Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

Iklan

Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

Petugas a-BETE : Harus Waspada DBD, atau Waspada PUNGLI ??

Kejadian NYATA yang terjadi dua hari yang lalu di kosan.

(pintu digedor kayak ada penggrebekan Narkoba, jadi saya yang masih setengah tidur loncat spontan buka pintu.)

PETUGAS : “Pagi, Mbak. Saya dari kelurahan, ini mau ngasih penyuluhan DBD.”

SAYA : “Hho ..” (ngeliatin tangan petugas yang sibuk nulis-nulis)

PETUGAS : “Ini silakan dibaca, Mbak. Tolong dipegang ini.” (ngejejelin brosur dan gunungan bungkus Abate ke tangan saya)

SAYA : “Penyuluhannya mana, mas ?”

PETUGAS : “Itu dibaca aja, Mbak, brosurnya.” (masih sibuk nulis) “Nama mbak siapa ya ?”

SAYA : “Z-E-A, mas. Itu nulis apa ya, kayak kwitansi ?”

PETUGAS : “Ini buat Abate yang Mbak pegang, jadi 30.000 rupiah aja, Mbak.”

SAYA : “Kata siapa saya mau beli ? Lagian kosan ini pake shower, sana kasih ke pengurus kosan aja.”

PETUGAS : “Khan buat ngepel, mbak. Semuanya wajib nih beli.”

SAYA : “Kosan sini dipelin.” (mulai jutek)


PETUGAS : “Semua harus partisipasi minimal 5 bungkus, mbak.” (muka melas)

SAYA : “Ya udah, sini saya bantu laporan mas deh, tapi 5 bungkus aja. Jadi pas khan 10.000 ?” (nunjuk harga Rp. 2000 di bungkus)

PETUGAS : “Wah, nggak bisa, mbak. Jadinya 15.000, soalnya sama biaya operasional dari kelurahan, seribu per bungkus.”

SAYA : “Masa sih ? Mana surat perintah operasional yang bilang ada biayanya ?”

PETUGAS : “Eh … itu ada di peraturan, Mbak, ga dikeluarin di surat gitu.”

SAYA : “Peraturan siapa, mas ?” PETUGAS : “Emmm … Dinas Kesehatan …” (gestur mulai ga sabaran)

SAYA : “Hah ? Dikeluarin kapan, mas ? Nomor berapa ? Koq ga ada penyuluhannya di kampus saya ya, khan saya fakultas hukum. Terus mas ini dari Dinkes apa Kelurahan jadinya ?”

PETUGAS : “Ada koq, Mbak, aturannya.”

SAYA : “Yang bener, mas ? Nomor berapa tuh peraturannya ? Saya Google dulu boleh ga ? Kalo nggak ada berarti mas PUNGLI loh, saya laporin loh !” (mata nyipit)

PETUGAS : “Ahhh, ya udah deh kalo mbak adanya sepuluh ribu (ngeles kurang ajar), nih ambil aja, kuitansi juga ga saya ganti nih, soalnya memang kudu segitu harganya, mbak saya diskonin loh.” (gelisah-gelisah kesel)

SAYA : “Ya udah, saya minta duit dulu ke kakak saya ya.”

Setelah penyerahan uang, sang petugas kabur secepat kilat. Sedangkan saya mendoakan semoga puasanya TETAP diberkahi oleh Allah SWT. Kemudian saya dan adik bertanya-tanya bagaimana kalau saya mengakunya dari Fakultas Biologi dan malah ceramah balik ke si petugas.  Apalagi dia beranggapan LARVASIDA bisa mengusir NYAMUK kalau dipakai mengepel.  Hari itu saya beranggapan saya beramal kepada sang petugas yang mulai keringat dingin dan gemetar setelah saya ancam dilaporkan dengan tuduhan PUNGLI.

Percakapan ini kemudian saya ekspos ke FB, dan banyak reaksi yang cukup mencengangkan.  Mari saya beri salinannya.

H.N.Z. Bah! Hahaha. Cerdas cerdas…
Kalo ibuku mah langsung neriakin mas2’a.
“harga abate seharga ongkos anak saya! Males amat.”

Sh.B. Hihi, keren lo Ze… Kalo kosan lama gw cr menghindarinya dgn masang tulisan gede d dpn gerbangnya: “NGAMEN GRATIS, ABATE APALAGI”, lumayan ngaruh jg siy, si mas2/mbak2 penjual abate ga pernah nongol lg dah d kosan gw, hehe.

Ma.A. ze,, gw pernah juga punya pengalaman ‘abete’,, kamar gw dimasukin babang” obat abate dulu pas gw lagi tidur pules”nya, hasilnya bangun” handphone gw lenyap.. setaun kemudian babang” abate dateng lagi ke kosan, terus waktu nawarin abate ama temen sekosan gw langsung diteriakin MALIIINGG, eehh langsung lari seketika ntuh si babang..

A.An.Am. hahaa..itu kan grstis ze mestinya
hahaa..gw ktawa2 bacanya
hmpir sama kyk gw.tapi gw endingnya ga beli kyk lo.cuma sm2 di kerjain dulu.

HARAPAN SAYA : semoga ada Pejabat berotak waras, apalagi dari DINKES, yang baca post ini dan berkesadaran MENERTIBKAN pembagian Abate.  Jangan bikin masyarakat jadi apatis terhadap pencegahan DBD gara-gara masalah ini.

Bagaimana pengalaman Ah BETE anda ?

Legenda Makam Mbah Priok

Insiden Makam Mbah Priok yang baru-baru ini terjadi menggugah minat saya terkait Makam ini sendiri, karena saya terus terang malas mengamati para aparat yang masih saling mengoper tanggung jawab.  Saat saya bertanya kepada teman saya yang notabene bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi, dia menjawab “gue malah baru tau ada yang namanya Mbah Priok”.  Jadi, saya melakukan telusuran sederhana dari Google, meskipun saya sepenuhnya menyadari bahwa penelusuran Google tidak sebanding dengan riset yang sesungguhnya, tapi setidaknya akan cukup menjawab pertanyaan kita.  Berikut adalah cerita yang saya gabung-gabungkan dari berbagai sumber.

Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, memang bukan sembarang makam. Mbah Priok, yang nama aslinya adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, merupakan salah satu tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam. Dia berasal dari Pulau Sumatera, tepatnya dari daerah Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan.

Selama dua bulan, beliau dan rombongannya mengarungi lautan dengan menggunakan perahu. Apesnya, perahu mereka berpapasan dengan armada kapal perang Belanda. Tanpa peringatan, Belanda menghujam mereka dengan meriam. Meskipun demikian, tidak satupun peluru meriam itu mengenai perahu mereka.

Perahu yang mereka tumpangi juga sempat dihantam ombak besar sehingga menghanyutkan seluruh perbekalan. Ketika itu, yang tersisa hanyalah periuk untuk menanak nasi dan sedikit beras yang sudah berserakan. Beberapa hari berikutnya, ombak besar kembali datang dan membuat perahu terbalik. Musibah itu menewaskan tiga rekan yang menyertai. Namun Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad selamat. Dengan kondisi yang lemah, pada tahun 1756, mereka terseret ombak hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama. Baca entri selengkapnya »

Aku, JAI, dan Anomali Demokrasi

Kasus ini berawal dari pemahaman sebuah institusi agama yang akhirnya meluas menjadi permasalahan negara. Peran negara sangat menentukan dalam hal ini. Tetapi, soal Ahmadiyah menjadi batu ujian yang krusial bagi negara. Terutama karena Indonesia adalah sebagai negara hukum, dan Indonesia adalah negara yang mengakui pluralitas.

Reaksi penolakkan masyarakat terhadap ajaran Ahmadiyyah sudah mulai mengarah kepada kekerasan. Hal ini tentunya menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat, tidak hanya penganut aliran Ahmadiyyah, namun juga masyarakat secara luas. Belum lagi dengan sebuah seruan anarkis yang kian marak, yaitu “darah penganut aliran Ahmaiyyah adalah halal untuk ditumpahkan”.

Kemampuan negara melindungi Ahmadiyah dapat menjadi tolak ukur kemampuan negara untuk melindungi kelompok minoritas keyakinan yang mungkin ada atau eksis di belantara keyakinan dan keberagamaan di Indonesia. Sehingga secara berkebalikan maka kegagalan negara untuk melindungi kelompok minoritas (apapun) akan melahirkan ancaman bagi eksistensi minoritas dari kelompok-kelompok mayoritas.

Tapi seandainya akidah Ahmadiyah dianggap berbeda, orang Ahmadiyah pun masih berhak “menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya itu”. Selama ini, Ahmadiyah tetap konsisten menjalankan program kemanusiaan dan menyerukan perdamaian. Ajaran Ahmadiyyah itu sendiri tidak melanggar norma-norma dan kaidah-kaidah bermasyarakat secara umum. Dalam kerangka Negara Hukum RI, mereka tetap berhak memperoleh hak-hak asasi mereka, khususnya dalam menjalankan agama menurut kepercayaan mereka sendiri.

Problem kepercayaan ini tidak sederhana, karena melibatkan banyak hal, seperti kepercayaan tertentu, ajaran agama, hukum dan juga Hak Asasi Manusia (HAM). Beberapa solusi yang dihasilkan, seperti sebaiknya Ahmadiyah menjadi agama sendiri justru ditolak oleh JAI, atau kepercayaan ini tetap dihormati dan justru diakomodir di MUI dengan menyertakan wakilnya juga tidak diterima.
Yang lucu lagi, jika mengingat sejarah sampai tercetusnya SKB Tiga Menteri ini adalah demi ‘memburu’ seorang buronan pelaku kekerasan dari sebuah organisasi keagamaan. Lalu, pemerintah kita lebih memilih melangkahi konstitusi, daripada melanjutkan perburuan tersebut.

Baca entri selengkapnya »

PARODI : Hey Henry Paulson

original song:  HEY THERE DELILAH – PLAIN WHITE T’S

Hey Henry Paulson,
What’s it like in New York City?
Heard that AIG was coming down,
But now they’re sitting pretty.
Thanks to you.
Man, I could use a bailout too,
I swear it’s true.

Hey Henry Paulson,
Don’t you worry ‘bout explaining,
We’ll just borrow from our grandchildren,
I don’t hear them complaining.
Sleight of hand,
Just in case you need a back up plan-
Invade Iran.

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.

Hey Henry Paulson,
I know times are getting hard,
And when the housing prices fell
Your friends were hoist by their petard.
Oh, what a swerve.
That we should get what they deserve.
It seems absurd.

Hey Henry Paulson,
I’ve got so much more to say,
But all the banks I couldn’t pay my debt to
Took my words away,

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me

A trillion bucks seems pretty large,
To put into a great big barge,
Then close our eyes and just give you the key.

You’ll come back in a ragged raft,
With remnants of their criminal acts,
And sell us what they couldn’t dump for free.

Henry I can promise you,
That by the time that you get through,
The USA will never be the same,
And you’re to blame.

Hey Congress People,
Just be good and don’t you listen.
Two months and he’ll be outta here
And you just might be with him, if you do.
You know it all comes down to you.
You can vote however you want to.
Hey Henry Paulson here’s to you,
This one’s for you.

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.

*hahaha..
Henry Paulson itu US Treasury Secretary, tahun 2006.  AIG itu American International Group, sebuah badan ketenagakerjaan.
Aih, lucu banget.  Pengen juga ngomong sesuatu kayak gini ke pejabat kita.  I love the “invade Iran” part!

Mau Pintar?? Makanya Bayar!!!

Fenomena biasa di Indonesia.  Yang ga bayar ya ga boleh pintar.  Kemaren gue daftar, pagi-pagi ke SBA FH UNPAD yang kecil, sumpek, dan penuh orang-orang tidak peduli terhadap nasib anak kos.  Mungkin ada, tapi saya belum pernah ketemu.

Gue langsung nyodorin aja kertas RKRS gue yang masih hot dari printer, secara baru online pas malemnya.  Si admin, yang lagi ngorekin kukunya, nyuruh gue minta tanda tangan wali gue dulu.  Maklum, sistem online masih baru, jadi gue masih dudul.  Pas gue mau beranjak, ada seseorang yang tampaknya senior gue lagi bersusah hati karena RKRS-nya ditolak dengan alasan belum teregistrasi, padahal rekening dia udah diautodebet.  Usut punya usut, dia baru nyetor ke BNI baru-baru ini, karena baru aja dikirimin.  Tapi dengan nyantainya, admin sebelah, sambil garuk-garuk dada ga peduli, bilang kalo autodebet di atas tanggal 27 belum masuk dan si kakak disuruh balik minggu depan, ato ngurus rekening koran.

Gue jadi mikir, telat bayar aja jadi ribet gini yah.  Padahal autodebetnya khan langsung.  Apalagi pas udah mulai belajar lho, payah!

Katanya perpustakaan menyediakan buku bagi yang ga mampu, tapi setiap semester selalu ada temen gue yang dikata-katain dosen karena membawa referensi yang ga relevan.  Apaan tuh?

Bahkan kelas gue pernah diwajibin beli jurnal hukum.  Parah ah.  Kayaknya jaman sekarang ga bakal ada lagi the next BJ Habibie deyh.  Yang miskin silakan terus bermimpi, yang kaya boleh tetep bego asal moyangnya punya duit yang cukup untuk jajanin 14 turunannya belanja di Hongkong.

Mitologi Dewi Keadilan

JUSTITIA

Dewi Themis

Dalam legenda Yunani kuno, terdapat kisah tentang Themis, personifikasi keadilan yang coba dihadirkan manusia sebagai sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Themis dalam mitologi Yunani adalah salah seorang Titan wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Zeus. Ia memiliki anak yang didapatkannya dari hubungannya dengan Zeus, yaitu Horae (dewi-dewi pengatur hukum dan pengaturan: Eunomia (tatanan hukum), Diké (keadilan), dan Eirene (perdamaian)) dan Moirai (dewi-dewi perajut takdir: ClothoLachesis, dan Atropos)

Themis berarti Hukum Alam. Ia adalah tubuh dari aturan, hukum, dan adat. Sedangkan dalam legenda Romawi, Dewi Keadilan lebih dikenal sebagai Iustitia atau Lady Justice. Themis lebih melambangkan hukum alam yang tercipta oleh para dewa, sedangkan Iustitia murni perupakan personifikasi moral dalam proses peradilan.

Baca entri selengkapnya »