Swadaya

Raga yang dititipkan kepadamu belum hendak menjejak riak kefanaan dengan ringkih,
maka halangilah jiwamu merasa purna akan usia.

Tiap-tiap perkara yang terhanyut bersama waktu pada akhirnya akan menepi,
lelah menari bersama arus,
meraba citra elusif tentang mimpi yang dahulunya berkibar sebelum akhirnya angin meracau mati tepat di tepian buritan.

Tapi bukankah imaji di kepalamu masih nyata menderu?
Berhenti bersimpuh,
saat kau tertunduk mendamba kembalinya asa yang sekian lama menjadi cecapan tempatmu bergelayut menengadah,
maka dunia akan menginjakmu.
Masamu melaju bukan semata karena optimisme dan puja-puji,
melainkan karena kamu belum berhenti mencoba terus melangkah.

Berdirilah, beri lindap di atas mereka yang menghalangi cahayamu.
Karena kamu masih sempat menjadi lebih hebat.
Umurmu, toh, baru dua puluh empat.

Happy Birthday, ARALE!

Mereka bilang, "sebaiknya mulai sekarang lo dipanggil "Arale"",
seperti karakter kartun itu.
Aku bilang, "terserahlah".
Tiga minggu kemudian, mereka bawakan aku kue
yang tidak bertuliskan nama asliku.
Dasar gila,
makanya rasanya sulit untuk tidak tertawa saat bersama mereka.

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

Kata-Kata Yang Mengembara

Hari ini aku menuliskan kisah cinta sederhana, bukan dengan tinta, melainkan dengan rasa. Konon tiap manusia adalah sebuah cerita, masing-masing bermula dan berakhir semacam sebuah buku. Sayang sebuah buku tidak dapat membaca, maka hanya makna yang kemudian ia bagi rata supaya dunia bisa menikmati kisah yang dibawa. Dan demikianlah aku, kata-kata yang mengembara, suatu saat nanti akan ada kata-kata dari kisah-kisah baru yang melanjutkan cerita yang aku sulam sedemikian rupa. Apakah kata-kataku akan diingat, tergantung pesan yang terbagi.

Hari ini aku menuliskan kisah sederhana tentang sekumpulan prosa pengejewantahan diri yang mengembara, berharap menjadi legenda.

Tua Sebelum Tidak Lagi Fana

Ketika muda, saya pikir saya akan meninggal seperti kakek saya. Tenang, dalam usia lanjut, meninggalkan keluarga yang sudah mampu berdiri sendiri.  Belum lagi saya mencapai usia balig, seorang sahabat tiba-tiba saja meninggal; tidak ada yang menyangka, tidak ada yang mampu menjawab kenapa.  Rasanya ini sebuah tamparan bagi logika saya yang masih belia, mengapa manusia seumuran saya direnggut kehidupannya sebegitu awalnya ?
Ternyata tidak semua orang mendapatkan hak istimewa untuk menjadi TUA.

Saya tidak menangis sepanjang jenazah almarhum didoakan, dikubur; bahkan ketika prosesi tiga hari, kemudian tujuh hari; airmata saya tidak juga mengalir. Sebulan berlalu, setahun berlalu, dan saya baru sadar bahwa almarhum sudah benar-benar pergi karena tidak ada lagi telepon-telepon lucu yang biasanya berdering beberapa minggu sekali. Setelah kesadaran ini timbul, barulah saya menangis sejadi-jadinya.

Pagi ini, setelah kemarin mendapat kabar bahwa bibi saya meninggal, saya bangun mendapati SMS (banyak SMS) dan PM di messenger saya bahwa salah satu karib saya semasa SMA telah dipanggil oleh-Nya. Saya membacanya. Kemudian saya minum segelas air seperti biasa, sarapan, dan duduk lagi di tempat tidur. Saya baca semua pesan itu sekali lagi, saya memeriksa jejaring sosial, dan dengan hening saya terdiam. Seperti baru tersadar dari sebuah tenung, dengan panik saya menelpon teman yang lain. Dan berita ini benar adanya, bahwa teman saya ini memang sudah mengucapkan selamat tinggal kepada saya, kepada semua rekan-rekan dan keluarganya, kepada dunia … SELAMANYA.
Rasanya baru kemarin saya bercanda dengan almarhum di jejaring sosial, baru beberapa bulan ini dia membuat Twitter, bahkan rasanya baru kemarin juga saya dan dia menikmati hiruk pikuk permainan kami sendiri di studio musik, menyaksikan dia tanpa sengaja mematahkan simbal, bermain biliar bersama, dan menyaksikan dia menjadi ketua kelas saya di kelas sepuluh.

Waktu menunjukkan pukul 16.07. Sejak berita ini dikabarkan kepada saya sekitar jam 9 pagi, saya belum meneteskan airmata sama sekali. Tidak peduli kalimat duka macam apa yang saya tuliskan di media sosial, sesungguhnya logika saya masih belum dapat mencerna bahwa almarhum tidak akan pernah membalas lagi pesan singkat saya, tidak akan berbuka bersama, dan tidak akan bersilaturahmi lagi untuk Idul Fitri yang akan datang.  Semoga saya diberi kekuatan ketika logika saya sepenuhnya terbangkitkan.

Istirahat yang tenang disana ya, teman, kami akan sekuat tenaga mengikhlaskan.

Image

In loving memory of Ahmad Fuady ( 3 December 1988 – 11 June 2012 ),
a loving son, a caring brother, a cheering friend, an inspiration.

Kehilangan

"It is a curious thing, the death of a loved one.
It’s like walking up the stairs to your bedroom in the dark
and thinking there is one more stair than there is.
Your foot falls down through the air
and there’s a sickly moment of dark surprise." 

Image

Saya selalu ingat kutipan dari film The Unfortunate Events itu karena yah, begitulah rasanya ditinggalkan orang yang dekat dengan kita, terutama yang kita sayangi; seperti menapaki tangga dalam kegelapan yang tanpa kita sangka-sangka anak tangganya lebih sedikit dari yang kita ingat. Kaki kita menginjak akhir perjalanan; maka kita pun terkejut karena terlanjur berpikir bahwa perjalanan ini lebih panjang dari ini.  Saat kita menjalani hari bersama orang yang kita kasihi, kita berpikir, masih ada hari esok, tapi kemudian yang menanti ketika pagi merekah di hari berikutnya adalah kehampaan.

Kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal semacam ini terjadi dan bertanya-tanya apakah Tuhan sedang bercanda.  Kita akan merasa, kali ini Tuhan memberikan kita cobaan yang tidak mampu kita lalui.  Kita akan merasa kesepian, sendirian, terlupakan, dan ditinggalkan.  Kita akan meratapi hal-hal yang seharusnya dilakukan ketika sang almarhum masih ada dan hal-hal yang dapat kita lakukan seandainya almarhum dapat bertahan.  Kita berpikir bahwa tidak ada orang lain yang merasakan sakit seperti kita dan tidak akan ada yang bisa mengerti.

Rasanya seperti berjalan di sebuah lorong gelap tanpa cahaya, tanpa pendamping, tanpa ada niat untuk keluar dan terkadang berharap di dalam kegelapan itu ternyata ada lubang yang akan menelan kamu menuju pusat bumi sehingga kamu tidak perlu melihat matahari terbit dan menyadari bahwa kehilangan ini benar-benar nyata.

Saya tidak akan mengkritik duka kalian yang begitu dalam, karena demikianlah memang seharusnya perasaan manusia yang sewajarnya. Manusia adalah makhluk yang rapuh, dan beberapa di antara kita masih terlalu muda untuk mencerna bahwa waktu memang sesuatu yang sangat berharga karena Tuhan menganugrahkannya secara terbatas.  Tapi akan ada harinya, kalian harus bangkit, kalian harus kembali bersinar karena masih ada orang-orang di sekitar kalian untuk dikasihi, diperhatikan, dan dibahagiakan.  Mereka menyayangimu, mereka menyayangi orang yang telah pergi meninggalkan kamu, dan mereka juga berduka karena perpisahan ini.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS 2 : 155-156)
(”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”)

Kita tidak pernah bisa menebak rentang waktu yang dipercayakan Tuhan kepada kita dan orang-orang sekitar kita.  Relakanlah, bersabarlah, karena akan ada waktunya kita akan dipanggil pula ke tempat yang lebih baik di sisi-Nya itu.  Saat ini kita dikubangi haru, namun sadarilah bahwa kita tidak akan mau merenungkan penyesalan yang sama untuk kesekian kalinya; “seandainya waktu beliau masih mampu mendampingiku, aku …”, dan seterusnya.

Berdukalah, tumpahkan air mata kalian selama waktu berkabung yang diizinkan Tuhan, lalu tersenyum, dan jalani hari-hari sebaik mungkin, lebih baik dari sebelumnya, supaya kita tidak lagi digelayuti penyesalan ketika kita meninggalkan, maupun ketika kita ditinggalkan.

"At times the world can seem an unfriendly and sinister place,
but believe us when we say that
there is much more good in it than bad.
All you have to do is look hard enough.
And what might seem to be a series of unfortunate events may,
in fact, be the first steps of a journey." 

May you rest in peace, Beloved Aunt.

When I Got Over My Ex, I …

Entah kenapa banyak yang curhat kepada saya soal mantannya, soal cintanya yang hancur berkeping-keping, soal pacarnya yang berselingkuh, soal pria incarannya yang tidak juga menampakan sinyal. Terkadang saya ingin menjerit : “I’m not signing up to be your Aunt Agony !”, bukan karena saya tidak mau mendengarkan keluh kesah sahabat, tapi karena saya tidak mau melontarkan jawaban yang menyakiti hati mereka. Dan sayangnya, hanya itu lah jawaban yang (kebanyakan) benar, kejujuran itu memang selalu merupakan pil pahit.

Tapi beberapa pertanyaan dapat saya jawab tanpa harus menggunakan sembilu dan mengorbankan sekotak tisu.  Salah satunya : “Bagaimana kamu tahu kamu sudah melupakan mantan kekasihmu ?”

1. Sangat jelas, kamu tidak lagi merasa kehilangan dia.  Kamu tidak lagi memikirkan sedang apa dia saat kamu sedang sendiri, kamu tidak lagi menangis memikirkan apa yang bisa kalian wujudkan andai kalian tidak berpisah, dan hal-hal galau yang dialami orang putus cinta lainnya.

2. Kamu MEMAAFKANNYA, atau setidaknya MERELAKAN KESALAHANNYA.  Kamu tidak lagi mengumpat di jejaring sosialmu tentang dirinya, dan terutama kamu cukup dewasa untuk menerima kembali permintaan pertemanannya.

3. Kamu tidak lagi melompat setiap ada yang menyebut namanya, atau melihat fotonya yang terselip, atau status update-nya yang muncul di halaman Facebook kamu.

4. Sangat wajar jika ada rasa aneh melihat dia sedang bersama pacar barunya, ini bukan kecemburuan karena kamu masih ingin memilikinya, tapi sekedar rasa bersaingmu terusik.  Namun jika kamu terdorong untuk menjelek-jelekkan sang pacar baru, ini tanda bahwa kamu masih merasa sedikit posesif.  Dewasalah, cukup berikan dia selamat dan restu semoga berbahagia.

5.  Last but not least, kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu.  Jika kamu sendirian, ada kemungkinan bahwa ada sedikit mekanisme pembatasan diri dari dirimu sehingga orang sulit mendekati kamu, kemungkinan karena rasa terikatmu dengan mantan.  Sekalipun kamu berpasangan, bukan berarti kamu telah melupakan mantanmu.  Saat kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu, saat kamu tidak lagi membandingkannya dengan mantanmu, saat kamu tidak lagi berpikir bahwa pacarmu bukan sekedar tropi yang menunjukkan bahwa kamu telah bertahan dan mendapat yang lebih baik dari mantanmu … itulah saat kamu benar-benar melupakan si dia yang telah berlalu.

Forgetting The Ex(es)

and trust me, I got over mine too 😀

did my DEFENSE offend you ?

***
ini sebuah kisah tentang saya Mrs. E, dan Mr. T.
Mrs E, dipanggil Estri, bernama panjang Esterogen, suka sekali berteman dengn wanita, namun dalam beberapa kasus ditemukan juga bergaul bersama pria. Mr T, dipanggil Eron, bernama panjang Testoteron, tentunya adalah men’s best friend.

Sebagai wanita, sudah seharusnya saya menerima kodrat saya untuk berteman dengan Mrs E, sayangnya kenyataan hidup mendorong saya untuk menolak tunduk pada Mrs E. Saya berkata pada Mrs E “I won’t be dominated by you” lalu memalingkan muka dan mencoba hidup meniru kaum Mr T. Instead of using my intuition, I use my logic.

Suatu hari Mrs E berhasil mempengaruhi saya untuk JATUH CINTA pada seorang pria. Tapi dengan kekeraskepalaan saya, saya berkeras menggunakan logika dalam suatu hubungan. Sang pria terus mengetuk pintu hati saya, dan saya berusaha mengabaikan godaan untuk membukanya. Saat Mrs E berhasil lagi mempengaruhi saya untuk membukanya, ups, tangan si pria sudah berdarah-darah saking lamanya mengetuk.

***

Yah, begitulah ilustrasinya.
Baru-baru ini gue nyadar bahwa gue udah bikin dinding yang lumayan tebal untuk membentengi diri dari dunia. Dulu gue pernah bilang “beberapa orang berlebihan dalam membentengi dirinya karena takut disakiti orang tanpa menyadari sikapnya itu justru menyakiti orang yang disangkanya akan menyakitinya itu”. So, I realized, in sum kinda hard way, that I did it too. Dan bukanlah hal yang menyenangkan untuk mengetahui bahwa kita sudah menyebabkan luka-luka itu, dan dengan pahit harus mengakui bahwa ternyata kita MEMANG egois. Atau gue aja kali yah yang egois ?
Hahaha …

So, setelah renungan itu, gue memutuskan untuk mencoba mengurangi pertahanan-pertahanan yang gak penting. Apalah artinya lecet kecil, kalo dengan lecet itu kita bisa menghindarkan orang yang kita sayangi dari memar ? Bahkan, mungkin kalau memang dicoba, dengan mengurangi ego gue dalam mempertahankan prinsip, lecet itu pun gak akan timbul.

Live high, feel freely, calculates properly. Dan mungkin hidup akan jadi lebih ringan dan cerah.
*ESQ mode*

wish me luck in life.

Problema Dilematis Seorang Wanita Muda

Sebagai cewek, gue sering rempong ngeliat kaum gue sendiri. Sekarang misalnya gue memposisikan diri sebagai cowok, pasti gue banyak punya pertanyaan buat kaum paling rempong sedunia ini. Kenapa begini, kenapa begitu, misalnya.

#1 PENAMPILAN

  • Gue ga ngerti kenapa cewek harus ribut milih alas kaki, who the fakk give that much attention to your feet while you were hanging out ?
  • Gue ga ngerti kenapa cewek harus ribut soal rambut mereka, nanti juga bakal terbang-terbang lagi ketiup angin. Segala arah poni miring kemana juga ribet, terus mau dicatok dulu lah, curly lah, terus disemprot foam ato gimana lah biar awet, padahal rambut gitu malah sulit dibelai. Jadi buat apa dong ?
  • Gue ga ngerti kenapa cewek harus ribut milih baju dengan alasan ‘ini baru dipake ke tempat yang dituju’, fashion police itu fiktif, girls. Kalian ga akan ditilang cuma karena pake baju yang sama dalam jangka waktu seminggu.
  • Gue ga ngerti kenapa ada aja cewek yang masih suka make banyak-banyak make up, dari jauh aja udah kecium aroma foundationnya, buat apa sih dandan gitu kalo ga ke acara yang bener-bener penting ? Kalo gue cowok, males banget nempel-nempelin kulit, apalagi bibir gue, ke muka kalian yang penuh tumpukkan lengket buat ngedempul bekas jerawat yang bakal nambah lagi karena kulit kalian ga nafas.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek suka banget pake lipgloss sampe kayak baru makan gorengan, lipbalm aja cukup koq, yang penting bibirnya keliatan lembab en sehat.

#2 SECURITY

  • Gue ga ngerti kenapa cewek bisa manja banget minta dianterin kemana-mana, termasuk toilet, seolah gue ga ada kerjaan lain selain dengerin mereka pipis sambil menggosip.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek selalu takut dimacem-macemin sama cowok, tapi gampang banget lenjeh-lenjeh nyandar sama cowok. Memang mau jaga diri ? Jangan sambil kegatelan dong, tindakan sama tujuan ga seimbang.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek yang paling biasa minum pun sering pura-pura tepar di tempat dugem, emang pengen digrepe-grepe kah ?
  • Gue ga ngerti kenapa cewek sering pake rok mini, tapi selalu narik-narik roknya ke bawah. Cari perhatian apa kedinginan ?
  • Gue ga ngerti kenapa cewek bela-belain pake baju minim di musim hujan cuma supaya ada alasan minjem jaket pacarnya, ga kasian apa cowoknya kedinginan ?

#3 MANNERS

  • Gue ga ngerti kenapa cewek harus selalu ngomongin orang sama cowoknya yang jelas-jelas udah masang muka “should we talk about what color that girl supposed to wear while we are eating ?”. Kadang cewek itu ga bisa baca situasi banget.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek selalu maksain pacarnya buat nyambung sama temen ceweknya, padahal dia juga ga banyak menyesuaikan diri sama temen cowoknya, kalo emang ga cocok ya sudahlah.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek sering banget mengganggu pacarnya dengan SMS atau telepon ga penting, padahal cowok jarang banget yang cellphone addict. Kalaupun ada juga khan sebenernya males banget punya pacar banci henpon, pacaran aja sana sama HP lo !
  • Gue ga ngerti kenapa cewek selalu protes kalo cowoknya lirik-lirik dan muji cewek lain, they were being honest. And they say BOYS are the one with the EGO, kita sendiri males ngerasa kalah dari cewek lain.
  • Gue ga ngerti kenapa cewek selalu protes kalo nemu bokep di HP / PC / LAPTOP pacarnya, I mean, c’mon, itu normal banget. Lagian emang lo mau jadi sarana penyaluran mereka ?
  • Gue ga ngerti kenapa cewek harus selalu pergi berkelompok, dan kalo belum lengkap tuh belum mau beranjak. Ya udah sih, yang lamban mah tinggalin aja, suruh nyusul, it’s her risk anyway ~

Ini cuma gue aja sih, tapi kadang gue ngerasa terganggu aja kalo para wanita mulai rempong kayak gini. You spend too much time on unnecessary details. What a waste.

Andai kalian jadi pria, apa sih yang ganggu banget dari kebiasaan cewek ?

If I Were a Boy

WARNING : tulisan ini tidak memiliki fakta ilmiah yang mendukungnya, hanya CURCOL

Cewek adalah makhluk misterius.  Rada aneh juga, soalnya di setiap film, pasti tokoh yang misteriusnya itu cowok, terutama karena cewek terlalu memperlihatkan perasaannya.  Dan gue akuin, almost like 70% girls I know, even speak their minds.  Misalnya adek gue, nah dia ini paling sering ngoceh ga jelas.  Sampe kalo dia lagi mikir audible ga penting kayak “uhyuuuh ~”  atau “kyaamama ~”, dia bisa menyuarakannya walaupun situasinya ga sesuai.  Jarang banget ada cewek yang benar-benar misterius, sekalipun itu gue, yang dijuluki si muka wajan alias ekspresi datar …

Yang paling misterius dari cewek adalah, bagaimana mereka bisa TEGAS sekaligus PLIN PLAN ?

Pernah khan berhadapan dengan cewek yang ngambek dan secara tegas menyuarakan keinginannya ?

Pernah juga berhadapan dengan cewek yang bahkan ga tau mau ngapain saking plin plannya, bukan sekedar bingung ?

Nah, the thing is, BOYS, menurut gue, cewek itu ga pernah tahu mereka itu sebenernya mau apa.  Mungkin mereka pikir mereka menginginkan sesuatu, tapi kemudian rasio mereka yang cuma seuprit ato feeling mereka yang berlebih mengatakan “no, that’s not the appropriate choice” dan mereka mulai bingung lagi memilih dari awal.  Proses ini terus berulang sampai akhirnya mereka pun menanyakan pendapat anda.  Contoh nyata dapat dlihat di percakapan berikut :

(si cewek lagi mikir “aku gendut deh ah”, sambil ngaca.  Rasionya bilang “ah, cuma nambah 2 kilo mah ga gendut”.  Tapi, feelingnya yang lebay bilang, “gila loooo, ini gara-gara cheesecake yang lo makan kemaren.  Siapa suruh makan sampe dua sendok ??!” Si cowok yang ngeliat pacarnya bertampang kusut dengan baik hati bertanya.)

Cowok : “kamu kenapa, yang ?  Kayak yang bingung banget gitu.”

Cewek : “iya niih”  (alis berkerut melototin cermin)

Cowok : “sini dong cerita sama aa’.”  (senyum mesum nyiapin kaki buat mangku)

Cewek : (masih melototin cermin) “aku gendut banget yah ?”

Cowok : “ah, nggak koq, kamu masih cantik.”

Cewek : “aku tuh ga ngomongin soal CANTIK !  aku tuh nanya aku gendut apa nggak, susah banget sih !”

Cowok : “aduh, maaf, yang.  Nggak koq, kamu nggak gendut.”

Cewek : “halah, ga usah ngebohong deh.  Kalo aku nggak gendut kamu tadi nggak akan ngiler ngeliatin si BIPP yang kayak tiang bendera itu.  Udah deh aku sebel sama kamu, sebel !  PULANG SANA !!”

Cowok : ???

Kalo situasi dibalik, dan si cowok jawab “iya, kamu gendut”, akan tercipta sebuah HELL ON EARTH.  Kalau saya pikir-pikir, sebagai wanita saya juga selalu bingung kalau teman saya bertanya demikian dan memilih untuk nyelimur alias mulai ngoceh out of topic.  Entah apa jawaban yang diinginkan si wanita (memposisikan diri sebagai lelaki, dan bingung sendiri).

Banyak topik-topik lain yang lebih gampang dibanding jika rekan wanita anda bertanya soal penampilan.  Misalnya, soal makanan yang akan dimakan, tempat yang akan dituju, rute yang harus diambil, dan hal-hal sepele lainnya.  Ada baiknya anda menanyakan keinginan pasangan anda sebagai basa-basi, namun ketika ia tampak bingung, anda yang harus mengambil keputusan.  Jangan mengejar keputusan dari sang pasangan karena dia lagi “LEMOT mode ON”, dan akan merasa sangat terganggu jika anda melakukan hal itu, meskipun kami semua tahu maksud anda baik.  Agar bisa menuruti keinginan kami sehingga kami senang.  Tapi wanita tidak bisa dipaksa mengambil keputusan instan, that’s the big deal, guys.  Jangan pernah bilang “terserah” kalo wanita anda menjawab pertanyaan anda dengan sebuah pertanyaan lagi, misalnya “kalau menurut kamu?”.  Nah, itu sinyal bagi anda untuk memimpin.  Kesalahan yang biasa dilakukan, misalnya :

Pacar :  “yang, mau makan apa ?”

Gue : “ga tau nih, makan apa yah ?”

Pacar : “ya terserah kamu.”

Gue : “ya aku ga tau, makanya nanya kamu.  Gimana sih ?!”

Nah, selanjutnya akan terjadi ribut dari hal ga penting itu.  Buat gue sih ya, lebih mudah untuk menjawab apa yang ga gue inginkan.  Misalnya :

Pacar : “yang, kamu mau makan nasi goreng nggak ?”

Gue : “nggak ah, nggak mau goreng-gorengan.”  (terdiam, mendadak mendapat ilham) “cari yang kuah-kuah deh, yang.”

Pacar : (tersenyum penuh kemenangan) “iya, cari sop yah !” (sebenernya juga males makan yang kering-kering)

Entah itu trik karena pacar gue udah ngerti banget sama kepribadian gue yah (mendadak ngerasa dibegoin si pacar.  hahaha ..  awas kamu yah !), entah memang begitulah seharusnya memancing wanita membuat keputusan ketika anda sedang bingung juga menentukan pilihan.  Atau ketika anda tidak ingin di-cap sok ngatur, mau menang sendiri, dan seterusnya.

Mungkin hal-hal seperti ini lah yang membuat Allah SWT membuat pria menjadi imam, dan wanita hanya sebagai makmumnya saja.  Wallahu alam ~

TYPE of BOYS, which are you??!

Sejak salah satu temen gue jadian, gue terpikir sebuah teori gila tentang cowok. Apalagi banyak cowok yang curhat susah dapet cewek, padahal dengan rasio yangg ada sekarang, tambah lagi dengan banyaknya GAY, ada sekitar 8 cewek untuk setiap satu cowok di dunia!

But why oh why??

Jawabannya simpel, krn cara mencari cinta tiap cowok itu beda, dan gue menggolongkannya dalam dua tipe yang umum, melalui senjata. Kenapa senjata??? Soalnya keren aja gitu, cowok banget. Lagian sudah terlanjur khan kita pake istilah “nembak”?

Cinta itu MEDAN TEMPUR, Jendral!!!

Apa ajakah senjata yang mewakili tipe lelaki? (selain rudalnya tentunyah. uhu)

Ada dua macam, saudara dan saudari sebangsa setanah air sekalian, yaitu:

1. MACHINE GUN

Machine gun; fully automatic, efficient and can be used for genocide.

Jelas aja, senjata ini punya rifle cartridge yang punya puluhan, bahkan ratusan peluru di dlmnya. Kalo dipicu, derererererererererererererereerererre… Baca entri selengkapnya »

« Older entries