam yang kurelakan mengungguliku.
Karena bagiku, itulah nyatanya dirimu.

Lalu kau menyelesaikan satu perlombaan yang tak pernah aku inginkan untuk kau menangkan.
Satu lintasan yang tak seharusnya secepat itu kau selesaikan.

Aku hanya menganga menatapmu mengoyak pita di garis akhir, menandai finalisasi.
Surga sejenak kabur dalam gempita dan konfeti.
Mereka menyambut pemenang barunya menembus lini.
Aku tersaruk, tidak tahu bagaimana harus melanjutkan lari.

Retro

Gilang gemilang masa yang telah beku menyisakan imaji-imaji rapuh di sudut-sudut kumuh.
Mengejar ke belakang panji-panji yang sudah lusuh.
Terlalu takut berderap maju memulai dari abu.
Berpikir dimensi lalu lebih baik dari kekinian revolusi yang semu.
Terperangkap selamanya dalam lampau waktu yang berubah bisu.

Rongga

Ruang-ruang kosong dalam tiap hela nafas adalah sunyi yang tak lekang dalam pencarian.

Namun apa arti menjadi utuh jika tidak merasa butuh?

Buta dalam menentu akhir, maka tersesat dalam kelana.
Mengerut di kala senja, luruh menghilang tanpa makna.

Syahdu didera malu.
Duniamu layu bersama waktu.

Terlewat

Tidak ada yang menyalahkan sajak takabur yang gagal menyampaikan implisitas afeksi yang terkubur.
Terungkap ketika ia telah mati terbujur.
Serba terlanjur.

Sebab esensi resistansi atas sebuah titipan asa akan selalu terbungkam dalam sangsi.
Bukan sesuatu yang dapat direduksi menjadi satu deduksi.

Tidak ada jawaban manunggal tentang sebab-sebab kisah yang terpenggal.
Seperti memperdebatkan gugurnya daun yang masih sekal; karena angin yang bertiup atau karena pohon tak lagi menginginkan ia tinggal.

« Older entries