Salah Satu

Kamu adalah salah satu yang mengerti
betapa kata-kata dapat menyesatkan rasa,
maka kata tidak pernah jadi bagian besar dalam reaksi kosmik antara kita.

Kamu adalah salah satu yang mengerti
betapa rasa dapat terlarut dalam waktu,
maka kamu tidak pernah menuntut kepastian
yang hanya akan diutarakan dengan ragu.

Kamu adalah salah satu yang mengerti
bahwa waktu selalu akan menjadi misteri,
maka kamu tidak pernah melalui saat bersama tanpa berhati-hati.

Kamu adalah salah satu yang mengerti,
dan di saat kamu tidak bisa, kamu berusaha menerima.
Maka nanti ada waktunya kamu menjadi satu-satunya.

Gambar

See you next year, my own August Rush.

Ringkasan Hal-Hal Yang Belum Kuucap

Ada tekad yang terlalu malam, lalu rasa yang terlalu pagi. Terang terbit meleburkan mereka menjadi biru.
Menjadi duka. Menjadi abu.
Menjadi kecewa.

Mulanya kupikir aku dapat mengatasi semuanya, hingga pada saat akhirnya kita kembali bersua. Hasrat ingin memelukmu, seolah dunia menyempit dan hanya cukup untuk disinggahi bila kita saling merengkuh, begitu menggebu hingga mengalahkan insting dasarku untuk bernafas dengan wajar.
Ternyata aku terlalu rindu, setelah sekian lama terlalu bangga untuk menyapa.

Ini bukan cinta. Bukan.
Ini adalah harapan yang terjebak dalam siklus repetisi dekonstruksi dan rekonstruksi seiring perpisahan dan pertemuan kita.
Kamu tahu. Kamu mengerti. Tapi memilih untuk mendiamkan.
Maka rasa itu aku endapkan, berharap ampasnya akan mengering dan hanyut sebagai debu seiring waktu.

Gambar

You're still the songs I sing in the car about. Haha. Yeah.

Durasi

Sejenak pun kilat melecut, tetap dia membawa cahaya.
Sadarkah kamu bahwa dekapnya memang pernah nyata ?

Manusia memuja durasi,
hanya karena sesuatu lekang lebih lama,
hanya hal itu saja yang diakui fana adanya.

Hati memiliki relativitas yang tak mampu kau ukur
dengan gemulai tarian tangan yang mengitari urai alur masa.
Biarlah rasa-rasa yang mereka pandang sebelah mata itu melesat,
meninggalkan sinisme dunia untuk semata layu karena waktu,
mati karena lelah bukan karena kalah.

Kekal itu bukan milik kita,
kamu sendiri yang berkata ingin berdansa dengan logika.
Debar ini pun bersembunyi bukan karena rapuh,
maka nikmati saja desir pasir yang jatuh.

Untuk KAMU, August Rush ♥

Ruang Runyam

Pernahkah kamu merasa tertarik pada seseorang, tetapi setiap inci dari eksistensimu yang berpijak di dunia fana ini menjerit bahwa kamu telah memilih orang, atau waktu yang salah?

Tapi kamu tidak akan pernah bisa menghentikan perasaan semacam itu, meskipun tak terbalas sekalipun. Lalu kamu bertanya-tanya mengapa kamu menimpakan kesengsaraan semacam itu kepada dirimu sendiri, hanya untuk kemudian terisak dan mengeluh bahwa semua ini di luar kendalimu.

Setiap kali kalian beradu tatap sedetik lebih lama dari biasa, kamu mulai berspekulasi bahwa dia memiliki perasaan yang sama; kemudian tenggorokanmu tercekat oleh sesak yang sebelumnya tidak ada. Perbendaharaan katamu mendadak mengecewakanmu, mereka terlalu tidak memadai untuk mengungkapkan kebenaran yang ingin kamu utarakan.

Memang benar apa yang mereka katakan, bahwa sesekali kita harus berhenti melihat detail-detail sepele dan mungkin kamu akan menemukan bahwa yang kamu cari ada disana; di tempat yang paling tidak mungkin, tepat di depan matamu dan bahkan terkadang menyeruak ketika kamu tidak mengharapkannya. Namun meskipun keinginanmu mendadak muncul, bukan berarti itu ada untuk kamu raih, dan ini adalah kenyataan pahit lain yang harus ditelan. Sanggupkah kamu memelihara perasaan yang tidak disengaja tumbuh, kemudian membunuhnya sebelum bahkan ia sempat berkembang ?

Saat ini, hei, saat ini semua badai itu menerpaku. Di kulitku, mereka melihat cahaya, sukacita dan tawa. Sedang hatiku, oh segenap hatiku yang rapuh, sedang berputar dan membengkak dan melebam, mencoba untuk membuat kehadiran rasa yang baru itu meledak, membuncah di wajahku, mengumumkannya kepada dunia. KEPADA DIA. Hasrat sejati hatiku membakar seperti api, menguasai dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya, dan meninggalkan tiada apapun terkecuali debu.

Setiap hari pikiranku bersumpah membunuh rasa-rasa yang menjadi kolera di seluruh permukaan cecap amigdala, kemudian semua tergerus menjadi abu, hanya untuk kemudian bangkit kembali menjadi api  yang menghantui mimpi dan menggoda kesadaran moral yang sampai kapan pun akan membeban. Pemandangan, suara dan bau; selamanya terukir di inti nyala api, menjadi sesuatu yang tak terpadamkan. Hati, jiwa, pikiranku, segenap inti kehidupanku menahan, tercekik; terperangkap oleh duri gelap emosi berbalas kekal.

Jiwaku menjadi hitam, sebentuk cara baru untuk mengharubiru.

Dingin

Pagi itu, sayang, rasanya matahari gagal melenakan kita dalam cahaya. Alih-alih kembali ia tercebur dalam kegelapan, menyisakan sepoi kelabu membekukan pilu yang berada di ambang curah.

Kamu berujar, “relakanlah dan berbahagialah”.

Angin menggemakan kata-kata terakhirmu, kemudian semua nada di dunia terputus dalam sunyi yang memekakkan.
Lalu aku terpekur, mencecap beku di lidah dan remuk di iga yang kupikir milikmu, seraya berpikir bagaimana cara berbahagia tanpa cahaya.

"Cold and frosty morning,
there's not a lot to say about the things caught in my mind."

Insomnia

Senja itu menelan rahasia,
dan terbitnya matahari menandai
terhapusnya segala yang disembunyikan malam.

Malam-malamku bergeliat bimbang dalam ketakutan
kehilangan memori-memori tentang kamu,
tentang pertemuan kita,
tentang segala kisahnya.

Kemudian pagi datang …
semua riak rasa itu masih terekam jelas,
dan kamu, ya rasanya rusukmu masih milikku, mungkin,
dan baru aku tersadar lagi-lagi aku menyia-nyiakan kesempatan
untuk sepenuhnya merengkuhmu di dalam mimpi.

Gambar

Oh ya, kamu insomnia juga?
Mari kita berbagi masker mata.

Dirgahayu Cinta

Waktu di sekeliling kita berjalan seiring dan sepertinya hemisfer dunia tidak pernah ingin benar-benar memisahkan kita. Ada dogma sederhana yang mengira belum begitu lama sejak pertama aku mengenal kamu, mungkin hari itu adalah hari yang juga telah diprasastikan untuk terjadi. Tiba-tiba saja saat ini anak laki-laki lugu yang kukenal berada di sisiku, sebagai pria luar biasa yang merelakan dirinya dimiliki sahabatnya sendiri.

Terima kasih sudah menjadi sosok yang bisa aku kagumi untuk diteladani, terima kasih sudah menjadi sahabat yang mendengarkan keluh kesah remeh tanpa menghakimi, terima kasih sudah menjadi kekasih yang mengayomi. Semoga tahun-tahun yang berlalu tidak ada yang sia-sia dan tahun-tahun yang akan datang selalu membuat kamu bahagia. Aku harap masa depanmu secerah matahari pagi yang kamu bangga-banggakan di setiap pagi kamu membangunkan aku dari tidur, seluas lautan yang kadang memisahkan, dan selalu selalu selalu memiliki tempat untuk aku.

Amin Ya Rabbal Alamin.

“May the odds be ever be in your favor.”

Image

Aku tidak pernah bisa menjamin
 aku mampu mencintaimu melebihi siapapun.
Aku tidak pernah bisa berjanji
 aku mampu membahagiakanmu lebih dari siapapun.
Di luar sana mungkin ada yang lebih mampu menjaga kamu,
 ada yang bisa membuatmu tertawa melebihi aku.
Tapi aku tidak akan melepaskanmu untuk siapa pun juga.
Maaf karena sudah menyayangimu dengan demikian egois,
 tapi sungguh, aku tidak lagi peduli pada standar perilaku.

Refleksi

Air selalu mengacaukan spektrum cahaya yang dipantulkannya,
semua menjadi baur,
semua menjadi semu.
Langit tidak sama biru,
pepohonan tidak sama tegak,
segala sesuatu menjadi lebih kelabu.

Kamu adalah bidadari yang sedang menatap kejernihannya,
terlanjur terpana,
karena pikirmu demikianlah replika realita.
Air itu adalah kata-kata,
perasaanku adalah objeknya.

Hei, “aku sayang kamu” itu bukan padanan nyata tentang apa yang bergolak di dalam dada saat aku membayangkan senyumanmu.

Inisiatif

Amigdala.

Pusat reka emosiku itu serasa mencecap bara saat tatapan malu-maluku bersirobok dengan sepasang danau kembar di wajahmu yang dengan terangnya menyiratkan tanda tanya. Mungkin kamu menggugat jawab mengapa pipiku mengerucut dengan rona, atau mengapa lidahku mendadak kelu macam terbelenggu.

Ah, kamu tidak tahu. Saat ini rusukku merasa seperti lesung, karena isinya terus berdentum seperti alu, memicu darahku lebih cepat menebar gelenyar sensasi, menghela nafasku agar lebih cepat meninggalkan paru. Aku sesak. Tenggorokanku tercekat. Maka aku hanya tersenyum canggung. Membiarkan romansa, yang mungkin saja terjadi, tetap tersimpan sebagai fiksi.

 

Sumbang

Kata mereka segala sesuatu harus melalui transaksi;
memberi ijab, merengkuh qabul.

Lalu siapa kamu,
merasa memiliki izin untuk menggesek dawai
yang sudah kuijabahkan kepada orang lain ?

Kamu buta nada-nada yang kusuka,
dan aku tidak memiliki waktu
lagi keinginan untuk mengajari pada saat ini,

itu saja.

Image

« Older entries