Durasi

Sejenak pun kilat melecut, tetap dia membawa cahaya.
Sadarkah kamu bahwa dekapnya memang pernah nyata ?

Manusia memuja durasi,
hanya karena sesuatu lekang lebih lama,
hanya hal itu saja yang diakui fana adanya.

Hati memiliki relativitas yang tak mampu kau ukur
dengan gemulai tarian tangan yang mengitari urai alur masa.
Biarlah rasa-rasa yang mereka pandang sebelah mata itu melesat,
meninggalkan sinisme dunia untuk semata layu karena waktu,
mati karena lelah bukan karena kalah.

Kekal itu bukan milik kita,
kamu sendiri yang berkata ingin berdansa dengan logika.
Debar ini pun bersembunyi bukan karena rapuh,
maka nikmati saja desir pasir yang jatuh.

Untuk KAMU, August Rush ♥

Ruang Runyam

Pernahkah kamu merasa tertarik pada seseorang, tetapi setiap inci dari eksistensimu yang berpijak di dunia fana ini menjerit bahwa kamu telah memilih orang, atau waktu yang salah?

Tapi kamu tidak akan pernah bisa menghentikan perasaan semacam itu, meskipun tak terbalas sekalipun. Lalu kamu bertanya-tanya mengapa kamu menimpakan kesengsaraan semacam itu kepada dirimu sendiri, hanya untuk kemudian terisak dan mengeluh bahwa semua ini di luar kendalimu.

Setiap kali kalian beradu tatap sedetik lebih lama dari biasa, kamu mulai berspekulasi bahwa dia memiliki perasaan yang sama; kemudian tenggorokanmu tercekat oleh sesak yang sebelumnya tidak ada. Perbendaharaan katamu mendadak mengecewakanmu, mereka terlalu tidak memadai untuk mengungkapkan kebenaran yang ingin kamu utarakan.

Memang benar apa yang mereka katakan, bahwa sesekali kita harus berhenti melihat detail-detail sepele dan mungkin kamu akan menemukan bahwa yang kamu cari ada disana; di tempat yang paling tidak mungkin, tepat di depan matamu dan bahkan terkadang menyeruak ketika kamu tidak mengharapkannya. Namun meskipun keinginanmu mendadak muncul, bukan berarti itu ada untuk kamu raih, dan ini adalah kenyataan pahit lain yang harus ditelan. Sanggupkah kamu memelihara perasaan yang tidak disengaja tumbuh, kemudian membunuhnya sebelum bahkan ia sempat berkembang ?

Saat ini, hei, saat ini semua badai itu menerpaku. Di kulitku, mereka melihat cahaya, sukacita dan tawa. Sedang hatiku, oh segenap hatiku yang rapuh, sedang berputar dan membengkak dan melebam, mencoba untuk membuat kehadiran rasa yang baru itu meledak, membuncah di wajahku, mengumumkannya kepada dunia. KEPADA DIA. Hasrat sejati hatiku membakar seperti api, menguasai dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya, dan meninggalkan tiada apapun terkecuali debu.

Setiap hari pikiranku bersumpah membunuh rasa-rasa yang menjadi kolera di seluruh permukaan cecap amigdala, kemudian semua tergerus menjadi abu, hanya untuk kemudian bangkit kembali menjadi api  yang menghantui mimpi dan menggoda kesadaran moral yang sampai kapan pun akan membeban. Pemandangan, suara dan bau; selamanya terukir di inti nyala api, menjadi sesuatu yang tak terpadamkan. Hati, jiwa, pikiranku, segenap inti kehidupanku menahan, tercekik; terperangkap oleh duri gelap emosi berbalas kekal.

Jiwaku menjadi hitam, sebentuk cara baru untuk mengharubiru.

Dingin

Pagi itu, sayang, rasanya matahari gagal melenakan kita dalam cahaya. Alih-alih kembali ia tercebur dalam kegelapan, menyisakan sepoi kelabu membekukan pilu yang berada di ambang curah.

Kamu berujar, “relakanlah dan berbahagialah”.

Angin menggemakan kata-kata terakhirmu, kemudian semua nada di dunia terputus dalam sunyi yang memekakkan.
Lalu aku terpekur, mencecap beku di lidah dan remuk di iga yang kupikir milikmu, seraya berpikir bagaimana cara berbahagia tanpa cahaya.

"Cold and frosty morning,
there's not a lot to say about the things caught in my mind."

Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Mencerna Senja

Seandainya saja matahari tidak terlalu cepat menyerah kepada barat, mungkin kita bisa menikmati senja dengan lebih lama. Aku lelah tergopoh setiap jarum menunjuk seputaran angka lima; menuju beranda dengan terengah demi menikmati merah yang berlangsung beberapa menit saja. Rona lembayung yang diberikan langit yang tersipu itu tidak dapat disaingi oleh pagi; pagi cenderung lebih pucat, lebih kuning, lebih biru. Aku ingin merah, aku ingin senja.

***

Dia menyukai senja. Sangat menyukainya, mungkin melebihi sukanya kepada aku yang biasa-biasa saja. Seandainya aku memiliki sedikit saja semburat senja, mungkin ia akan meluangkan kata untuk bercerita tentang kita di antara cerita-cerita senjanya. Aku pernah menikmati senja bersamanya, merasakan jatuh cinta menyaksikan matahari berdarah-darah menyerah ditelan horison yang kelabu. Ada sesuatu yang romantis tentang surya yang meleleh, lalu menghilang. Tapi senja selalu mengingatkanku kepadanya, dan dia kepada senja. Tapi baginya, senja semata mengingatkannya kepada senja, dan aku hanyalah aku, yang hanya diingatnya ketika aku menghalangi retinanya menangkap senja.

***

Aku tidak pernah mengerti kenapa bisa dia merasa cemburu terhadap senja. Senja bukan manusia, bukannya aku berselingkuh atau apa. Terobsesi katanya. Salahkah mengagumi sesuatu yang begitu indah? Tapi dia selalu ingin menjadi yang nomor satu, selalu ingin menjadi pusat semestaku, bahkan mungkin melebihi diriku. Lucu, cemburu terhadap kejadian spektrum cahaya, bahkan terlalu sureal untuk kutertawakan.

***

Pukul tiga, sekitar dua jam lagi dia akan berlari menuju beranda untuk menyambut senja. Matahari sedang terik di atas kepala, bersuar tinggi dengan congkak, seolah lupa bahwa nantinya ufuk akan melumatnya.

Pukul empat, matahari mulai melayang loyo. Aku berlari menuju atap, beranda tidak mampu membantuku meraih.

***

Pukul lima. Mendadak semua terasa dingin. Apakah ini khayalanku atau di luar jendela diam-diam langit sudah menjadi gelap ? Ini baru pukul empat, senja pasti ingkar janji apabila kelam turun sebegini cepat. Ada sesuatu, entahlah, rasanya malam pun akan mengucap permisi apabila ingin bertamu lebih awal. Mungkin dengan guntur yang mengetuk begemuruh di tengkuk … tapi ah, tidak ada. Mungkin aku harus memeriksa beranda.

***

Matahari memang lemah, ternyata. Kukira dengan segala kecongkakkannya, hal ini akan lebih sulit dieksekusi. Tapi toh tidak. Saat ini sang surya yang dibangga-banggakan pagi terkulai lemah di telapak tanganku. Kulit yang menyelimuti tanganku jadi berwarna senja.

***

Kutemukan dia di beranda. Sedang terkekeh geli menatap cahaya cair yang menggeliat di tangannya. Senyumnya tampak gila. “Aku telah mengambil matahari”, katanya, “sekarang aku akan menjadi senja yang selalu kamu puja”. Lalu dia menelan matahari.

***

Matahari tidak memiliki rasa, hanya ada rasa panas dan pekat yang tidak kuhiraukan, saat ini aku terlalu terpesona menikmati matanya yang jernih terbelalak menatapku. Rasanya baru kali ini dia benar-benar menghujamkan pandangnya kepadaku, tanpa dibutakan kegemarannya akan senja. Lalu lidahku mencecap rasa tembaga.

***

Aku tidak tahu harus bagaimana saat senja mulai meleleh di sudut bibirnya. Lalu dari hidungnya. Lalu dari matanya. Aku tidak mengerti apakah ini awal dari trauma, atau semata terpesona.

Senja terus meleleh dari setiap celah di tubuhnya. Dia hanya tertawa, tertawa, tertawa. Gelaknya menggema, lalu sunyi. Senja yang menggeleguk dari sisa-sisa tubuh yang biasa kurengkuh masih terus mengalir, mengalir, mengalir. Kemudian aliran senja itu mengambang menuju langit, sebagian menghampiri, mungkin mengucap selamat tinggal, menggenangiku semata kaki.

Hangat. Merah. Amis. Darah. SENJA !

Gambar

Fase gotik. Atau sekedar terpengaruh lagu Copper Down.

Negatif

Hari-hari bersaturasi tinggi
seperti dalam negatif yang belum tersentuh kelam kimia menjadi helaian foto
seharusnya telah berlalu,
lalu mengapa situasi belum berkembang menjadi sesuatu yang pantas
untuk diabadikan di balik pigura ?
Apakah suara terlalu resah untuk melantun lagu ?
Atau memang rasa tak kuasa untuk menjadi ada ?

Gambar

Sumpah ya, dimana sih bisa cuci roll film jaman sekarang ?

Inisiatif

Amigdala.

Pusat reka emosiku itu serasa mencecap bara saat tatapan malu-maluku bersirobok dengan sepasang danau kembar di wajahmu yang dengan terangnya menyiratkan tanda tanya. Mungkin kamu menggugat jawab mengapa pipiku mengerucut dengan rona, atau mengapa lidahku mendadak kelu macam terbelenggu.

Ah, kamu tidak tahu. Saat ini rusukku merasa seperti lesung, karena isinya terus berdentum seperti alu, memicu darahku lebih cepat menebar gelenyar sensasi, menghela nafasku agar lebih cepat meninggalkan paru. Aku sesak. Tenggorokanku tercekat. Maka aku hanya tersenyum canggung. Membiarkan romansa, yang mungkin saja terjadi, tetap tersimpan sebagai fiksi.

 

Ketika Bersua

Mereka bertatapan di bawah cahaya temaram. Dia tersenyum, maka sang hawa membalasnya.
Mereka berbasa-basi, membincang kabar yang lama tak dicari. Lalu musik mengalun lagi. Mereka terpukau, terpesona lampu yang berkelip di atas kiblat ruangan yang terhipnotis syahdu pelantun kidung. Dia merengkuh sang hawa dari balik punggungnya.
Jantung hawa berdebar dalam kecepatan yang tidak sehat, lalu si dia berbisik: “rambutmu harum malam ini”.
Dia mengecup puncak kepala sang hawa, lalu melepas pelukannya. Sang hawa menatap penuh tanda tanya. Dia hanya berkata: “pacarku menunggu di sebelah sana”.

Dia tersenyum, menepuk kepala hawa yang kini berdetik tanpa kesimpulan, kemudian berlalu tanpa kata lainnya.

Sang hawa hanya menatap punggung mantan kekasihnya yang menjauh, merasa terkhianati … untuk kedua kali.