90 Minutes of Heavenly ‘Pain’

Shiseido

 

Kemarin sempat berkali-kali berurusan dengan make up, rasanya kulit langsung capek dan lusuh. Akhirnya dengan kesadaran penuh, saya memutuskan untuk facial.  Melihat kondisi parkiran Natasha dan Erha yang membuat saya malas mengantri, bahkan untuk memarkir pun malas, saya memutar otak mencari solusi. Saya tidak mau dong muka dijamah obat sembarangan. Otang yang pikun ini kemudian mencetuskan untuk mencoba Shiseido Professional Facial yang sering saya lihat setiap kali berbelanja di Setiabudi Supermarket.

Antrian tidak panjang, namun sayangnya terapisnya masih makan siang saat saya datang.  Saya dijanjikan untuk ditelepon apabila sang terapis sudah kembali dari lunchbreak, kira-kira 20 menit. Sambil mengisi waktu, saya berburu buku bargain price di Periplus. Tepat 20 menit kemudian, saya ditelepon dan diminta untuk kembali ke Shiseido. Sang terapis, kecil-mungil-cantik-masihmuda, sudah siap dengan selembar leaflet di tangan dan meminta saya memilih paket yang saya inginkan. Ada macam-macam, mulai dari Anti-Aging sampai Whitening. Tapi yang saya pilih adalah Anti-Stress karena rasanya selain kusam, wajah saya juga terlihat lelah.  Harganya juga reasonable, dengan produk yang pernah menggunakan Angelina Jolie dan Agyness Deyn sebagai wajah promosi mereka, cukup Rp. 200.000 anda mendapat pelayanan kualitas prima selama 90 menit.

Terapis saya ramah sekali. Apabila saya meringis, maka dia akan menghentikan kegiatannya dan mencari solusi bagaimana ‘mengorek’ wajah saya tanpa membuat saya sakit. Sepanjang komedo dibersihkan, wajah terus diuap supaya pori tetap terbuka, dan kebanyakan menggunakan motode suction dibanding menggunakan needle. Selesai dibersihkan, ditotok, dikorek, dimasker, dibersihkan lagi, dilembabkan, wajah saya kembali dimassage, diikuti dengan memassage pundak, lengan, punggung, bahu dan leher sehingga tidak kaku.  Saya pulang dengan hati puas dan wajah bersinar. Rasanya saya sudah menemukan tempat facial yang saya sukai.

Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

When I Got Over My Ex, I …

Entah kenapa banyak yang curhat kepada saya soal mantannya, soal cintanya yang hancur berkeping-keping, soal pacarnya yang berselingkuh, soal pria incarannya yang tidak juga menampakan sinyal. Terkadang saya ingin menjerit : “I’m not signing up to be your Aunt Agony !”, bukan karena saya tidak mau mendengarkan keluh kesah sahabat, tapi karena saya tidak mau melontarkan jawaban yang menyakiti hati mereka. Dan sayangnya, hanya itu lah jawaban yang (kebanyakan) benar, kejujuran itu memang selalu merupakan pil pahit.

Tapi beberapa pertanyaan dapat saya jawab tanpa harus menggunakan sembilu dan mengorbankan sekotak tisu.  Salah satunya : “Bagaimana kamu tahu kamu sudah melupakan mantan kekasihmu ?”

1. Sangat jelas, kamu tidak lagi merasa kehilangan dia.  Kamu tidak lagi memikirkan sedang apa dia saat kamu sedang sendiri, kamu tidak lagi menangis memikirkan apa yang bisa kalian wujudkan andai kalian tidak berpisah, dan hal-hal galau yang dialami orang putus cinta lainnya.

2. Kamu MEMAAFKANNYA, atau setidaknya MERELAKAN KESALAHANNYA.  Kamu tidak lagi mengumpat di jejaring sosialmu tentang dirinya, dan terutama kamu cukup dewasa untuk menerima kembali permintaan pertemanannya.

3. Kamu tidak lagi melompat setiap ada yang menyebut namanya, atau melihat fotonya yang terselip, atau status update-nya yang muncul di halaman Facebook kamu.

4. Sangat wajar jika ada rasa aneh melihat dia sedang bersama pacar barunya, ini bukan kecemburuan karena kamu masih ingin memilikinya, tapi sekedar rasa bersaingmu terusik.  Namun jika kamu terdorong untuk menjelek-jelekkan sang pacar baru, ini tanda bahwa kamu masih merasa sedikit posesif.  Dewasalah, cukup berikan dia selamat dan restu semoga berbahagia.

5.  Last but not least, kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu.  Jika kamu sendirian, ada kemungkinan bahwa ada sedikit mekanisme pembatasan diri dari dirimu sehingga orang sulit mendekati kamu, kemungkinan karena rasa terikatmu dengan mantan.  Sekalipun kamu berpasangan, bukan berarti kamu telah melupakan mantanmu.  Saat kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu, saat kamu tidak lagi membandingkannya dengan mantanmu, saat kamu tidak lagi berpikir bahwa pacarmu bukan sekedar tropi yang menunjukkan bahwa kamu telah bertahan dan mendapat yang lebih baik dari mantanmu … itulah saat kamu benar-benar melupakan si dia yang telah berlalu.

Forgetting The Ex(es)

and trust me, I got over mine too :D

VOTE For My International Summer School Contest Profile

Ziggy Zeaoryzabrizkie’s International Summer School Contest Profile

http://shar.es/XMFQe

Help Ziggy Zeaoryzabrizkie win a summer school scholarship at Concordia University in Montréal, Canada. Vote for Ziggy’s Profile now!

Thank you for supporting :)

Disleksia Mereka dan Budaya Membaca Anak Indonesia

Hari ini gue ke sebuah education center dengan tujuan untuk diwawancara jadi tenaga pengajar disana. Tempat itu adalah lembaga pendidikan super spesial, khusus mengajar anak-anak dengan kekurangan, which was dysleksia. Anak-anak yang mengalami kekurangan ini mengalami keterbelakangan dalam perkembangan otak kirinya, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Sebagai gantinya, mereka biasanya memiliki otak kanan yang SANGAT berkembang, sehingga mereka biasanya jenius dalam hal seni, bisnis, atau mekanikal.

Sedih banget deh, tadi waktu gue break di luar ruang wawancara sambil ngerjain knowledge test, ada murid disitu yang lagi diajarin ngebedain kanan kirinya, ini salah satu ciri lain anak disleksia. Selama wawancara, gue juga dikasih gambaran beratnya ngajar mereka. Mereka sulit nyalin apapun yang kita tulis di papan tulis, apalagi yang kita bacain doang. Setelah mereka catet pun, mereka gak ngerti apa itu maksud tulisan di catetan mereka (gue dan temen-temen kampus gue juga kadang mengalami ini, hahaha …). Gue dikasih tau bahwa cara mengajar paling efektif adalah dengan multisensori, terutama rabaan. Kasian ya Allah, mereka harus belajar huruf dengan meraba playdough atau clay yang mereka buat sendiri untuk mengenali huruf itu kalo lagi baca di lain waktu.

Di sisi lain, banyak banget anak-anak Indonesia yang males banget membaca, padahal mereka memiliki kemampuan untuk itu. Gue gak ngerti kenapa di Indonesia, membaca itu sama sekali belum menjadi budaya. Setiap kali seseorang bilang dia hobi membaca, selalu di-cap nerd (kalo bacaannya komik dan teenlit; kalo bacaannya novel atau buku filosofi supertebal, di-cap untolerably super nerd *lebay*). Why oh why, kalian semua bisa open minded sama budaya kehidupan malam, pakaian mini, homoseksual, dan lain sebagainya, tapi masih meremehkan budaya membaca ?

Tuhan, selamatkanlah anak Indonesia dari kebodohan karena kemalasan mereka sendiri !

Dua Puluh Dua

kita masih saja berbeda,
masih saja tidak ada kata mengalah,
masih saja sulit saling memaafkan,
masih saja terus mengungkit masa lalu,
masih saja sering bertengkar.

kamu masih saja membenci rambutku yang tidak disisir,
masih saja tidak mau menonton serial drama yang kusukai,
masih saja bertampang sebal kalau aku masuk toko sepatu,
masih saja mengomel saat aku membaca selagi makan,
masih saja tidak mengerti kenapa aku suka sekali menulis hal-hal semacam ini di internet.

dan aku masih saja tidak mengerti apa menariknya menonton bola yang direbutkan sebelas orang sekaligus (sebelas kah ?),
masih saja bingung kenapa kau tidak suka sajian laut,
masih saja tidak terima kalau kau mengganti musik yang kusukai,
masih saja tidak habis pikir kenapa pesan singkat darimu harus selalu sangat singkat.

tapi tetap saja aku mengagumi kamu,
tetap saja kamu memuji apa adanya aku,
tetap saja kita bersama.

entahlah apa alasannya,
tapi sekarang sudah bulan keduapuluhdua.
SELAMAT !

Aldelas & I

love you, 1919-ku !

Pararel

hari ini ibu menyuruhku berdoa,
“berdoalah, nak,
untuk jodoh yang baik,
untuk pekerjaan yang baik,
untuk masa depan yang lebih baik.”

aku pun ingin berdoa,
meminta-Nya untuk menjaga keluargaku,
menjaga bangsaku dari kelaliman saudaranya sendiri,
menyelamatkan saudara-saudaraku dari azab-Nya walau mereka pantas atasnya.

aku hening sejenak,
lalu melanjutkan mengetik tugas akhir ini.

ibu bertanya ;
“cepatnya, nak, untuk doa sedemikian banyak ?”

aku berkata :
“Tuhanku hidup dalam gelombang waktu pararel,
dalam satu detik dia dapat melakukan sejuta hal,
mengawasi milyaran ciptaannya,
dia akan dapat merangkum segala harapku,
dia tahu semuanya,
karena selama ini dia selalu mendampingiku.
Tadi aku hanya memberitahunya bahwa semuanya tidak mungkin tanpa restu-Nya.”

 

Bandung, 9 November 2010.

tundukan kepala sejenak untuk Indonesia.

Rambut

HAIR
Malam ini aku menyapu helaian rambut yang berguguran,
entah itu rambutku, atau juga rambutmu.
entahlah.
nampak sama.
aku tidak pernah mengerti pasangan yang menggugat kesetiaan karena helai rambut yang tertinggal,
mereka semua tampak sama.
mungkin mereka mengukurnya dengan penggaris nanometer.
terserah mereka.

kau tergopoh membawa lap pel.
kau bilang sia-sia menyapu rambut tanpa mengepelnya.
dan kau pun menyeka setiap inci kamar,
meraup tiap helai rambut yang meliuk di lantai.

malam itu kita bercinta.
memang menyenangkan rasanya,
bercengkrama di atas ubin bersih yang dingin.
film yang diputar di layar kecil itu
tidak mengalihkan perhatianku dari tanganmu yang mengelus kepalaku.

ternyata rambut kembali menguasai keramik putih yang baru kau pel dengan cermat.
seakan mereka memiliki jiwa sendiri,
dan bosan bersemayam di kepala kita.
proses pun berulang,
kali ini tanpa bercinta.

keesokan malamnya aku membungkus rambutku,
dan rambutmu,
dengan plastik kedap pembungkus makanan.
setidaknya besok pagi aku tidak harus menyapu lagi.

Bandung, 9 November 2010.
Sampo anti rontok itu berdusta.

Saya VERSUS Dunia

Kata rekan saya, saya ini memang sesat, tapi banyak yang bisa dipelajari dari diri saya.

Entah apa maksudnya, saya bukan subjek observasi psikologis, saya tidak mengirimkan written consent. Tapi Facebook membuktikan kelabilan psikologi saya dapat terlihat dari update status (ya, status-status tidak penting itu).  Konon saya, menurut si deskripsi teman, mengalami moodswing yang luar biasa di setiap kalinya.  Selalu sangat senang, sangat sedih, sangat marah, atau sangat kesal.  Bukan perasaan yang setengah-setengah.

Ciri khas berikutnya adalah; mysterious subject.  Sulit menebak apa yang membuat saya senang, sedih, kesal atau marah.  Kecuali pada saat-saat saya menyebut subjek, bahkan melakukan tagging, yang sangat langka juga; kebanyakan hanya untuk menggambarkan kegiatan saya.  Jika ditanya, seringnya marah kepada siapa ?

Astaga, saya sering marah kepada DUNIA !

Maaf jika saya menjeneralisasikan manusia, tapi ya, saya benar-benar marah pada dunia (terkadang).  Pencemaran lingkungan, kerusakan moral, hedonisme, semua.  Saya benci wanita, saya benci pria.  Meski sering dianggap feminis, tetapi sesungguhnya saya MALU pada kaum saya yang tidak mandiri, tidak kokoh itu.  Dibilang tidak feminis, saya BENCI kaum pembela patriarki yang arogan dan tidak rasional.  Ya, saya ingin melawan dunia, setidaknya 98% dunia, bukan karena saya yang paling benar, tapi karena mereka sudah SANGAT SALAH dalam menjalani hidup.

Roda, Friksi, dan Sepeda

BIKE

tidak ada yang salah dengan sepeda ini,
rantainya masih baru,
tidak ada cela pada roda dan jerujinya,
tidak, tidak salah.

kau coba dorong dia,
dia pasti berjalan,
menggelinding bebas bagai tiada hambatan.

kamu menoleh,
dan menemukan masalahnya di mataku,
“kenapa tidak kamu kayuh ?”

kukatakan :
“beban dunia di pundakku
membuat kayuhan ini tidak berarti
untuk mengalahkan friksi”.

 

 

Bandung, 9 November 2010.
Lelah membuat skripsi,
bukan salah variabelnya, tapi salah subjeknya yang sedang merasa terbebani.

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.