Hilang

Jemari-jemariku mendentingkan kabar kerinduan yang sumbang tanpa tersahut.
Mungkin namaku telah terlupa di ujung lidahmu, mungkin wajahku telah lebur dalam kabut.
Apapun itu, kita tidak pernah saling memiliki, kecuali di satu malam ketika genggaman kita saling terpaut.
Lalu kita membisu, karena apa yang berceracau di dalam tidak mampu kita sebut.

Saat aku mulai mencintai kamu, aku mengambil kesempatan. Saat aku meninggalkan kamu, itu adalah pilihan.
Walaupun sesungguhnya tiada yang benar-benar aku lepaskan, semata kemesraan fiktif tanpa kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: