Swadaya

Raga yang dititipkan kepadamu belum hendak menjejak riak kefanaan dengan ringkih,
maka halangilah jiwamu merasa purna akan usia.

Tiap-tiap perkara yang terhanyut bersama waktu pada akhirnya akan menepi,
lelah menari bersama arus,
meraba citra elusif tentang mimpi yang dahulunya berkibar sebelum akhirnya angin meracau mati tepat di tepian buritan.

Tapi bukankah imaji di kepalamu masih nyata menderu?
Berhenti bersimpuh,
saat kau tertunduk mendamba kembalinya asa yang sekian lama menjadi cecapan tempatmu bergelayut menengadah,
maka dunia akan menginjakmu.
Masamu melaju bukan semata karena optimisme dan puja-puji,
melainkan karena kamu belum berhenti mencoba terus melangkah.

Berdirilah, beri lindap di atas mereka yang menghalangi cahayamu.
Karena kamu masih sempat menjadi lebih hebat.
Umurmu, toh, baru dua puluh empat.

Happy Birthday, ARALE!

Mereka bilang, "sebaiknya mulai sekarang lo dipanggil "Arale"",
seperti karakter kartun itu.
Aku bilang, "terserahlah".
Tiga minggu kemudian, mereka bawakan aku kue
yang tidak bertuliskan nama asliku.
Dasar gila,
makanya rasanya sulit untuk tidak tertawa saat bersama mereka.
Iklan

HANGOUT SPOT: Cabe Rawit

Cabe Rawit adalah tempat nongkrong favorit saya sejak pertama kali menginjakan kaki saya di Universitas Padjadjaran. Ate my first lunch as university student there. Dan mengalami kejambretan pertama kali juga disana, gak di kafenya sih, tapi waktu lagi jalan kesana. Anyway, cabe rawit ini berlokasi gak jauh dari kampus tercinta saya itu, sekitar 200 meter, jadi tinggal jalan kaki. Alamatnya di Jalan Teuku Umar No. 7. Kalo kamu kebetulan ada di Jalan Dago, nah, Jalan Teuku Umar ini diapit di antara FO Jet Set dan FO Grande. Kalau kamu belok dari arah itu, Cabe Rawit ada di sebelah kiri, bersebrangan dengan Galeri Lukis Ikatan Pelukis Wanita Indonesia dan Lapangan Sepakbola Coblong.  Ada juga cabang lain di seberang Universitas Parahyangan Ciumbeleuit.

View Depan

Disini menunya variatif, ada tradisional, Western, dan Chinese. Setau saya, menu yang di Teuku Umar lebih komplit dibandung yang di Ciumbeleuit, tapi ada banyak renovasi dan update, jadi saya gak tau apakah sekarang juga masih beda. Menu Tradisional yang wajib dicoba tuh Sop Iga, seger dan porsinya masuk akal. Mungkin kalau buat cowok, nasi putih yang dibentuk tumpengan mini ini kurang, tapi buat saya sih cukup banget.  Ada juga menu-menu ala carte seperti Kangkung Hotplate yang yummy banget dengan telur puyuh dan potongan daging sapinya.
Sop Iga

Favourite meal? Nasi Timbel Mbok Berek. Lengkap, banyak, mengenyangkan. Isinya lengkap, nasi putih yang ditimbel (dibungkus dalam daun pisang), ikan asin renyah, tempe dan tahu goreng, dilengkapi sambal dan lalapan. Gak lupa, ada semangkuk kecil sayur asem yang seger buat pelengkap. Nyam banget kalo dinikmati di jam makan siang setelah 4 SKS yang melelahkan (curcol detected).  Di bulan puasa, kafe ini juga menyediakan buffet di jam buka yang biasanya langsung rame diserbu karena tempatnya cozy, tajilnya free, dan harga buffet-nya masih sesuai sama uang jajan mahasiswa, jadi sebaiknya tag tempat langsung setelah shalat Ashar, sekitar jam 5-an sudah harus ada di tempat atau reservasi aja dari siang.

Nasi Timbel

Di kafe ini ada banyak camilan yang bisa dipesen untuk ngobrol-ngobrol kece. Misalnya keju gulung, bala-bala, omelet, tahu pletok, dst.  Dan minumannya juga oke.  Salah satu kesukaan saya itu Chocovendish, jus pisang dicampur cokelat. Saya bukan tipe yang hobi diet, jadi kadang sekali minum dua gelas aja. Hahaha .. Favorit yang lain itu Lychee Elixir, es teh sirup leci dan buah leci diaduk jadi satu. Nyam nyam nyam, I’m a sucker for iced flavored tea.

Lychee Elixir

Kafe ini gak terlalu populer kayaknya di luar lingkungan Dipati Ukur atau Ciumbeleuit dan sekitarnya, saya kurang ngerti kenapa, padahal makanannya enak dan tempatnya nyaman.  Tapi entah kenapa ada aura yang mencerminkan bahwa kafe ini memang lebih cocok untuk keluarga, ini sih kesan yang saya tangkap di cabang Dipati Ukur, apalagi dengan banyaknya pengunjung yang kelihatan sudah dewasa.  Kalau cabang Ciumbeleuit, dipenuhi anak muda dan harganya juga lebih murah dari cabang Dipati Ukur.  But it really is a place to eat conveniently, dan saya suka sikap pelayannya yang tegas soal pembagian seat smoking dan non-smoking. Jadi, kalo ke Bandung, coba nyicip makan disini yaa 😉

View Dalam

By the way, tulisan soal Siete Cafe sudah diperlengkap. Check it out!
visit our site and follow our IG @zeabrizkie for fashion stuffs!
150525113058_newlogo-POLKAlight

FOOD JOURNEY: Starbucks Coffee

Siapa sih yang gak tau Starbucks? (Kalo ada, maaf banget ya. But seriously, watch TV or read modern books). Starbucks Corporation adalah sebuah perusahaan Amerika yang secara global mengelola puluhan ribu gerai kopi di seluruh dunia; tepatnya 20,366 gerai yang tersebar di 61 negara,  termasuk 13,123 gerai di Amerika Serikat sendiri, 1,299 di Kanada, 977 di Jepang, 793 di Inggris, 732 di Cina, 473 di South Korea, 363 di Mexico, 282 di Taiwan, 204 di Filipina, 164 di Thailand dan 3 di India.

Logo Starbucks Pertama

Logo Starbucks Pertama

Starbucks pertama kali buka di Seattle, Washington, tertanggal 30 Maret 1971, dan masih berpusat disana. Pendirinya sendiri adalah Jerry Baldwin yang merupakan guru Bahasa Inggris, Zev Siegl yang merupakan seorang guru Sejarah, dan Gordon Bowker yang merupakan penulis. Awalnya, perusahaan ini akan dinamakan Pequod, seperti nama kapal penangkap paus di dalam novel Moby-Dick, tapi nama ini ditolak. Wajar sih, susah diingat kan?

Starbucks New

Logo Starbucks Pasca 1987

Perusahaan ini tetap berpatokan pada novel Moby-Dick, dan akhirnya dinamakan Starbuck seperti nama Kelasi Kelas Satu yang bertugas di Pequod. Starbuck sendiri digambarkan sebagai kelasi yang bijaksana dan intelektual dari Nantucket. Starbuck diceritakan telah menikah dengan seorang putra sebelum menjadi kru kapal Kapten Ahab. Starbuck pernah berselisih dengan Kapten Ahab, disalahkan meski yang dilakukan Starbuck justru adalah hal yang benar.  Akhirnya, Starbuck berbalik berkhianat kepada Ahab yang dianggapnya terlampau terobsesi kepada paus yang mereka kejar.  Tidak ada kaitan antara Starbuck dengan kopi, meski beberapa orang bersikukuh mengatakan bahwa Starbuck adalah kelasi pecinta kopi.

Starbuck
Starbucks menyediakan berbagai jenis minuman dari kopi, susu, buah, dan teh, panas ataupun dingin, dengan beragam pilihan kudapan. Favorit saya? Mocca Frappucino tanpa whipped cream yang didampingi dengan Cheese Puff renyah.  Starbucks juga terkenal dengan konter musik dunianya. Sebelum berkontrak dengan Apple iTunes, Starbucks biasanya menjual CD musik-musik tradisional dunia di kasir-kasirnya.  Setelah berkontrak dengan iTunes, musik yang ditawarkan Starbucks pun jadi lebih beragam. Tidak ketinggalan juga berbagai merchandise, seperti tumbler, coffee pot, dan terutama boneka beruang mereka yang terkenal, didandani sesuai musim.  Starbucks juga menjual kopinya, yang berbentuk biji, ataupun yang sudah digiling.  Bagi yang tidak memiliki penggiling, langsung minta kasir untuk menggilingkan di tempat.

My Mocca Frappucinno
Di Indonesia sendiri saat ini sudah berdiri sekitar 125 gerai Starbucks. Pertama kali dibuka di Plaza Indonesia, sesuai plakatnya ini.  Sebelumnya, Starbucks sudah lama mengimpor kopi dari Sumatra dan Sulawesi dan hingga saat ini masih salah satu menu andalan Starbucks.  Gerai kopi yang memiliki logo bergambar Siren (sejenis putri duyung, digambarkan cantik dan pandai bernyanyi) ini juga sekarang menyediakan kopi siap saji dalam kemasan yang bisa kita beli di berbagai department store.

Plakat Starbucks di Plaza Indonesia

Sering bingung dengan istilah yang digunakan di Starbucks? Pelajari list di bawah sebelum kamu berangkat kesana bareng teman atau gebetan and avoid the shame. Yang pertama adalah mengenai UKURAN. Di Starbucks, mereka gak menanyakan small, medium, atau large. Meski mereka tetap mengerti kalau kamu gunakan istilah ini pun, ada baiknya kamu menghapal juga istilah yang mereka gunakan yang berasal dari Bahasa Italia.

  • Demi‘Demi’ sendiri, uniknya, bukan berasal dari Bahasa Italia, melainkan Bahasa Perancis yang artinya ‘setengah’.  Ini adalah ukuran terkecil di Starbucks yang biasanya digunakan untuk Espresso.  Espresso standar biasanya hanya disajikan dengan ukuran satu ons, tapi ‘Demi’ di Starbucks menampung tiga ons atau setara dengan 89 mL Espresso.
  • Short‘Short’ adalah istilah orisinil gerai Starbucks yang menampung delapan ons atau 240 mL yang merupakan jumlah standar kopi yang biasa kita minum di rumah dengan cangkir kita sendiri.  Karena ukuran ‘Demi’ hanya digunakan untuk Espresso, bisa dibilang ini ukuran terkecil di Starbucks.
  • Tall‘Tall’ juga istilah orisinil Starbucks yang lain, dan disetarakan dengan ‘small’, yang mengimplikasikan ‘Short’ adalah ‘Extra Small’. Makanya, kalau kamu memesan dengan bilang ‘small’, ada kemungkinan kamu malah dikasih ‘Tall’  dan terpaksa menghabiskan 12 ons atau 350 mL kopi. Baca entri selengkapnya »

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

HANGOUT SPOT: Food Opera

Masih lanjut ya seri petualangan saya jadi turis di Bandung. Seumur-umur disini dulu, males dokumentasi sih. Food Opera ini lumayan baru sih, setau saya, dulunya ini Prefere 72, yang sempet juga jadi lokasi syuting film “From Bandung With Love“. Lokasinya di Jalan Dago (HR. Djuanda), persis di seberang Kartika Sari. Spesialisasi kafe ini masakan Timur Tengah dan Steak yang diklaim sebagai steak paling empuk. Masakan yang berbau padang pasirnya berupa Nasi Mandhi, Nasi Madguth, Nasi Kebuli, dan juga Nasi Biryani. Nasinya beda dari yang biasa kita makan, bentuknya pipih panjang dan rasanya lebih kering. Ini enak banget, reader, kemarin saya coba Kebulinya, pake Kebab Kambing, enak-enak-enak. Gak usah ragu untuk makan nasinya bareng taburan kismis sama kacang mede yang dicampur disitu. Kalau gak dimakan bareng, nanti rasa nasinya lebih asin.

Nasi Kebuli Food Opera

Steak yang diklaim paling empuk sama kafe yang berbagi lokasi sama Factory Outlet BRIGHT itu juga nggak main-main, memang empuk banget. Mungkin dipotong sama garpunya juga bisa deh, sepertinya dagingnya sudah digebuk dengan sepenuh hati sampe sedemikian empuknya. Jangan khawatir, masih kerasa kok bandelnya tekstur daging yang khas itu. Sayangnya, mashed potatonya agak kurang garem nih pas saya coba menu yang satu ini. Bleh.

Tenderloin Steak Food Opera

Minumannya variatif, biasanya saya cuma minum teh sih. Tapi di bukunya ada menu-menu unik semacam Beras Kencur atau Kunyit Asam dengan berbagai selera fusi, mulai dari yang original seperti yang biasa kita minum di rumah nenek sampe yang dicampur cokelat lah, green tea lah, strawberry dan sebagainya. Budget makan dan minum disini mulai dari 30 – 50 ribu per orang, murah meriah dan kenyang. Buat yang hobi, bisa ditambah shisha juga seharga 35 ribu per use. Sayangnya shisha-nya kurang recommended nih, uapnya agak lebih tajam dibanding shisha-shisha lain yang pernah saya coba, sedikit serak setelah shisha disini. Tapi makanannya oke dan suasananya oke banget, apalagi pake ada kolam-kolam berkura-kura segala. Overall, it’s a nice place to hang out and actually eat 😀

Food Opera

HANGOUT SPOT: Siete Cafe

Sudah lama gak ke Bandung, akhirnya saya bisa balik lagi ke Bandung tanpa harus mikirin beres-beres kosan atau ngerjain tugas yang belum sempet dikerjain sepanjang liburan. I’m officially a tourist now.  Untungnya, dua adik saya masih kuliah di Bandung, di fakultas yang sama dengan saya, di kosan lama saya pula.  Maka sebagai culinerd sejati, selama saya menginap, saya mencari-cari informasi soal tempat nongkrong baru. And they took me to Siete Cafe.

Siete Menu
Siete Cafe ini lumayan baru, buka di sekitar tahun 2011-2012 kayaknya, pokoknya after I graduate.  Tempatnya cozy dan menawarkan wi fi gratis. Berlokasi di antara UNPAD dan ITB, kafe ini jadi sasaran mahasiswa-mahasiswi yang demen nongkrong sampe ketiduran di kafe.  Alamatnya di Jalan Sumur Bandung Nomor 20.  Buat yang gak hafal nama jalan dan gak terlalu bisa memanfaatkan google maps seperti saya, silakan cari McD Simpang yang lokasinya adalah ke arah atas dari Kartika Sari. Kalau kamu sudah melihat McD simpang ini, siap-siap belok kiri di perempatan yang letaknya memang di kedua sisi McD Simpang Dago (now you know where they get the name). Setelah belok, arus akan membawa kamu untuk belok lagi ke kiri. Slow down, karena gak jauh dari situ, ada kafe bernuansa putih-biru yang merupakan highlight kita kali ini. Siete Cafe.

Siete Wide Window
Interior Siete Cafe ngingetin kita sama navy and sailor, the classic blue and white plus furnitur kayu.  Ada spot yang saya suka banget; wooden bench, dilengkapi bantal-bantal putih empuk, yang menempel di jendela besar. Cocok untuk duduk rumpi, baca buku, bikin tugas, foto-foto dan kegiatan pengunjung kafe lainnya.

Medalion

Tentunya kita gak mampir kafe cuma untuk liat-liat kan, this isn’t museum. So, we raided the menus. Dari menu appetizer, saya suka banget Tomato Soup-nya yang milky dan cheesy, padahal saya bukan penggemar tomat. Kebetulan nyicip punya adik, dan ternyata luar biasa enak, apalagi sambil dicelup sama crouton alias potongan roti panggang. Chicken Wings-nya juga oke untuk penggemar sayap ayam renyah, tapi saya kurang suka karena dilumuri saus BBQ. Gak ada yg salah dengan saus mereka ini, tapi di resto manapun itu, saya memang gak suka saus barbecueMain course yang dimakan hari itu macam-macam. Ada Entrecote Steak, konon menu ini diminta pertama kali oleh Lady Diana di Buckingham, isinya adalah Mashed Potato, tenderloin yang disiram mushroom sauce, lalu cauliflower dan brokoli yang di-blanch sampai matang. Ada juga Beef Medalion dengan tiga pilihan saus; BBQ (again!), mushroom, dan satu lagi saya lupa namanya, tapi ini signature sauce-nya grill menu Siete. Seandainya mereka punya blackpepper sauce, pasti lebih enak, kaerna menurut saya tiga saus ini terlalu blend buat mendampingi menu yang juga blend ini.  Tapi, mashed potato mereka boleh diacungi jempol.  Nah, adik saya sendiri memesan Chicken Curry yang rasa karinya ringan dan lembut, seperti kari-kari ala Melayu atau Thailand, bukan kari India yang kadang terlalu kaya rasa di lidah saya.

Strawberry Frio
Bandung selalu punya tempat istimewa untuk makanan manis, di Siete juga ada menu yang bikin saya penasaran. Cheesecake in a can. Cheesecake ini ada berbagai rasa, dan harganya start 22000, bisa makan on the spot atau dibawa pulang.  Minuman segar yang ada di foto saya ini namanya Frio, pada dasarnya adalah Iced Flavored Tea. Yang saya pesan ini Strawberry dan Peach. Untuk Strawberry Frio, ada potongan strawberry dan selasih di dalamnya. Untuk Peach Frio, ada potongan peach kalengan di dalamnya. Seger dan dikemas dengan menarik.

Cheese

Overall, rate saya untuk kafe ini 3,5 dari 5.  Harganya affordable, sekitar 6000-80000 rupiah, dan tempatnya cozy and clean.  Tempat parkirnya lumayan menampung, space kafe juga luas dengan musik lounge asik dan akustik ruang yang mendukung. No wonder, konser mini Sungha Jung diadakan disini.  Pelayanannya cepat dan ramah, dan memiliki EDC berbagai bank, didukung juga sama interior yang oke.  But seriously, dude, makanan disini gak terlalu mengenyangkan.  Memang enak, tapi porsinya tanggung. Lebih cocok untuk jam brunch (antara sarapan dan makan siang) atau coffee break, atau supper (sebelum atau sesudah makan malam), dan bukan untuk jam makan utama.  Jadi, lebih cocok untuk bener-bener hangout atau nge-date dibanding untuk benar-benar cari makan. Have fun at Siete, then, folks!