Unending Love – Tagore

Ini adalah salah satu puisi yang (masih) (selalu) saya suka.  Puisi ini jadi terkenal karena dibacakan Gregory Peck di pemakaman Audrey Hepburn. Di bawahnya terjemahan kasarnya aja, maaf kalau jadi kurang puitis. Namanya juga usaha.

Gambar

Cinta Tanpa Akhir
Sepertinya sudah tak terhitung cintaku padamu,
dalam berbagai bentuk, dalam berbagai kesempatan,
dalam kehidupan sesudah kehidupan, dalam masa sesudah masa, selamanya.

Hatiku yang termantra telah berulang kali membuat untaian kidung,
yang kau terima sebagai sebuah hadiah,
dan kau lilitkan di lehermu dalam berbagai bentukmu.
Dalam kehidupan sesudah kehidupan, dalam masa sesudah masa, selamanya.
Tiap kali kudengar sejarah lama tentang cinta, tentang rasa sakit yang lama,
tentang kisah kuno perpisahan atau kebersamaan.
Selagi aku menatap dan menatap ke masa lalu, kau muncul di akhirnya.
Dibalut dalam cahaya bintang penunjuk arah yang menembus gelapnya waktu.
Kau menjadi gambaran sesuatu yang diingat selamanya.
Kau dan aku telah mengapung kesana dan kemari
dalam arus yang mengalir dari sumbernya,
di dalam inti waktu, cinta dari seseorang kepada seseorang lainnya.

Kita telah berlakon bersama dengan jutaan pecinta lainnya,
berbagi rasa manis malu-malu yang sama dalam pertemuan,
tangisan putus asa yang sama dalam perpisahan.
Cinta lama, namun dalam bentuk yang terus terbarui dan terbarui selamanya.
Hari ini ia menumpuk di kakimu,
menemukan akhir di dalam dirimu,

Kasih tiap-tiap manusia baik di masa lalu dan selamanya;
Suka cita yang universal, pilu yang universal, hidup yang universal.
Kenangan semua cinta menjadi satu dengan cinta satu milik kita,
dan dengan setiap lagu para pujangga di masa lalu dan selamanya.
Iklan

Ringkasan Hal-Hal Yang Belum Kuucap

Ada tekad yang terlalu malam, lalu rasa yang terlalu pagi. Terang terbit meleburkan mereka menjadi biru.
Menjadi duka. Menjadi abu.
Menjadi kecewa.

Mulanya kupikir aku dapat mengatasi semuanya, hingga pada saat akhirnya kita kembali bersua. Hasrat ingin memelukmu, seolah dunia menyempit dan hanya cukup untuk disinggahi bila kita saling merengkuh, begitu menggebu hingga mengalahkan insting dasarku untuk bernafas dengan wajar.
Ternyata aku terlalu rindu, setelah sekian lama terlalu bangga untuk menyapa.

Ini bukan cinta. Bukan.
Ini adalah harapan yang terjebak dalam siklus repetisi dekonstruksi dan rekonstruksi seiring perpisahan dan pertemuan kita.
Kamu tahu. Kamu mengerti. Tapi memilih untuk mendiamkan.
Maka rasa itu aku endapkan, berharap ampasnya akan mengering dan hanyut sebagai debu seiring waktu.

Gambar

You're still the songs I sing in the car about. Haha. Yeah.

Ruang Runyam

Pernahkah kamu merasa tertarik pada seseorang, tetapi setiap inci dari eksistensimu yang berpijak di dunia fana ini menjerit bahwa kamu telah memilih orang, atau waktu yang salah?

Tapi kamu tidak akan pernah bisa menghentikan perasaan semacam itu, meskipun tak terbalas sekalipun. Lalu kamu bertanya-tanya mengapa kamu menimpakan kesengsaraan semacam itu kepada dirimu sendiri, hanya untuk kemudian terisak dan mengeluh bahwa semua ini di luar kendalimu.

Setiap kali kalian beradu tatap sedetik lebih lama dari biasa, kamu mulai berspekulasi bahwa dia memiliki perasaan yang sama; kemudian tenggorokanmu tercekat oleh sesak yang sebelumnya tidak ada. Perbendaharaan katamu mendadak mengecewakanmu, mereka terlalu tidak memadai untuk mengungkapkan kebenaran yang ingin kamu utarakan.

Memang benar apa yang mereka katakan, bahwa sesekali kita harus berhenti melihat detail-detail sepele dan mungkin kamu akan menemukan bahwa yang kamu cari ada disana; di tempat yang paling tidak mungkin, tepat di depan matamu dan bahkan terkadang menyeruak ketika kamu tidak mengharapkannya. Namun meskipun keinginanmu mendadak muncul, bukan berarti itu ada untuk kamu raih, dan ini adalah kenyataan pahit lain yang harus ditelan. Sanggupkah kamu memelihara perasaan yang tidak disengaja tumbuh, kemudian membunuhnya sebelum bahkan ia sempat berkembang ?

Saat ini, hei, saat ini semua badai itu menerpaku. Di kulitku, mereka melihat cahaya, sukacita dan tawa. Sedang hatiku, oh segenap hatiku yang rapuh, sedang berputar dan membengkak dan melebam, mencoba untuk membuat kehadiran rasa yang baru itu meledak, membuncah di wajahku, mengumumkannya kepada dunia. KEPADA DIA. Hasrat sejati hatiku membakar seperti api, menguasai dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya, dan meninggalkan tiada apapun terkecuali debu.

Setiap hari pikiranku bersumpah membunuh rasa-rasa yang menjadi kolera di seluruh permukaan cecap amigdala, kemudian semua tergerus menjadi abu, hanya untuk kemudian bangkit kembali menjadi api  yang menghantui mimpi dan menggoda kesadaran moral yang sampai kapan pun akan membeban. Pemandangan, suara dan bau; selamanya terukir di inti nyala api, menjadi sesuatu yang tak terpadamkan. Hati, jiwa, pikiranku, segenap inti kehidupanku menahan, tercekik; terperangkap oleh duri gelap emosi berbalas kekal.

Jiwaku menjadi hitam, sebentuk cara baru untuk mengharubiru.

Dingin

Pagi itu, sayang, rasanya matahari gagal melenakan kita dalam cahaya. Alih-alih kembali ia tercebur dalam kegelapan, menyisakan sepoi kelabu membekukan pilu yang berada di ambang curah.

Kamu berujar, “relakanlah dan berbahagialah”.

Angin menggemakan kata-kata terakhirmu, kemudian semua nada di dunia terputus dalam sunyi yang memekakkan.
Lalu aku terpekur, mencecap beku di lidah dan remuk di iga yang kupikir milikmu, seraya berpikir bagaimana cara berbahagia tanpa cahaya.

"Cold and frosty morning,
there's not a lot to say about the things caught in my mind."

Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Mencerna Senja

Seandainya saja matahari tidak terlalu cepat menyerah kepada barat, mungkin kita bisa menikmati senja dengan lebih lama. Aku lelah tergopoh setiap jarum menunjuk seputaran angka lima; menuju beranda dengan terengah demi menikmati merah yang berlangsung beberapa menit saja. Rona lembayung yang diberikan langit yang tersipu itu tidak dapat disaingi oleh pagi; pagi cenderung lebih pucat, lebih kuning, lebih biru. Aku ingin merah, aku ingin senja.

***

Dia menyukai senja. Sangat menyukainya, mungkin melebihi sukanya kepada aku yang biasa-biasa saja. Seandainya aku memiliki sedikit saja semburat senja, mungkin ia akan meluangkan kata untuk bercerita tentang kita di antara cerita-cerita senjanya. Aku pernah menikmati senja bersamanya, merasakan jatuh cinta menyaksikan matahari berdarah-darah menyerah ditelan horison yang kelabu. Ada sesuatu yang romantis tentang surya yang meleleh, lalu menghilang. Tapi senja selalu mengingatkanku kepadanya, dan dia kepada senja. Tapi baginya, senja semata mengingatkannya kepada senja, dan aku hanyalah aku, yang hanya diingatnya ketika aku menghalangi retinanya menangkap senja.

***

Aku tidak pernah mengerti kenapa bisa dia merasa cemburu terhadap senja. Senja bukan manusia, bukannya aku berselingkuh atau apa. Terobsesi katanya. Salahkah mengagumi sesuatu yang begitu indah? Tapi dia selalu ingin menjadi yang nomor satu, selalu ingin menjadi pusat semestaku, bahkan mungkin melebihi diriku. Lucu, cemburu terhadap kejadian spektrum cahaya, bahkan terlalu sureal untuk kutertawakan.

***

Pukul tiga, sekitar dua jam lagi dia akan berlari menuju beranda untuk menyambut senja. Matahari sedang terik di atas kepala, bersuar tinggi dengan congkak, seolah lupa bahwa nantinya ufuk akan melumatnya.

Pukul empat, matahari mulai melayang loyo. Aku berlari menuju atap, beranda tidak mampu membantuku meraih.

***

Pukul lima. Mendadak semua terasa dingin. Apakah ini khayalanku atau di luar jendela diam-diam langit sudah menjadi gelap ? Ini baru pukul empat, senja pasti ingkar janji apabila kelam turun sebegini cepat. Ada sesuatu, entahlah, rasanya malam pun akan mengucap permisi apabila ingin bertamu lebih awal. Mungkin dengan guntur yang mengetuk begemuruh di tengkuk … tapi ah, tidak ada. Mungkin aku harus memeriksa beranda.

***

Matahari memang lemah, ternyata. Kukira dengan segala kecongkakkannya, hal ini akan lebih sulit dieksekusi. Tapi toh tidak. Saat ini sang surya yang dibangga-banggakan pagi terkulai lemah di telapak tanganku. Kulit yang menyelimuti tanganku jadi berwarna senja.

***

Kutemukan dia di beranda. Sedang terkekeh geli menatap cahaya cair yang menggeliat di tangannya. Senyumnya tampak gila. “Aku telah mengambil matahari”, katanya, “sekarang aku akan menjadi senja yang selalu kamu puja”. Lalu dia menelan matahari.

***

Matahari tidak memiliki rasa, hanya ada rasa panas dan pekat yang tidak kuhiraukan, saat ini aku terlalu terpesona menikmati matanya yang jernih terbelalak menatapku. Rasanya baru kali ini dia benar-benar menghujamkan pandangnya kepadaku, tanpa dibutakan kegemarannya akan senja. Lalu lidahku mencecap rasa tembaga.

***

Aku tidak tahu harus bagaimana saat senja mulai meleleh di sudut bibirnya. Lalu dari hidungnya. Lalu dari matanya. Aku tidak mengerti apakah ini awal dari trauma, atau semata terpesona.

Senja terus meleleh dari setiap celah di tubuhnya. Dia hanya tertawa, tertawa, tertawa. Gelaknya menggema, lalu sunyi. Senja yang menggeleguk dari sisa-sisa tubuh yang biasa kurengkuh masih terus mengalir, mengalir, mengalir. Kemudian aliran senja itu mengambang menuju langit, sebagian menghampiri, mungkin mengucap selamat tinggal, menggenangiku semata kaki.

Hangat. Merah. Amis. Darah. SENJA !

Gambar

Fase gotik. Atau sekedar terpengaruh lagu Copper Down.

Di Bulan Juni, Kamu Pergi

Hari ini aku mengunjungi tempat kamu bersemayam untuk pertama kalinya. Sempat terbayang peraduan seindah buaian di masa kita membayangkan surga dengan keterbatasan khayal kita yang duniawi ini, tapi tidak. Yang kudapati adalah tumpukan tanah merah yang mulai mengeras dan jumputan herbal wangi tertebar di sana-sini. Kakak perempuanmu tak kuasa menahan isak dari bibirnya yang persis seperti bibirmu, dan rasanya tadi aku meneteskan airmata yang pertama untuk kamu. Kekasihmu datang bersamaku, dan teman baikmu, dan juga seorang teman baikku.

Kami menyiramkan air di atas makam kamu, apakah curahan itu menyejukkan kamu disana ?
Kami memanjatkan doa untukmu, kawan, apakah itu membantumu menghadapi cecar para penjaga kubur di bawah sana ?
Apabila aku mempercepat prosesku meraih izin menjadi advokat, akankah mereka membiarkan aku membela kamu karena sungguh, kamu salah satu orang terbaik yang aku tahu ?

Ah, seandainya saat ini aku bisa kembali mengulang malam-malam saat kita sering berbalas sapa melalui lubang-lubang kecil yang menyalurkan suara kita ke udara, tentu kamu bisa menjawab pertanyaanku saat ini.

Kami mendatangi peristirahatan terakhirmu kali ini, kawan, tapi bukan terakhir kalinya kami mendatangi kamu. Karena segala tentang kamu, akan selalu terpatri, disini.

Image

Ketika muda, kupikir kita akan hidup tertawa bahagia selamanya.
Ternyata "selamanya" untuk setiap orang itu berbeda-beda.

Tua Sebelum Tidak Lagi Fana

Ketika muda, saya pikir saya akan meninggal seperti kakek saya. Tenang, dalam usia lanjut, meninggalkan keluarga yang sudah mampu berdiri sendiri.  Belum lagi saya mencapai usia balig, seorang sahabat tiba-tiba saja meninggal; tidak ada yang menyangka, tidak ada yang mampu menjawab kenapa.  Rasanya ini sebuah tamparan bagi logika saya yang masih belia, mengapa manusia seumuran saya direnggut kehidupannya sebegitu awalnya ?
Ternyata tidak semua orang mendapatkan hak istimewa untuk menjadi TUA.

Saya tidak menangis sepanjang jenazah almarhum didoakan, dikubur; bahkan ketika prosesi tiga hari, kemudian tujuh hari; airmata saya tidak juga mengalir. Sebulan berlalu, setahun berlalu, dan saya baru sadar bahwa almarhum sudah benar-benar pergi karena tidak ada lagi telepon-telepon lucu yang biasanya berdering beberapa minggu sekali. Setelah kesadaran ini timbul, barulah saya menangis sejadi-jadinya.

Pagi ini, setelah kemarin mendapat kabar bahwa bibi saya meninggal, saya bangun mendapati SMS (banyak SMS) dan PM di messenger saya bahwa salah satu karib saya semasa SMA telah dipanggil oleh-Nya. Saya membacanya. Kemudian saya minum segelas air seperti biasa, sarapan, dan duduk lagi di tempat tidur. Saya baca semua pesan itu sekali lagi, saya memeriksa jejaring sosial, dan dengan hening saya terdiam. Seperti baru tersadar dari sebuah tenung, dengan panik saya menelpon teman yang lain. Dan berita ini benar adanya, bahwa teman saya ini memang sudah mengucapkan selamat tinggal kepada saya, kepada semua rekan-rekan dan keluarganya, kepada dunia … SELAMANYA.
Rasanya baru kemarin saya bercanda dengan almarhum di jejaring sosial, baru beberapa bulan ini dia membuat Twitter, bahkan rasanya baru kemarin juga saya dan dia menikmati hiruk pikuk permainan kami sendiri di studio musik, menyaksikan dia tanpa sengaja mematahkan simbal, bermain biliar bersama, dan menyaksikan dia menjadi ketua kelas saya di kelas sepuluh.

Waktu menunjukkan pukul 16.07. Sejak berita ini dikabarkan kepada saya sekitar jam 9 pagi, saya belum meneteskan airmata sama sekali. Tidak peduli kalimat duka macam apa yang saya tuliskan di media sosial, sesungguhnya logika saya masih belum dapat mencerna bahwa almarhum tidak akan pernah membalas lagi pesan singkat saya, tidak akan berbuka bersama, dan tidak akan bersilaturahmi lagi untuk Idul Fitri yang akan datang.  Semoga saya diberi kekuatan ketika logika saya sepenuhnya terbangkitkan.

Istirahat yang tenang disana ya, teman, kami akan sekuat tenaga mengikhlaskan.

Image

In loving memory of Ahmad Fuady ( 3 December 1988 – 11 June 2012 ),
a loving son, a caring brother, a cheering friend, an inspiration.

Kehilangan

"It is a curious thing, the death of a loved one.
It’s like walking up the stairs to your bedroom in the dark
and thinking there is one more stair than there is.
Your foot falls down through the air
and there’s a sickly moment of dark surprise." 

Image

Saya selalu ingat kutipan dari film The Unfortunate Events itu karena yah, begitulah rasanya ditinggalkan orang yang dekat dengan kita, terutama yang kita sayangi; seperti menapaki tangga dalam kegelapan yang tanpa kita sangka-sangka anak tangganya lebih sedikit dari yang kita ingat. Kaki kita menginjak akhir perjalanan; maka kita pun terkejut karena terlanjur berpikir bahwa perjalanan ini lebih panjang dari ini.  Saat kita menjalani hari bersama orang yang kita kasihi, kita berpikir, masih ada hari esok, tapi kemudian yang menanti ketika pagi merekah di hari berikutnya adalah kehampaan.

Kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal semacam ini terjadi dan bertanya-tanya apakah Tuhan sedang bercanda.  Kita akan merasa, kali ini Tuhan memberikan kita cobaan yang tidak mampu kita lalui.  Kita akan merasa kesepian, sendirian, terlupakan, dan ditinggalkan.  Kita akan meratapi hal-hal yang seharusnya dilakukan ketika sang almarhum masih ada dan hal-hal yang dapat kita lakukan seandainya almarhum dapat bertahan.  Kita berpikir bahwa tidak ada orang lain yang merasakan sakit seperti kita dan tidak akan ada yang bisa mengerti.

Rasanya seperti berjalan di sebuah lorong gelap tanpa cahaya, tanpa pendamping, tanpa ada niat untuk keluar dan terkadang berharap di dalam kegelapan itu ternyata ada lubang yang akan menelan kamu menuju pusat bumi sehingga kamu tidak perlu melihat matahari terbit dan menyadari bahwa kehilangan ini benar-benar nyata.

Saya tidak akan mengkritik duka kalian yang begitu dalam, karena demikianlah memang seharusnya perasaan manusia yang sewajarnya. Manusia adalah makhluk yang rapuh, dan beberapa di antara kita masih terlalu muda untuk mencerna bahwa waktu memang sesuatu yang sangat berharga karena Tuhan menganugrahkannya secara terbatas.  Tapi akan ada harinya, kalian harus bangkit, kalian harus kembali bersinar karena masih ada orang-orang di sekitar kalian untuk dikasihi, diperhatikan, dan dibahagiakan.  Mereka menyayangimu, mereka menyayangi orang yang telah pergi meninggalkan kamu, dan mereka juga berduka karena perpisahan ini.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS 2 : 155-156)
(”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”)

Kita tidak pernah bisa menebak rentang waktu yang dipercayakan Tuhan kepada kita dan orang-orang sekitar kita.  Relakanlah, bersabarlah, karena akan ada waktunya kita akan dipanggil pula ke tempat yang lebih baik di sisi-Nya itu.  Saat ini kita dikubangi haru, namun sadarilah bahwa kita tidak akan mau merenungkan penyesalan yang sama untuk kesekian kalinya; “seandainya waktu beliau masih mampu mendampingiku, aku …”, dan seterusnya.

Berdukalah, tumpahkan air mata kalian selama waktu berkabung yang diizinkan Tuhan, lalu tersenyum, dan jalani hari-hari sebaik mungkin, lebih baik dari sebelumnya, supaya kita tidak lagi digelayuti penyesalan ketika kita meninggalkan, maupun ketika kita ditinggalkan.

"At times the world can seem an unfriendly and sinister place,
but believe us when we say that
there is much more good in it than bad.
All you have to do is look hard enough.
And what might seem to be a series of unfortunate events may,
in fact, be the first steps of a journey." 

May you rest in peace, Beloved Aunt.