Krakatau Night Fashion Show by BRIZKIE – Krakatau Festival 2014

Siapa yang belum lihat foto-foto Krakatau Night 2014 dalam rangkaian penutupan Krakatau Festival 2014?

Ini foto-fotonya. Sempat mengira acara ini open for public eyes dan semua fashionista Bandar Lampung bisa menikmatinya, tapi ternyata khusus undangan ya. Yah, yasudahlah, mungkin eksklusifitas memang masih jadi kebutuhan. Terus terang, panitianya masih banyak kurangnya dibanding lebihnya, terutama di bagian prepping, information, scheduling, dan lain-lain, tapi mungkin karena faktor pengalaman.

Misalnya, I’m a part of the show, tapi gak dikasih daftar itinerary jelas. Gak dapat seat, we just wait in the room. Sejujurnya ini aneh, karena desainer itu bukan entertainer, tapi creative entrepreneur. Waktunya banyak yang mulur dari jadwal. Desainer gak bisa menentukan sequence model yang keluar, dan siapa pakai baju yang mana. Model masih kurang profesional dari segi waktu, manners, stances, juga postur. But yeah, they’re not models, professionally, they’re Muli Lampung. Kalau di Jakarta, itu sejenis None Jakarte gitu. Tapi banyak Muli yang masih baru dan pelajaran modelling-nya mungkin masih belum tamat banget. Who am I to whine. I can’t even walk straight.

Tapi overall, I enjoy the night quite much. Silakan dinikmatin baju kasual ready-to-wear dengan sentuhan sulaman Tapis cantik dari kami. It was a wonderful evening and the poolside of Sheraton Hotel Bandar Lampung helped the ambience. I want to make it look chic and simple, and modern-ish, so the models walked along with L’Apputamento by Ornella Vanoni and Carmen Consoli serenading in the background. Sempet nanya dapat musik apa waktu sedang latihan blocking (yang baru dilakukan 2-3 jam sebelum acara), dan panitia cuma mangap-mangap aja, so I whipped this song quickly because I always had this secret ambition to have this song on one of my show. Felt like I’ve brought Lampungnese Tapis to some Italian riverside. Happy feels.

Untuk yang mau lihat langsung, kami ada gelaran di Jakarta akhir Oktober 2014 nanti. Stay in tune.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

Tribuana Ardhia Garini, Runner Up 1 Putri Pariwisata Indonesia 2013, hosting Krakatau Night wearing BRIZKIE by Zea Zabrizkie's 2013 collection.

Tribuana Ardhia Garini, Runner Up 1 Putri Pariwisata Indonesia 2013, hosting Krakatau Night wearing BRIZKIE by Zea Zabrizkie’s 2013 collection.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

With Mr. Sapta Nirwandar, the Vice Minister of Ministry of Tourism and Creative Economy of. The Republic of Indonesia.

BRIZKIE by Zea Zabrizkie

visit our site and follow our IG @zeabrizkie for fashion stuffs!
150525113058_newlogo-POLKAlight
Iklan

Tengik

Waktu telah mengubah kita menjadi masam, layaknya susu yang terpapar udara terlalu lama, dan bahkan dengan tengik yang begitu nyata pun tak pernah dia terdeteksi indra karena kita terlanjur terbiasa.

Setelah menyadarinya pun, kita hanya tersenyum, berpura-pura memaafkan, karena sesungguhnya berpura-pura nyaman di dalam rumah lapuk lebih mudah daripada mencuilnya menjadi puing untuk kemudian dibangun kembali.

MENOLAK LUPA

Swadaya

Raga yang dititipkan kepadamu belum hendak menjejak riak kefanaan dengan ringkih,
maka halangilah jiwamu merasa purna akan usia.

Tiap-tiap perkara yang terhanyut bersama waktu pada akhirnya akan menepi,
lelah menari bersama arus,
meraba citra elusif tentang mimpi yang dahulunya berkibar sebelum akhirnya angin meracau mati tepat di tepian buritan.

Tapi bukankah imaji di kepalamu masih nyata menderu?
Berhenti bersimpuh,
saat kau tertunduk mendamba kembalinya asa yang sekian lama menjadi cecapan tempatmu bergelayut menengadah,
maka dunia akan menginjakmu.
Masamu melaju bukan semata karena optimisme dan puja-puji,
melainkan karena kamu belum berhenti mencoba terus melangkah.

Berdirilah, beri lindap di atas mereka yang menghalangi cahayamu.
Karena kamu masih sempat menjadi lebih hebat.
Umurmu, toh, baru dua puluh empat.

Happy Birthday, ARALE!

Mereka bilang, "sebaiknya mulai sekarang lo dipanggil "Arale"",
seperti karakter kartun itu.
Aku bilang, "terserahlah".
Tiga minggu kemudian, mereka bawakan aku kue
yang tidak bertuliskan nama asliku.
Dasar gila,
makanya rasanya sulit untuk tidak tertawa saat bersama mereka.

Resolusi Ramadhan

Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri itu gak jauh beda sama menyambut Tahun Baru, orang-orang berlomba-lomba menyiapkan resolusi. Padahal bulan Syawal dan Bulan Muharram dipisahkan jarak 2 bulan (kalender Hijriyah), tapi rasanya suasana Tahun Baru-nya curi start. Sebelum tanggal 1 Ramadhan pun, resolusi mulai dirancang, setelah tanggal 1 Syawal, diharapnya beberapa di antaranya sudah terlaksana dan mungkin ada juga yang diharapkan berkesinambungan. Biasanya berhubungan dengan Ibadah sih.

Resolusi yang cukup umum misalnya berniat lebih rajin shalat, berniat khatam Al Qur’an, berniat puasa tanpa bolong-bolong, lebih banyak sedekah, dan seterusnya (ini contoh resolusi yang gue banget). Padahal ibadah itu bukan cuma yang keliatan seperti itu saja. Coba sesekali resolusi Ramadhannya macam ini :

  • Berniat lebih sedikit terpaksa berbohong. Kalo yang hobinya bohong, jangan pakai kata ‘terpaksa’. Kalau terpaksa, artinya ada keadaan yang membuat kita kepepet untuk berbohong, entah untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain. Mending kalo bohongnya bohong yang baik, kalau bohongnya mencelakakan orang lain kan amit-amit. Nah, semoga Allah SWT menghindarkan kita dari kondisi-kondisi seperti ini. Kalau bisa kita juga jangan sampai membuat pilihan bertindak yang menimbulkan kondisi semacam itu.
  • Berniat lebih ingat Allah SWT dan Rasulullah dibanding pacar dan jadwal tayang drama seri di televisi. Kebanyakan manusia lebih ingat hal-hal yang duniawi dibanding Allah. Mikirin pacar bisa sampe kelebet kebelet, SMS juga bisa 5 menit sekali. Tapi untuk mengingat Allah, sekedar untuk berucap Subhanallah, Alhamdulillah, atau Astagfirullah atas kejadian-kejadian kecil sekitar kita pun lupa. Coba setiap kali kangen sama pacar, sebelum SMS berucap dulu: “Alhamdulillah ya sudah dianugrahi perasaan yang semanis ini.”
  • Berniat jadi orang yang lebih peduli. Peduli itu bukan sekedar melempar koin ke tadahan orang-orang di lampu merah. Coba kadang-kadang disedekahkan doa juga. Gue kadang marah ngeliat orang yang sehat wal afiat, tapi masih aja ngemis. Nah, mulai Ramadhan ini, mau dicoba kurangin ngedumel dan diganti mendoakan mereka, “semoga mereka sadar mereka bisa mencari nafkah dengan cara yang lebih baik, dan semoga jalan itu dimudahkan.”
  • Berniat jadi orang yang tidak terlalu Riya. Ini sulit kan bagi generasi media sosial ? Rasanya dengan berbagi hal-hal yang gue niatin untuk jadi resolusi aja udah riya banget. Tapi mari dicoba sama-sama, saling mengingatkan, “HEI KAMU ! Itu kamu yang disana stop update status setiap kali selesai ibadah! “

Semoga resolusi Ramadhan kali ini bertahan lebih lama dari resolusi Ramadhan-Ramadhan sebelumnya bagi yang resolusinya sering terlupakan setelah sebulan dua bulan (apa ini cuma dialami ane ya, gan ??!), tapi bagi yang resolusinya (Alhamdulillah) selalu bertahan dan berkelanjutan, semoga resolusinya mengalami hal yang sama tahun ini.

Marhaban ya Ramadhan.
Selamat menjalankan ibadah puasa, rekan-rekan bloggers 🙂

Gambar

Dirgahayu Cinta

Waktu di sekeliling kita berjalan seiring dan sepertinya hemisfer dunia tidak pernah ingin benar-benar memisahkan kita. Ada dogma sederhana yang mengira belum begitu lama sejak pertama aku mengenal kamu, mungkin hari itu adalah hari yang juga telah diprasastikan untuk terjadi. Tiba-tiba saja saat ini anak laki-laki lugu yang kukenal berada di sisiku, sebagai pria luar biasa yang merelakan dirinya dimiliki sahabatnya sendiri.

Terima kasih sudah menjadi sosok yang bisa aku kagumi untuk diteladani, terima kasih sudah menjadi sahabat yang mendengarkan keluh kesah remeh tanpa menghakimi, terima kasih sudah menjadi kekasih yang mengayomi. Semoga tahun-tahun yang berlalu tidak ada yang sia-sia dan tahun-tahun yang akan datang selalu membuat kamu bahagia. Aku harap masa depanmu secerah matahari pagi yang kamu bangga-banggakan di setiap pagi kamu membangunkan aku dari tidur, seluas lautan yang kadang memisahkan, dan selalu selalu selalu memiliki tempat untuk aku.

Amin Ya Rabbal Alamin.

“May the odds be ever be in your favor.”

Image

Aku tidak pernah bisa menjamin
 aku mampu mencintaimu melebihi siapapun.
Aku tidak pernah bisa berjanji
 aku mampu membahagiakanmu lebih dari siapapun.
Di luar sana mungkin ada yang lebih mampu menjaga kamu,
 ada yang bisa membuatmu tertawa melebihi aku.
Tapi aku tidak akan melepaskanmu untuk siapa pun juga.
Maaf karena sudah menyayangimu dengan demikian egois,
 tapi sungguh, aku tidak lagi peduli pada standar perilaku.

Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

When I Got Over My Ex, I …

Entah kenapa banyak yang curhat kepada saya soal mantannya, soal cintanya yang hancur berkeping-keping, soal pacarnya yang berselingkuh, soal pria incarannya yang tidak juga menampakan sinyal. Terkadang saya ingin menjerit : “I’m not signing up to be your Aunt Agony !”, bukan karena saya tidak mau mendengarkan keluh kesah sahabat, tapi karena saya tidak mau melontarkan jawaban yang menyakiti hati mereka. Dan sayangnya, hanya itu lah jawaban yang (kebanyakan) benar, kejujuran itu memang selalu merupakan pil pahit.

Tapi beberapa pertanyaan dapat saya jawab tanpa harus menggunakan sembilu dan mengorbankan sekotak tisu.  Salah satunya : “Bagaimana kamu tahu kamu sudah melupakan mantan kekasihmu ?”

1. Sangat jelas, kamu tidak lagi merasa kehilangan dia.  Kamu tidak lagi memikirkan sedang apa dia saat kamu sedang sendiri, kamu tidak lagi menangis memikirkan apa yang bisa kalian wujudkan andai kalian tidak berpisah, dan hal-hal galau yang dialami orang putus cinta lainnya.

2. Kamu MEMAAFKANNYA, atau setidaknya MERELAKAN KESALAHANNYA.  Kamu tidak lagi mengumpat di jejaring sosialmu tentang dirinya, dan terutama kamu cukup dewasa untuk menerima kembali permintaan pertemanannya.

3. Kamu tidak lagi melompat setiap ada yang menyebut namanya, atau melihat fotonya yang terselip, atau status update-nya yang muncul di halaman Facebook kamu.

4. Sangat wajar jika ada rasa aneh melihat dia sedang bersama pacar barunya, ini bukan kecemburuan karena kamu masih ingin memilikinya, tapi sekedar rasa bersaingmu terusik.  Namun jika kamu terdorong untuk menjelek-jelekkan sang pacar baru, ini tanda bahwa kamu masih merasa sedikit posesif.  Dewasalah, cukup berikan dia selamat dan restu semoga berbahagia.

5.  Last but not least, kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu.  Jika kamu sendirian, ada kemungkinan bahwa ada sedikit mekanisme pembatasan diri dari dirimu sehingga orang sulit mendekati kamu, kemungkinan karena rasa terikatmu dengan mantan.  Sekalipun kamu berpasangan, bukan berarti kamu telah melupakan mantanmu.  Saat kamu merasa nyaman dengan pasangan barumu, saat kamu tidak lagi membandingkannya dengan mantanmu, saat kamu tidak lagi berpikir bahwa pacarmu bukan sekedar tropi yang menunjukkan bahwa kamu telah bertahan dan mendapat yang lebih baik dari mantanmu … itulah saat kamu benar-benar melupakan si dia yang telah berlalu.

Forgetting The Ex(es)

and trust me, I got over mine too 😀

Pararel

hari ini ibu menyuruhku berdoa,
“berdoalah, nak,
untuk jodoh yang baik,
untuk pekerjaan yang baik,
untuk masa depan yang lebih baik.”

aku pun ingin berdoa,
meminta-Nya untuk menjaga keluargaku,
menjaga bangsaku dari kelaliman saudaranya sendiri,
menyelamatkan saudara-saudaraku dari azab-Nya walau mereka pantas atasnya.

aku hening sejenak,
lalu melanjutkan mengetik tugas akhir ini.

ibu bertanya ;
“cepatnya, nak, untuk doa sedemikian banyak ?”

aku berkata :
“Tuhanku hidup dalam gelombang waktu pararel,
dalam satu detik dia dapat melakukan sejuta hal,
mengawasi milyaran ciptaannya,
dia akan dapat merangkum segala harapku,
dia tahu semuanya,
karena selama ini dia selalu mendampingiku.
Tadi aku hanya memberitahunya bahwa semuanya tidak mungkin tanpa restu-Nya.”

 

Bandung, 9 November 2010.

tundukan kepala sejenak untuk Indonesia.

Heboh Rokok Elektrik

E Cigarrete

Beberapa waktu yang lalu saya baca soal di-’haram’-kannya rokok elektrik oleh BPOM dengan alasan kadar nikotinnya tidak tercantum, kadar nikotinnya labil, dan dianggap beracun (karena masih mengandung nikotin). Waktu saya membaca artikel ini, saya berpikir “jangan-jangan akal-akalan produsen, toh yang paling dihindari kan TAR yang mengakibatkan flek, bukan nikotin yang sekedar mengakibatkan kencanduan rokok akibat terhambatnya aliran adrenalin tanpa asupan nikotin.” Tapi artikel itu (link) mencantumkan bahwa WHO juga masih belum memastikan keamanan rokok ini; bukannya karena akan mengakibatkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin, melainkan karena BELUM DAPAT dikatakan sebagai alat yang membantu menghentikan kebiasaan merokok.

APA ITU ROKOK ELEKTRIK ?

Menurut WIKIPEDIA (situs kesayangan saya), electronic cigarette (e-cigarette), atau yang dikenal juga sebagai personal vaporizer, adalah alat bertenaga baterai yang menyediakan sejumlah dosis nikotin untuk dihirup oleh penggunanya dalam bentuk UAP, sebagai alternatif dari rokok, cerutu, atau pipa tembakau yang menyuplai nikotin ke dalam tubuh penikmatnya dalam bentuk ASAP. Meski demikian, uap dari alat ini juga memberi sensasi dan rasa yang kurang lebih sama dengan rokok tanpa menghasilkan asap, melainkan sekedar uap. Di otak saya, cara kerjanya sih mirip SHISHA.

Rokok elektronik ini memiliki berbagai bentuk, mulai dari yang mirip dengan rokok, atau cerutu, atau pipa tembakau yang asli, sampai yang mirip pena saja. Model yang populer adalah jenis yang dapat digunakan berulangkali dengan bagian-bagian tertentu saja yang diganti atau di-refill. Tapi saat ini dikembangkan juga model yang sekali pakai, yang menurut saya akan memperbanyak E-WASTE.

Electronic Pipe

JADI NIKOTINNYA ADA ATAU TIDAK ?

Larutan nikotin, yang disebut juga sebagai e-liquid atau e-juice, dijual terpisah dalam bentuk catridge isi ulang, dan kadang di-‘bumbui’ dengan berbagai rasa, mulai dari menthol, kopi, karamel, sampai berbagai rasa buah. Kandungan nikotin di dalam larutan ini bervariasi, dari NOL, rendah, mengengah, tinggi, dan TINGGI SEKALI. Keterangan tentang kandungan nikotin biasanya dicantumkan di kemasannya. Larutan ini biasanya merupakan nikotin yang dilarutkan dalam Propylene Glycol (sejenis alkohol yang memiliki rasa manis, banyak di temukan di kosmetik, perlengkapan mandi, sebagai pelarut obat, dan penjaga kelembaban tembakau rokok) atau Vegetable Glycerin (Glycerol, biasa digunakan sebagai pemanis untuk diet, pelarut, dan pengawet). Keduanya adalah bahan yang tidak berbahaya untuk dikonsumsi selama ada di dalam ambang dosis yang wajar. Baca entri selengkapnya »

Petugas a-BETE : Harus Waspada DBD, atau Waspada PUNGLI ??

Kejadian NYATA yang terjadi dua hari yang lalu di kosan.

(pintu digedor kayak ada penggrebekan Narkoba, jadi saya yang masih setengah tidur loncat spontan buka pintu.)

PETUGAS : “Pagi, Mbak. Saya dari kelurahan, ini mau ngasih penyuluhan DBD.”

SAYA : “Hho ..” (ngeliatin tangan petugas yang sibuk nulis-nulis)

PETUGAS : “Ini silakan dibaca, Mbak. Tolong dipegang ini.” (ngejejelin brosur dan gunungan bungkus Abate ke tangan saya)

SAYA : “Penyuluhannya mana, mas ?”

PETUGAS : “Itu dibaca aja, Mbak, brosurnya.” (masih sibuk nulis) “Nama mbak siapa ya ?”

SAYA : “Z-E-A, mas. Itu nulis apa ya, kayak kwitansi ?”

PETUGAS : “Ini buat Abate yang Mbak pegang, jadi 30.000 rupiah aja, Mbak.”

SAYA : “Kata siapa saya mau beli ? Lagian kosan ini pake shower, sana kasih ke pengurus kosan aja.”

PETUGAS : “Khan buat ngepel, mbak. Semuanya wajib nih beli.”

SAYA : “Kosan sini dipelin.” (mulai jutek)


PETUGAS : “Semua harus partisipasi minimal 5 bungkus, mbak.” (muka melas)

SAYA : “Ya udah, sini saya bantu laporan mas deh, tapi 5 bungkus aja. Jadi pas khan 10.000 ?” (nunjuk harga Rp. 2000 di bungkus)

PETUGAS : “Wah, nggak bisa, mbak. Jadinya 15.000, soalnya sama biaya operasional dari kelurahan, seribu per bungkus.”

SAYA : “Masa sih ? Mana surat perintah operasional yang bilang ada biayanya ?”

PETUGAS : “Eh … itu ada di peraturan, Mbak, ga dikeluarin di surat gitu.”

SAYA : “Peraturan siapa, mas ?” PETUGAS : “Emmm … Dinas Kesehatan …” (gestur mulai ga sabaran)

SAYA : “Hah ? Dikeluarin kapan, mas ? Nomor berapa ? Koq ga ada penyuluhannya di kampus saya ya, khan saya fakultas hukum. Terus mas ini dari Dinkes apa Kelurahan jadinya ?”

PETUGAS : “Ada koq, Mbak, aturannya.”

SAYA : “Yang bener, mas ? Nomor berapa tuh peraturannya ? Saya Google dulu boleh ga ? Kalo nggak ada berarti mas PUNGLI loh, saya laporin loh !” (mata nyipit)

PETUGAS : “Ahhh, ya udah deh kalo mbak adanya sepuluh ribu (ngeles kurang ajar), nih ambil aja, kuitansi juga ga saya ganti nih, soalnya memang kudu segitu harganya, mbak saya diskonin loh.” (gelisah-gelisah kesel)

SAYA : “Ya udah, saya minta duit dulu ke kakak saya ya.”

Setelah penyerahan uang, sang petugas kabur secepat kilat. Sedangkan saya mendoakan semoga puasanya TETAP diberkahi oleh Allah SWT. Kemudian saya dan adik bertanya-tanya bagaimana kalau saya mengakunya dari Fakultas Biologi dan malah ceramah balik ke si petugas.  Apalagi dia beranggapan LARVASIDA bisa mengusir NYAMUK kalau dipakai mengepel.  Hari itu saya beranggapan saya beramal kepada sang petugas yang mulai keringat dingin dan gemetar setelah saya ancam dilaporkan dengan tuduhan PUNGLI.

Percakapan ini kemudian saya ekspos ke FB, dan banyak reaksi yang cukup mencengangkan.  Mari saya beri salinannya.

H.N.Z. Bah! Hahaha. Cerdas cerdas…
Kalo ibuku mah langsung neriakin mas2’a.
“harga abate seharga ongkos anak saya! Males amat.”

Sh.B. Hihi, keren lo Ze… Kalo kosan lama gw cr menghindarinya dgn masang tulisan gede d dpn gerbangnya: “NGAMEN GRATIS, ABATE APALAGI”, lumayan ngaruh jg siy, si mas2/mbak2 penjual abate ga pernah nongol lg dah d kosan gw, hehe.

Ma.A. ze,, gw pernah juga punya pengalaman ‘abete’,, kamar gw dimasukin babang” obat abate dulu pas gw lagi tidur pules”nya, hasilnya bangun” handphone gw lenyap.. setaun kemudian babang” abate dateng lagi ke kosan, terus waktu nawarin abate ama temen sekosan gw langsung diteriakin MALIIINGG, eehh langsung lari seketika ntuh si babang..

A.An.Am. hahaa..itu kan grstis ze mestinya
hahaa..gw ktawa2 bacanya
hmpir sama kyk gw.tapi gw endingnya ga beli kyk lo.cuma sm2 di kerjain dulu.

HARAPAN SAYA : semoga ada Pejabat berotak waras, apalagi dari DINKES, yang baca post ini dan berkesadaran MENERTIBKAN pembagian Abate.  Jangan bikin masyarakat jadi apatis terhadap pencegahan DBD gara-gara masalah ini.

Bagaimana pengalaman Ah BETE anda ?

« Older entries