Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

Resolusi Ramadhan

Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri itu gak jauh beda sama menyambut Tahun Baru, orang-orang berlomba-lomba menyiapkan resolusi. Padahal bulan Syawal dan Bulan Muharram dipisahkan jarak 2 bulan (kalender Hijriyah), tapi rasanya suasana Tahun Baru-nya curi start. Sebelum tanggal 1 Ramadhan pun, resolusi mulai dirancang, setelah tanggal 1 Syawal, diharapnya beberapa di antaranya sudah terlaksana dan mungkin ada juga yang diharapkan berkesinambungan. Biasanya berhubungan dengan Ibadah sih.

Resolusi yang cukup umum misalnya berniat lebih rajin shalat, berniat khatam Al Qur’an, berniat puasa tanpa bolong-bolong, lebih banyak sedekah, dan seterusnya (ini contoh resolusi yang gue banget). Padahal ibadah itu bukan cuma yang keliatan seperti itu saja. Coba sesekali resolusi Ramadhannya macam ini :

  • Berniat lebih sedikit terpaksa berbohong. Kalo yang hobinya bohong, jangan pakai kata ‘terpaksa’. Kalau terpaksa, artinya ada keadaan yang membuat kita kepepet untuk berbohong, entah untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. Mending kalo bohongnya bohong yang baik, kalau bohongnya mencelakakan orang lain kan amit-amit. Nah, semoga Allah SWT menghindarkan kita dari kondisi-kondisi seperti ini. Kalau bisa kita juga jangan sampai membuat pilihan bertindak yang menimbulkan kondisi semacam itu.
  • Berniat lebih ingat Allah SWT dan Rasulullah dibanding pacar dan jadwal tayang drama seri di televisi. Kebanyakan manusia lebih ingat hal-hal yang duniawi dibanding Allah. Mikirin pacar bisa sampe kelebet kebelet, SMS juga bisa 5 menit sekali. Tapi untuk mengingat Allah, sekedar untuk berucap Subhanallah, Alhamdulillah, atau Astagfirullah atas kejadian-kejadian kecil sekitar kita pun lupa. Coba setiap kali kangen sama pacar, sebelum SMS berucap dulu: “Alhamdulillah ya sudah dianugrahi perasaan yang semanis ini.”
  • Berniat jadi orang yang lebih peduli. Peduli itu bukan sekedar melempar koin ke tadahan orang-orang di lampu merah. Coba kadang-kadang disedekahkan doa juga. Gue kadang marah ngeliat orang yang sehat wal afiat, tapi masih aja ngemis. Nah, mulai Ramadhan ini, mau dicoba kurangin ngedumel dan diganti mendoakan mereka, “semoga mereka sadar mereka bisa mencari nafkah dengan cara yang lebih baik, dan semoga jalan itu dimudahkan.”
  • Berniat jadi orang yang tidak terlalu Riya. Ini sulit kan bagi generasi media sosial ? Rasanya dengan berbagi hal-hal yang gue niatin untuk jadi resolusi aja udah riya banget. Tapi mari dicoba sama-sama, saling mengingatkan, “HEI KAMU ! Itu kamu yang disana stop update status setiap kali selesai ibadah! “

Semoga resolusi Ramadhan kali ini bertahan lebih lama dari resolusi Ramadhan-Ramadhan sebelumnya bagi yang resolusinya sering terlupakan setelah sebulan dua bulan (apa ini cuma dialami ane ya, gan ??!), tapi bagi yang resolusinya (Alhamdulillah) selalu bertahan dan berkelanjutan, semoga resolusinya mengalami hal yang sama tahun ini.

Marhaban ya Ramadhan.
Selamat menjalankan ibadah puasa, rekan-rekan bloggers 🙂

Gambar

Negatif

Hari-hari bersaturasi tinggi
seperti dalam negatif yang belum tersentuh kelam kimia menjadi helaian foto
seharusnya telah berlalu,
lalu mengapa situasi belum berkembang menjadi sesuatu yang pantas
untuk diabadikan di balik pigura ?
Apakah suara terlalu resah untuk melantun lagu ?
Atau memang rasa tak kuasa untuk menjadi ada ?

Gambar

Sumpah ya, dimana sih bisa cuci roll film jaman sekarang ?

Dirgahayu Cinta

Waktu di sekeliling kita berjalan seiring dan sepertinya hemisfer dunia tidak pernah ingin benar-benar memisahkan kita. Ada dogma sederhana yang mengira belum begitu lama sejak pertama aku mengenal kamu, mungkin hari itu adalah hari yang juga telah diprasastikan untuk terjadi. Tiba-tiba saja saat ini anak laki-laki lugu yang kukenal berada di sisiku, sebagai pria luar biasa yang merelakan dirinya dimiliki sahabatnya sendiri.

Terima kasih sudah menjadi sosok yang bisa aku kagumi untuk diteladani, terima kasih sudah menjadi sahabat yang mendengarkan keluh kesah remeh tanpa menghakimi, terima kasih sudah menjadi kekasih yang mengayomi. Semoga tahun-tahun yang berlalu tidak ada yang sia-sia dan tahun-tahun yang akan datang selalu membuat kamu bahagia. Aku harap masa depanmu secerah matahari pagi yang kamu bangga-banggakan di setiap pagi kamu membangunkan aku dari tidur, seluas lautan yang kadang memisahkan, dan selalu selalu selalu memiliki tempat untuk aku.

Amin Ya Rabbal Alamin.

“May the odds be ever be in your favor.”

Image

Aku tidak pernah bisa menjamin
 aku mampu mencintaimu melebihi siapapun.
Aku tidak pernah bisa berjanji
 aku mampu membahagiakanmu lebih dari siapapun.
Di luar sana mungkin ada yang lebih mampu menjaga kamu,
 ada yang bisa membuatmu tertawa melebihi aku.
Tapi aku tidak akan melepaskanmu untuk siapa pun juga.
Maaf karena sudah menyayangimu dengan demikian egois,
 tapi sungguh, aku tidak lagi peduli pada standar perilaku.

Refleksi

Air selalu mengacaukan spektrum cahaya yang dipantulkannya,
semua menjadi baur,
semua menjadi semu.
Langit tidak sama biru,
pepohonan tidak sama tegak,
segala sesuatu menjadi lebih kelabu.

Kamu adalah bidadari yang sedang menatap kejernihannya,
terlanjur terpana,
karena pikirmu demikianlah replika realita.
Air itu adalah kata-kata,
perasaanku adalah objeknya.

Hei, “aku sayang kamu” itu bukan padanan nyata tentang apa yang bergolak di dalam dada saat aku membayangkan senyumanmu.

Rindu Itu

Rindu adalah prosa-prosa tak kesampaian yang menggenang di tepian kukumu,
namun tinta tak mampu menariknya mengapung ke arah permukaan.
Rindu adalah warna-warna senja yang begitu dekat namun tak mampu dijamah belaian malam.
Rindu adalah mawar-mawar bebas duri, namun tidak juga memberimu wangi.
Rindu adalah sejuta bintang Bimasakti yang cahayanya belaka waktu-waktu yang terdistorsi.
Rindu adalah aku, kamu, dan sesuatu yang manusia ukur dengan rentang kaki.

 

 

Aku, kamu, dan kurang lebih 200 kilometer di antara kita.

Dulu

Aku pernah gagal memetakan kamu, sebuah kesalahan yang membuat aku tidak habis pikir.
Bukankah cetak biru itu kita sendiri yang mengukir ?
Lalu kenapa kamu pergi melipir, meninggalkan detail lesu di sajak-sajak penuh semangat yang dulu kita tulis bersama ?
Aku hanya bisa diam, meletakan kuas, dan menggelayutkan pias di sisa hari.
Aku bukan merasa tersakiti, hanya saja ada nista yang mengetuk, membisikkan bahwa kamu telah hilang,
yang tersisa hanya jumlah hari untuk dibilang, serima rindu untuk disunting, dan seribu ragu untuk digugu.

Tapi itu dulu, bukan begitu ?

Hey Kamu Yang Melakukan Elevasi Makna Terhadap April

Image

Tahukah kamu bulan April selalu aku puja dan aku nanti setiap tahunnya ?

Itu bulan lahirku, dan tentu aku merasa ria setiap kali diberi kesempatan sekali lagi bersua dengannya. April selalu menjadi awal dari musim semi, pertanda bumi juga merasa suka cita bersamaan denganku;  meruapkan wangi dan mengundang hujan yang selalu melengkungkan pelangi. Ya, April selalu menjadi bulan yang indah. Setidaknya untukku.

Awal April kemarin, logikaku sedikit dibuat kelu, dan kamu tahu. Ah, kepolosanku yang selalu menganggap kamu mentor dan rekan mengacak otak (ya, mengacak, bukan mengasah) membuat aku selalu menceritakan remah perasaan yang sesungguhnya remeh kepada kamu. Siapa yang menduga riuh rendah celotehanku menularkan riak-riak bimbang juga kepada liang yang kamu sebut hatimu ?

Semuanya memuncak di pertengahan bulan April. Perasaan yang selama ini kamu tanak dalam diam diruahkan dalam kilasan gambar dan seraup irama, dan yang aku lakukan hanya tertawa seraya tanpa sengaja berucap: “kenapa baru sekarang ?”. Kamu tahu, aku tidak pernah benar-benar menantimu; toh, seyakin intuisiku, hidup akan membawa aku kembali kepadamu. Dan hari itu, suara-suara kecil itu berkata, “aku bilang juga apa.”

Saat ini, bulan April sudah mengalami elevasi dalam pemaknaannya. Di bulan itu, semua resah selaksa menjarah peti tanpa isi menemukan tingkap rahasia di balik semua curiga buncah tak berbalas; hey, ternyata kamu juga mengarak rindu ke arahku. April tidak lagi sekedar bulan dimana aku berbahagia karena Tuhan telah memberkatiku (lagi) dengan satu tahun yang menakjubkan untuk menambah baris hitung di umurku, namun juga waktu untuk mengucap syukur bahwa Dia membawa kamu kembali lagi untuk bersarang di dalam rinduku.

Terima kasih, kamu.

Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

« Older entries