Salah Satu

Kamu adalah salah satu yang mengerti
betapa kata-kata dapat menyesatkan rasa,
maka kata tidak pernah jadi bagian besar dalam reaksi kosmik antara kita.

Kamu adalah salah satu yang mengerti
betapa rasa dapat terlarut dalam waktu,
maka kamu tidak pernah menuntut kepastian
yang hanya akan diutarakan dengan ragu.

Kamu adalah salah satu yang mengerti
bahwa waktu selalu akan menjadi misteri,
maka kamu tidak pernah melalui saat bersama tanpa berhati-hati.

Kamu adalah salah satu yang mengerti,
dan di saat kamu tidak bisa, kamu berusaha menerima.
Maka nanti ada waktunya kamu menjadi satu-satunya.

Gambar

See you next year, my own August Rush.
Iklan

Durasi

Sejenak pun kilat melecut, tetap dia membawa cahaya.
Sadarkah kamu bahwa dekapnya memang pernah nyata ?

Manusia memuja durasi,
hanya karena sesuatu lekang lebih lama,
hanya hal itu saja yang diakui fana adanya.

Hati memiliki relativitas yang tak mampu kau ukur
dengan gemulai tarian tangan yang mengitari urai alur masa.
Biarlah rasa-rasa yang mereka pandang sebelah mata itu melesat,
meninggalkan sinisme dunia untuk semata layu karena waktu,
mati karena lelah bukan karena kalah.

Kekal itu bukan milik kita,
kamu sendiri yang berkata ingin berdansa dengan logika.
Debar ini pun bersembunyi bukan karena rapuh,
maka nikmati saja desir pasir yang jatuh.

Untuk KAMU, August Rush ♥

Dingin

Pagi itu, sayang, rasanya matahari gagal melenakan kita dalam cahaya. Alih-alih kembali ia tercebur dalam kegelapan, menyisakan sepoi kelabu membekukan pilu yang berada di ambang curah.

Kamu berujar, “relakanlah dan berbahagialah”.

Angin menggemakan kata-kata terakhirmu, kemudian semua nada di dunia terputus dalam sunyi yang memekakkan.
Lalu aku terpekur, mencecap beku di lidah dan remuk di iga yang kupikir milikmu, seraya berpikir bagaimana cara berbahagia tanpa cahaya.

"Cold and frosty morning,
there's not a lot to say about the things caught in my mind."

Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Mencerna Senja

Seandainya saja matahari tidak terlalu cepat menyerah kepada barat, mungkin kita bisa menikmati senja dengan lebih lama. Aku lelah tergopoh setiap jarum menunjuk seputaran angka lima; menuju beranda dengan terengah demi menikmati merah yang berlangsung beberapa menit saja. Rona lembayung yang diberikan langit yang tersipu itu tidak dapat disaingi oleh pagi; pagi cenderung lebih pucat, lebih kuning, lebih biru. Aku ingin merah, aku ingin senja.

***

Dia menyukai senja. Sangat menyukainya, mungkin melebihi sukanya kepada aku yang biasa-biasa saja. Seandainya aku memiliki sedikit saja semburat senja, mungkin ia akan meluangkan kata untuk bercerita tentang kita di antara cerita-cerita senjanya. Aku pernah menikmati senja bersamanya, merasakan jatuh cinta menyaksikan matahari berdarah-darah menyerah ditelan horison yang kelabu. Ada sesuatu yang romantis tentang surya yang meleleh, lalu menghilang. Tapi senja selalu mengingatkanku kepadanya, dan dia kepada senja. Tapi baginya, senja semata mengingatkannya kepada senja, dan aku hanyalah aku, yang hanya diingatnya ketika aku menghalangi retinanya menangkap senja.

***

Aku tidak pernah mengerti kenapa bisa dia merasa cemburu terhadap senja. Senja bukan manusia, bukannya aku berselingkuh atau apa. Terobsesi katanya. Salahkah mengagumi sesuatu yang begitu indah? Tapi dia selalu ingin menjadi yang nomor satu, selalu ingin menjadi pusat semestaku, bahkan mungkin melebihi diriku. Lucu, cemburu terhadap kejadian spektrum cahaya, bahkan terlalu sureal untuk kutertawakan.

***

Pukul tiga, sekitar dua jam lagi dia akan berlari menuju beranda untuk menyambut senja. Matahari sedang terik di atas kepala, bersuar tinggi dengan congkak, seolah lupa bahwa nantinya ufuk akan melumatnya.

Pukul empat, matahari mulai melayang loyo. Aku berlari menuju atap, beranda tidak mampu membantuku meraih.

***

Pukul lima. Mendadak semua terasa dingin. Apakah ini khayalanku atau di luar jendela diam-diam langit sudah menjadi gelap ? Ini baru pukul empat, senja pasti ingkar janji apabila kelam turun sebegini cepat. Ada sesuatu, entahlah, rasanya malam pun akan mengucap permisi apabila ingin bertamu lebih awal. Mungkin dengan guntur yang mengetuk begemuruh di tengkuk … tapi ah, tidak ada. Mungkin aku harus memeriksa beranda.

***

Matahari memang lemah, ternyata. Kukira dengan segala kecongkakkannya, hal ini akan lebih sulit dieksekusi. Tapi toh tidak. Saat ini sang surya yang dibangga-banggakan pagi terkulai lemah di telapak tanganku. Kulit yang menyelimuti tanganku jadi berwarna senja.

***

Kutemukan dia di beranda. Sedang terkekeh geli menatap cahaya cair yang menggeliat di tangannya. Senyumnya tampak gila. “Aku telah mengambil matahari”, katanya, “sekarang aku akan menjadi senja yang selalu kamu puja”. Lalu dia menelan matahari.

***

Matahari tidak memiliki rasa, hanya ada rasa panas dan pekat yang tidak kuhiraukan, saat ini aku terlalu terpesona menikmati matanya yang jernih terbelalak menatapku. Rasanya baru kali ini dia benar-benar menghujamkan pandangnya kepadaku, tanpa dibutakan kegemarannya akan senja. Lalu lidahku mencecap rasa tembaga.

***

Aku tidak tahu harus bagaimana saat senja mulai meleleh di sudut bibirnya. Lalu dari hidungnya. Lalu dari matanya. Aku tidak mengerti apakah ini awal dari trauma, atau semata terpesona.

Senja terus meleleh dari setiap celah di tubuhnya. Dia hanya tertawa, tertawa, tertawa. Gelaknya menggema, lalu sunyi. Senja yang menggeleguk dari sisa-sisa tubuh yang biasa kurengkuh masih terus mengalir, mengalir, mengalir. Kemudian aliran senja itu mengambang menuju langit, sebagian menghampiri, mungkin mengucap selamat tinggal, menggenangiku semata kaki.

Hangat. Merah. Amis. Darah. SENJA !

Gambar

Fase gotik. Atau sekedar terpengaruh lagu Copper Down.

Negatif

Hari-hari bersaturasi tinggi
seperti dalam negatif yang belum tersentuh kelam kimia menjadi helaian foto
seharusnya telah berlalu,
lalu mengapa situasi belum berkembang menjadi sesuatu yang pantas
untuk diabadikan di balik pigura ?
Apakah suara terlalu resah untuk melantun lagu ?
Atau memang rasa tak kuasa untuk menjadi ada ?

Gambar

Sumpah ya, dimana sih bisa cuci roll film jaman sekarang ?

Refleksi

Air selalu mengacaukan spektrum cahaya yang dipantulkannya,
semua menjadi baur,
semua menjadi semu.
Langit tidak sama biru,
pepohonan tidak sama tegak,
segala sesuatu menjadi lebih kelabu.

Kamu adalah bidadari yang sedang menatap kejernihannya,
terlanjur terpana,
karena pikirmu demikianlah replika realita.
Air itu adalah kata-kata,
perasaanku adalah objeknya.

Hei, “aku sayang kamu” itu bukan padanan nyata tentang apa yang bergolak di dalam dada saat aku membayangkan senyumanmu.

Prosa Kata-Kata

Selama hidup aku sudah berucap milyaran kata
dan menulis sekitar setengahnya.

Saat ini aku berharap nantinya ada waktu
saat kata-kataku dapat menjelma ke dalam neuron-neuronmu,
mewujud menjadi sulur yang menebar endorfin,
dan kemudian merasuk, merebak,
meruas menjadi sayap,

lalu menyokongmu untuk terbang lebih tinggi.

Image

Mungkin pagi ini aku terlalu banyak membaca artikel kesehatan,
 tapi ah, aku belum bisa mengobati penyakit kasmaranis kronis ini.

Happy second monthly-versary, love.

Tengah Malam, Tanggal Sebelas, Dua Bulan Yang Lalu

“Kali ini aku biarkan kamu jatuh,
karena sepertinya kali ini kamu jatuh dalam kebahagiaan.
Katakan tidak pada kail-kail yang berusaha memancingmu keluar,
karena mereka akan merobek airmatamu saat menarikmu darinya.
Kali ini aku restui kamu memilih untuk membukakan pintu
untuk kehadirannya di antara kita,
apabila sakit pun mari kita tanggung berdua,”

kata otakku kepada hatiku.

Image

Setelah dialog legendaris tertanggal 11 April 2012.

[10:28:08 PM] Z: lagi ngidam lemper plis
[10:29:08 PM] D: gue kasih yg laen mau?
[10:29:16 PM] Z: opo, opo ?
[10:30:37 PM] D: janji ga kaget?
[10:30:45 PM] Z: oke, oke.

Love you, July.

Rindu Itu

Rindu adalah prosa-prosa tak kesampaian yang menggenang di tepian kukumu,
namun tinta tak mampu menariknya mengapung ke arah permukaan.
Rindu adalah warna-warna senja yang begitu dekat namun tak mampu dijamah belaian malam.
Rindu adalah mawar-mawar bebas duri, namun tidak juga memberimu wangi.
Rindu adalah sejuta bintang Bimasakti yang cahayanya belaka waktu-waktu yang terdistorsi.
Rindu adalah aku, kamu, dan sesuatu yang manusia ukur dengan rentang kaki.

 

 

Aku, kamu, dan kurang lebih 200 kilometer di antara kita.

« Older entries