Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Mencerna Senja

Seandainya saja matahari tidak terlalu cepat menyerah kepada barat, mungkin kita bisa menikmati senja dengan lebih lama. Aku lelah tergopoh setiap jarum menunjuk seputaran angka lima; menuju beranda dengan terengah demi menikmati merah yang berlangsung beberapa menit saja. Rona lembayung yang diberikan langit yang tersipu itu tidak dapat disaingi oleh pagi; pagi cenderung lebih pucat, lebih kuning, lebih biru. Aku ingin merah, aku ingin senja.

***

Dia menyukai senja. Sangat menyukainya, mungkin melebihi sukanya kepada aku yang biasa-biasa saja. Seandainya aku memiliki sedikit saja semburat senja, mungkin ia akan meluangkan kata untuk bercerita tentang kita di antara cerita-cerita senjanya. Aku pernah menikmati senja bersamanya, merasakan jatuh cinta menyaksikan matahari berdarah-darah menyerah ditelan horison yang kelabu. Ada sesuatu yang romantis tentang surya yang meleleh, lalu menghilang. Tapi senja selalu mengingatkanku kepadanya, dan dia kepada senja. Tapi baginya, senja semata mengingatkannya kepada senja, dan aku hanyalah aku, yang hanya diingatnya ketika aku menghalangi retinanya menangkap senja.

***

Aku tidak pernah mengerti kenapa bisa dia merasa cemburu terhadap senja. Senja bukan manusia, bukannya aku berselingkuh atau apa. Terobsesi katanya. Salahkah mengagumi sesuatu yang begitu indah? Tapi dia selalu ingin menjadi yang nomor satu, selalu ingin menjadi pusat semestaku, bahkan mungkin melebihi diriku. Lucu, cemburu terhadap kejadian spektrum cahaya, bahkan terlalu sureal untuk kutertawakan.

***

Pukul tiga, sekitar dua jam lagi dia akan berlari menuju beranda untuk menyambut senja. Matahari sedang terik di atas kepala, bersuar tinggi dengan congkak, seolah lupa bahwa nantinya ufuk akan melumatnya.

Pukul empat, matahari mulai melayang loyo. Aku berlari menuju atap, beranda tidak mampu membantuku meraih.

***

Pukul lima. Mendadak semua terasa dingin. Apakah ini khayalanku atau di luar jendela diam-diam langit sudah menjadi gelap ? Ini baru pukul empat, senja pasti ingkar janji apabila kelam turun sebegini cepat. Ada sesuatu, entahlah, rasanya malam pun akan mengucap permisi apabila ingin bertamu lebih awal. Mungkin dengan guntur yang mengetuk begemuruh di tengkuk … tapi ah, tidak ada. Mungkin aku harus memeriksa beranda.

***

Matahari memang lemah, ternyata. Kukira dengan segala kecongkakkannya, hal ini akan lebih sulit dieksekusi. Tapi toh tidak. Saat ini sang surya yang dibangga-banggakan pagi terkulai lemah di telapak tanganku. Kulit yang menyelimuti tanganku jadi berwarna senja.

***

Kutemukan dia di beranda. Sedang terkekeh geli menatap cahaya cair yang menggeliat di tangannya. Senyumnya tampak gila. “Aku telah mengambil matahari”, katanya, “sekarang aku akan menjadi senja yang selalu kamu puja”. Lalu dia menelan matahari.

***

Matahari tidak memiliki rasa, hanya ada rasa panas dan pekat yang tidak kuhiraukan, saat ini aku terlalu terpesona menikmati matanya yang jernih terbelalak menatapku. Rasanya baru kali ini dia benar-benar menghujamkan pandangnya kepadaku, tanpa dibutakan kegemarannya akan senja. Lalu lidahku mencecap rasa tembaga.

***

Aku tidak tahu harus bagaimana saat senja mulai meleleh di sudut bibirnya. Lalu dari hidungnya. Lalu dari matanya. Aku tidak mengerti apakah ini awal dari trauma, atau semata terpesona.

Senja terus meleleh dari setiap celah di tubuhnya. Dia hanya tertawa, tertawa, tertawa. Gelaknya menggema, lalu sunyi. Senja yang menggeleguk dari sisa-sisa tubuh yang biasa kurengkuh masih terus mengalir, mengalir, mengalir. Kemudian aliran senja itu mengambang menuju langit, sebagian menghampiri, mungkin mengucap selamat tinggal, menggenangiku semata kaki.

Hangat. Merah. Amis. Darah. SENJA !

Gambar

Fase gotik. Atau sekedar terpengaruh lagu Copper Down.

Balada PETERPORN antara Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari

Ariel Peterpan ngeluarin koleksi terbaru, bukan lagu, tapi video.  Sayangnya, belum sempet saya liat si video, udah di banned aja.  Hahaha ..

Gara-gara kecurian harddisk eksternal, nama baik Ariel Peterpan luluh lantak.  Yah, walaupun saya juga belu pernah menganggap Ariel baik-baik sih kalo melihat pengalaman dia dengan wanita.  Dulu sempat ada isu dengan Andhara Early, belum selesai isunya, Sarah Amalia, sang mantan istri, menuntut adanya ijab kabul karena jabang bayinya sudah menendang-nendang minta dikenalkan pada ayahnya.  Sudah jelas, bahwa Ariel adalah salah satu penganut FREE SEX.

Kali ini juga terulang kasus berlapis.  Belum selesai kasus video yang muncul paling awal, yaitu dengan Luna Maya, muncul lagi video Ariel dengan Cut Tari.  Kedua wanita berkelit dengan mata berkaca-kaca menahan malu.  Roy Suryo memilih diam, mungkin karena kali ini kebenaran terlalu menyakitkan untuk diungkap.  Silent consensus Om Roy bikin thread kaskus yang bilang kalo itu 99% ‘mirip’ Luna Maya dan Ariel makin menjadi-jadi.  Postingan ahli telematika dadakan juga makin banyak, salah satu sumber saya disini .  Kalo saya bisa SMS Luna Maya atau Cut Tari, saya suruh mereka suap aja itu Om Roy biar ga bikin publik curiga, bilang aja videonya PALSU gitu, Om Roy.

Heh, belum selesai lagi itu dua kasus, muncul lagi sederet nama wanita cantik yang langsung bikin downloader film biru se-Indonesia berdebar-debar menanti uploadan sang pencuri harddisk.  Wanita tersebut antara lain Melly SHE, Ratu Felisha, Sarah Amalia, Aura Kasih, dan bla bla bla, yang pasti tidak ada Ziggy Zeaoryzabrizkie di antaranya.  Saya tidak tahu mau menyalahkan Ariel yang bodoh sekali dalam menyimpan barang-barang seperti harddisk yang memuat video pribadi atau karena bodoh sekali masih harus menyimpan video seperti itu (padahal kalau mau mengulang kenangan kan tinggal SMS aja para wanita itu); atau menyalahkan para wanita yang mau bugil di depan kamera; atau mau menyalahkan saja semuanya sekalian karena terjerat hawa nafsu badaniah ?  Wah, pasal berlapis !

Indonesia oh Indonesia, baik pejabat sama selebritisnya sama-sama tukang berkelit kalo dimintai pengakuan.  Sama-sama bobrok moralnya, sama-sama parah kinerjanya.  Bukan saya bilang si Ariel teh lagunya ga enak, sebagai musisi dia cukup membanggakan, sebagai public figure, dia belum pernah menjadi sosok panutan saya.

Menyingkirkan Penganggu dalam Hubungan Cinta

Kemarin, teman saya bertanya via testimonial, bagaimana cara membunuh pria yang mengganggu pacarnya melalui fasilitas online FRIENDSTER.  Saya akan mencoba menjawabnya dengan logis.

Cara membunuh PENGGANGGU dalam suatu hubungan sebenarnya sama saja dengan membunuh manusia biasa.  Anda dapat menggunakan pisau, pistol, granat, bahan peledak lain, tombak, busur, arsenik dan saudara-saudaranya, atau demi efek dramatis, gunakanlah SANTET.

Sebelum membunuh, ada baiknya anda menggunakan efek yang akan mengingatkan korban anda kepada motif anda membunuh dia.  Misalnya, katakan nama pacar anda, URL Friendster pacar anda, atau tunjukkan foto anda berdua dengan pacar anda, dan bukti-bukti testimonial atau SMS-nya yang mengganggu.

Membuat BOM juga akan terlihat keren, dah lebih kedengaran “berusaha”.  Ingat, bom molotov sudah ketinggalan zaman.  Siapkan mangkuk Pyrex, Potassium Chlorida (biasa digunakan sebagai pengganti garam), hidrometer, pemutih, air yang disuling, vaseline, lilin, dan bensin.  Untuk instruksi selanjutnya, silahkan buka situs resmi Amrozi.

Jangan lupa untuk mengurus SIM (Surat Izin Membunuh) kepada kepolisian dan meminta izin keluarga calon korban agar pembunuhan berlangsung lancar.  Saya sarankan pula untuk mengenakan baju berwarna gelap agar noda yang tertinggal tidak terlalu tampak.  Cara terbaik mencuci darah adalah, rendam pakaian dalam air hangat-hangat kuku, kucek sebentar, diamkan, lalu kucek lagi dengan SABUN MANDI (bukan deterjen).  Setelah itu, diamkan hasil kucekkan, baru dibilas.  Niscaya noda akan hilang.  Saya melakukan hal ini setiap bulan, dan terbukti ampuh!

Nah, selamat membunuh!

 

*sadis najis*

Sampan Senja

Tanpa ia berkata pun, aku tahu ia merasa penat;

sebagaimana ia tahu letih yang terpancar dari riak mataku…

Tak usah bertanya mengapa, atau bagaimana…

Perihnya, perihku; jenuhnya, jenuhku…

Dan kami jemi dengan semua..

Semuanya palsu, ilusi…

Layaknya kami…

“Aku muak,” seduku..

“Aku pun tlah melampaui ambangku,” ujarnya..

Lalu ia menatap nanar, hampa

ke dalam mataku yang sama kosongnya,

mencoba mengulik jawaban yang tampaknya tak ingin mengapung ke permukaan…

Dan kami terlalu sesak untuk menyelam, terlalu resah untuk mulai menggali…

Lalu kami mengambil dayung masing-masing,

bersampan menuju senja yang berlainan…

Dan sambil lalu, aku yakin ia mendengar lirih pesanku…

“Singgahku telah berakhir..

Tiada tambat yang mampu bertahan ketika digelayuti dua jerat sekaligus,

layaknya jangkar yang hanya membawa hanyut ketika ia congkak menahan kait banyak kapal…

Pilihlah satu saja sebelum kamu menjadi terlalu berkarat,

tapi bukan layarku yang tak hendak lagi dibelai anginmu…”

(sebuah pesan buat para pria tukang selingkuh!)