Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

My Top 10 Must Watch Movies of 2010; and everything else beneath the chart

Yoha, movie-goers, sudah saatnya ada review berbahasa Indonesia yang ga dibikin via translator.  Oh, I just hate that translator crap, malah bikin bingung bacanya.  How come I can understand English more than the language I use to speak everyday ??  Itu pertanyaan yang selalu muncul tiap ada tulisan yang diterjemahin secara instan.  Well, anyway, let’s do the chart.

#1 Alice in Wonderland

Alice In Wonderland

Alice In Wonderland

Release Date: March 5, 2010

Starring: Johnny Depp, Mia Kingsley, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway

Director: Tim Burton

Another remake, yet another collaboration between Johnny Depp + Helena Bonham Carter + Tim Burton.  What do you expect ?

Dalam remake ini, kita ga akan liat kisah klasik Alice yang penuh hal-hal lucu itu.  Cerita dimulai ketika Alice (Kingsley), yang sudah jadi remaja 19 tahun, lagi-lagi masuk ke dalam Wonderland, but she doesn’t have any clue yet that she has been here.  Ternyata, pemerintahan Ratu Putih yang baik (Hathaway) baru dilengserkan sama Ratu Merah yang jahat (Bonham-Carter).  Ah, politics …

Jadi, dengan bantuan White Rabbit (Michael Sheen), the Caterpillar (Alan Rickman), The Mad Hatter (Johnny Depp), Tweedledee & Tweedledum (Matt Lucas), plus the Cheshire Cat (Stephen Fry), Alice berusaha mengembalikan keadaan menjadi lebih bahagia dengan cara menggulingkan Ratu Merah dari tahtanya.  Siapa yang setuju film ini jadi nomor 1 di chart saya ??

#2 The Chronicles Of Narnia; The Voyage of The Dawn Treader

Release Date: December 10, 2010

Starring: Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Liam Neeson

Director: Michael Apted

The Voyage Of The Dawn Treader

The Voyage Of The Dawn Treader

Ah, c’mon, like you really need a review !  *LOL*

Yeah, buat yang belum baca bukunya aja deh review-nya.

Bagi penggemar Peter and Sarah Pevensie, sorry, guys, we won’t meet them this time.  Kali ini cuma Edmund dan Lucy yang masuk ke Narnia, karena Peter dan Sarah dianggap sudah akil balig.  But wait, who’s that boy coming with you, Luce ?  Ups, let me rewind !

Lucy dan Edmund terpaksa menghabiskan liburan bersama sepupu mereka yang super nyebelin bernama Eustace Scrubb.  Saat sedang beradu argumen tentang Narnia, mereka malah ‘nyemplung’ ke dalam tulisan, dan tiba-tiba saja sudah terombang-ambing di dalam lautan.  Untungnya, mereka jatuh dekat kapal The Dawn Treader kepunyaan Prince Caspian, yang sekarang sudah jadi King Caspian tentunya.

Banyak kejadian seru selama perjalanan mereka, termasuk ketika Eustace berubah jadi naga akibat sikapnya yang buruk, ketika mereka menemukan kolam yang airnya bisa merubah apa saja menjadi emas, apa yang mereka temukan di ujung dunia, dan seterusnnya.  Kalo dikasih detail, nanti saya dibilang merusak kejutan khan ?  So let’s just expect this movie to be ‘NARNIALY AMAZING’ !

#3 Prince Of Persia ; Sands of Time

Release Date: May 28, 2010

Starring: Jake Gyllennhall, Gemma Arterton, Ben Kingsley

Director: Mike Newell

Sands of Time

Sands of Time

Yeah, another game-based-movie.  Yet, tampaknya menarik, anyway sutradaranya juga Mike Newell, you know, sutradaranya Harry Potter itu lho.  Semoga jadinya ga seancur Harry Potter yah.

Ber-setting di Persia abad pertengahan (begitu kata review resminya, karena saya ga pernah ke Persia abad pertengahan, jadi saya iyakan saja), Prince of Persia mengisahkan seorang pangeran petualang yang ‘terpaksa’ bekerja sama dengan putri yang biasanya merupakan saingan beratnya (oh yeah ?  *mengendus cinlok*) untuk menghentikan seorang penguasa yang murka agar tidak melepaskan sebuah badai pasir yang kemungkinan besar menghancurkan dunia.

Diawali karena sang pangeran kena tipu oleh seorang Vizier yang sekarat untuk melepaskan pasir waktu (Sands of Time) yang malah menghancurkan sebuah kerajaan dan merubah penduduknya menjadi monster-monster yang ganas.  Dalam rangka menyelamatkan kerajaannya, sekaligus menebus kesalahannya, maka sang pangeran dan si putri misterius itu pun berusaha keras mencari pisau waktu (Dagger of Time)yang bisa mengembalikan pasir-pasir itu ke dalam jam pasir yang merupakan tempatnya, yang juga memberikan kendali bagi pemiliknya untuk memanipulasi aliran waktu. Baca entri selengkapnya »

Dignity In Death; Live Like You Mean It

Gue teringat sebuah film yang pernah gwe tonton, judulnya “Rory O’Shea Was Here” dan internationally known as “Inside I’m Dancing”. Pernah gwe rekomendasiin untuk ditonton nih di salah satu blog, and inspire me buat bikin satu post yang benilai positif dan mengajak berbuat kebaikan, mengingat tagline nih film, ‘Live Like You Mean It’. Main Role-nya dijabanin aktor yang jadi Mr. Tumnus di Narnia, disini dia perannya namanya Rory O’Shea. Ganteng gila, dan aktingnya bagus, film laennya yang udah pernah gwe tonton tuh “Last King Of Scotland”, “Penelope”, sama “Wanted”. Yup, he’s James McAvoy.

Rory OShea Was Here

Inside I

Film ini tentang orang-orang cacat gitu, en Rory is a patient of muscular dystrophy, specifically Duchenne Muscular Dystrophy. Satu2nya yang dia gerakkin itu dua jari, tangan kanan, otot muka (kepalanya bahkan gak bisa bergerak), en satu “bagian tertentu” yang bisa bergerak kalo dirangsang. Hahahahahaha…

Baca entri selengkapnya »