Swadaya

Raga yang dititipkan kepadamu belum hendak menjejak riak kefanaan dengan ringkih,
maka halangilah jiwamu merasa purna akan usia.

Tiap-tiap perkara yang terhanyut bersama waktu pada akhirnya akan menepi,
lelah menari bersama arus,
meraba citra elusif tentang mimpi yang dahulunya berkibar sebelum akhirnya angin meracau mati tepat di tepian buritan.

Tapi bukankah imaji di kepalamu masih nyata menderu?
Berhenti bersimpuh,
saat kau tertunduk mendamba kembalinya asa yang sekian lama menjadi cecapan tempatmu bergelayut menengadah,
maka dunia akan menginjakmu.
Masamu melaju bukan semata karena optimisme dan puja-puji,
melainkan karena kamu belum berhenti mencoba terus melangkah.

Berdirilah, beri lindap di atas mereka yang menghalangi cahayamu.
Karena kamu masih sempat menjadi lebih hebat.
Umurmu, toh, baru dua puluh empat.

Happy Birthday, ARALE!

Mereka bilang, "sebaiknya mulai sekarang lo dipanggil "Arale"",
seperti karakter kartun itu.
Aku bilang, "terserahlah".
Tiga minggu kemudian, mereka bawakan aku kue
yang tidak bertuliskan nama asliku.
Dasar gila,
makanya rasanya sulit untuk tidak tertawa saat bersama mereka.

Ringkasan Hal-Hal Yang Belum Kuucap

Ada tekad yang terlalu malam, lalu rasa yang terlalu pagi. Terang terbit meleburkan mereka menjadi biru.
Menjadi duka. Menjadi abu.
Menjadi kecewa.

Mulanya kupikir aku dapat mengatasi semuanya, hingga pada saat akhirnya kita kembali bersua. Hasrat ingin memelukmu, seolah dunia menyempit dan hanya cukup untuk disinggahi bila kita saling merengkuh, begitu menggebu hingga mengalahkan insting dasarku untuk bernafas dengan wajar.
Ternyata aku terlalu rindu, setelah sekian lama terlalu bangga untuk menyapa.

Ini bukan cinta. Bukan.
Ini adalah harapan yang terjebak dalam siklus repetisi dekonstruksi dan rekonstruksi seiring perpisahan dan pertemuan kita.
Kamu tahu. Kamu mengerti. Tapi memilih untuk mendiamkan.
Maka rasa itu aku endapkan, berharap ampasnya akan mengering dan hanyut sebagai debu seiring waktu.

Gambar

You're still the songs I sing in the car about. Haha. Yeah.

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

HANGOUT SPOT: Food Opera

Masih lanjut ya seri petualangan saya jadi turis di Bandung. Seumur-umur disini dulu, males dokumentasi sih. Food Opera ini lumayan baru sih, setau saya, dulunya ini Prefere 72, yang sempet juga jadi lokasi syuting film “From Bandung With Love“. Lokasinya di Jalan Dago (HR. Djuanda), persis di seberang Kartika Sari. Spesialisasi kafe ini masakan Timur Tengah dan Steak yang diklaim sebagai steak paling empuk. Masakan yang berbau padang pasirnya berupa Nasi Mandhi, Nasi Madguth, Nasi Kebuli, dan juga Nasi Biryani. Nasinya beda dari yang biasa kita makan, bentuknya pipih panjang dan rasanya lebih kering. Ini enak banget, reader, kemarin saya coba Kebulinya, pake Kebab Kambing, enak-enak-enak. Gak usah ragu untuk makan nasinya bareng taburan kismis sama kacang mede yang dicampur disitu. Kalau gak dimakan bareng, nanti rasa nasinya lebih asin.

Nasi Kebuli Food Opera

Steak yang diklaim paling empuk sama kafe yang berbagi lokasi sama Factory Outlet BRIGHT itu juga nggak main-main, memang empuk banget. Mungkin dipotong sama garpunya juga bisa deh, sepertinya dagingnya sudah digebuk dengan sepenuh hati sampe sedemikian empuknya. Jangan khawatir, masih kerasa kok bandelnya tekstur daging yang khas itu. Sayangnya, mashed potatonya agak kurang garem nih pas saya coba menu yang satu ini. Bleh.

Tenderloin Steak Food Opera

Minumannya variatif, biasanya saya cuma minum teh sih. Tapi di bukunya ada menu-menu unik semacam Beras Kencur atau Kunyit Asam dengan berbagai selera fusi, mulai dari yang original seperti yang biasa kita minum di rumah nenek sampe yang dicampur cokelat lah, green tea lah, strawberry dan sebagainya. Budget makan dan minum disini mulai dari 30 – 50 ribu per orang, murah meriah dan kenyang. Buat yang hobi, bisa ditambah shisha juga seharga 35 ribu per use. Sayangnya shisha-nya kurang recommended nih, uapnya agak lebih tajam dibanding shisha-shisha lain yang pernah saya coba, sedikit serak setelah shisha disini. Tapi makanannya oke dan suasananya oke banget, apalagi pake ada kolam-kolam berkura-kura segala. Overall, it’s a nice place to hang out and actually eat 😀

Food Opera

Di Bulan Juni, Kamu Pergi

Hari ini aku mengunjungi tempat kamu bersemayam untuk pertama kalinya. Sempat terbayang peraduan seindah buaian di masa kita membayangkan surga dengan keterbatasan khayal kita yang duniawi ini, tapi tidak. Yang kudapati adalah tumpukan tanah merah yang mulai mengeras dan jumputan herbal wangi tertebar di sana-sini. Kakak perempuanmu tak kuasa menahan isak dari bibirnya yang persis seperti bibirmu, dan rasanya tadi aku meneteskan airmata yang pertama untuk kamu. Kekasihmu datang bersamaku, dan teman baikmu, dan juga seorang teman baikku.

Kami menyiramkan air di atas makam kamu, apakah curahan itu menyejukkan kamu disana ?
Kami memanjatkan doa untukmu, kawan, apakah itu membantumu menghadapi cecar para penjaga kubur di bawah sana ?
Apabila aku mempercepat prosesku meraih izin menjadi advokat, akankah mereka membiarkan aku membela kamu karena sungguh, kamu salah satu orang terbaik yang aku tahu ?

Ah, seandainya saat ini aku bisa kembali mengulang malam-malam saat kita sering berbalas sapa melalui lubang-lubang kecil yang menyalurkan suara kita ke udara, tentu kamu bisa menjawab pertanyaanku saat ini.

Kami mendatangi peristirahatan terakhirmu kali ini, kawan, tapi bukan terakhir kalinya kami mendatangi kamu. Karena segala tentang kamu, akan selalu terpatri, disini.

Image

Ketika muda, kupikir kita akan hidup tertawa bahagia selamanya.
Ternyata "selamanya" untuk setiap orang itu berbeda-beda.

Tua Sebelum Tidak Lagi Fana

Ketika muda, saya pikir saya akan meninggal seperti kakek saya. Tenang, dalam usia lanjut, meninggalkan keluarga yang sudah mampu berdiri sendiri.  Belum lagi saya mencapai usia balig, seorang sahabat tiba-tiba saja meninggal; tidak ada yang menyangka, tidak ada yang mampu menjawab kenapa.  Rasanya ini sebuah tamparan bagi logika saya yang masih belia, mengapa manusia seumuran saya direnggut kehidupannya sebegitu awalnya ?
Ternyata tidak semua orang mendapatkan hak istimewa untuk menjadi TUA.

Saya tidak menangis sepanjang jenazah almarhum didoakan, dikubur; bahkan ketika prosesi tiga hari, kemudian tujuh hari; airmata saya tidak juga mengalir. Sebulan berlalu, setahun berlalu, dan saya baru sadar bahwa almarhum sudah benar-benar pergi karena tidak ada lagi telepon-telepon lucu yang biasanya berdering beberapa minggu sekali. Setelah kesadaran ini timbul, barulah saya menangis sejadi-jadinya.

Pagi ini, setelah kemarin mendapat kabar bahwa bibi saya meninggal, saya bangun mendapati SMS (banyak SMS) dan PM di messenger saya bahwa salah satu karib saya semasa SMA telah dipanggil oleh-Nya. Saya membacanya. Kemudian saya minum segelas air seperti biasa, sarapan, dan duduk lagi di tempat tidur. Saya baca semua pesan itu sekali lagi, saya memeriksa jejaring sosial, dan dengan hening saya terdiam. Seperti baru tersadar dari sebuah tenung, dengan panik saya menelpon teman yang lain. Dan berita ini benar adanya, bahwa teman saya ini memang sudah mengucapkan selamat tinggal kepada saya, kepada semua rekan-rekan dan keluarganya, kepada dunia … SELAMANYA.
Rasanya baru kemarin saya bercanda dengan almarhum di jejaring sosial, baru beberapa bulan ini dia membuat Twitter, bahkan rasanya baru kemarin juga saya dan dia menikmati hiruk pikuk permainan kami sendiri di studio musik, menyaksikan dia tanpa sengaja mematahkan simbal, bermain biliar bersama, dan menyaksikan dia menjadi ketua kelas saya di kelas sepuluh.

Waktu menunjukkan pukul 16.07. Sejak berita ini dikabarkan kepada saya sekitar jam 9 pagi, saya belum meneteskan airmata sama sekali. Tidak peduli kalimat duka macam apa yang saya tuliskan di media sosial, sesungguhnya logika saya masih belum dapat mencerna bahwa almarhum tidak akan pernah membalas lagi pesan singkat saya, tidak akan berbuka bersama, dan tidak akan bersilaturahmi lagi untuk Idul Fitri yang akan datang.  Semoga saya diberi kekuatan ketika logika saya sepenuhnya terbangkitkan.

Istirahat yang tenang disana ya, teman, kami akan sekuat tenaga mengikhlaskan.

Image

In loving memory of Ahmad Fuady ( 3 December 1988 – 11 June 2012 ),
a loving son, a caring brother, a cheering friend, an inspiration.