Perubahan

Tidak pernah terlintas bahwa tawamu semakin berubah,
lebih keras, lebih riang, namun juga lebih gugup.

Tidak pernah terlintas bahwa genggaman tanganmu sudah berganti pola,
lebih erat, lebih hangat, namun juga lebih bergetar.

Semua tanda terasa bisu; mungkin karena acuhku, mungkin karena sudah sifatmu.
Keduanya hal yang membuat kita padu tanpa banyak ini itu.

Kupikir akan ada riak api menari berkelebatan di kepala, atau nada surgawi yang melayang turun di antara kita.
Seperti saat kedua kita bersua, seperti itulah puncak rasa yang seharusnya.

Kau tahu kompleksitas bukanlah hal yang kusukai dan misogyny sangat kubenci.
Maka kau tidak berlutut memintaku membuatmu utuh; kau menggandengku sejajar.
Sama tinggi, sama rendah.
Sama takut dan sama butanya terhadap langkah yang harus dilakukan selanjutnya.

Tak masalah.
Keutuhan menuntut pembelajaran.
Toleransi menerima kesepakatan demi kesepakatan; menganggap cacat laku jadi kewajaran, dan polah lugu jadi kenangan.

Tidak ada drama sebelum dan di saat segala yang ingin dipintakan berhasil diungkapkan, maka sewajarnya tidak ada drama selama jauh masa kebersamaan.

Iklan

Tiga

Kamu ingat bagaimana kita mempelajari angka?
Menyamakannya dengan lekuk benda di sekitar kita.
Maka kamu adalah garpu dan aku adalah bangku.
Lalu kita akan berbangga dan berceloteh pada para ibu.

Kamu selalu lebih dahulu,
lalu aku menyusul malu-malu.
Cuma kamu Adam yang kurelakan mengungguliku.
Karena bagiku, itulah nyatanya dirimu.

Lalu kau menyelesaikan satu perlombaan yang tak pernah aku inginkan untuk kau menangkan.
Satu lintasan yang tak seharusnya secepat itu kau selesaikan.

Aku hanya menganga menatapmu mengoyak pita di garis akhir, menandai finalisasi.
Surga sejenak kabur dalam gempita dan konfeti.
Mereka menyambut pemenang barunya menembus lini.
Aku tersaruk, tidak tahu bagaimana harus melanjutkan lari.

Retro

Gilang gemilang masa yang telah beku menyisakan imaji-imaji rapuh di sudut-sudut kumuh.
Mengejar ke belakang panji-panji yang sudah lusuh.
Terlalu takut berderap maju memulai dari abu.
Berpikir dimensi lalu lebih baik dari kekinian revolusi yang semu.
Terperangkap selamanya dalam lampau waktu yang berubah bisu.

Rongga

Ruang-ruang kosong dalam tiap hela nafas adalah sunyi yang tak lekang dalam pencarian.

Namun apa arti menjadi utuh jika tidak merasa butuh?

Buta dalam menentu akhir, maka tersesat dalam kelana.
Mengerut di kala senja, luruh menghilang tanpa makna.

Syahdu didera malu.
Duniamu layu bersama waktu.

Terlewat

Tidak ada yang menyalahkan sajak takabur yang gagal menyampaikan implisitas afeksi yang terkubur.
Terungkap ketika ia telah mati terbujur.
Serba terlanjur.

Sebab esensi resistansi atas sebuah titipan asa akan selalu terbungkam dalam sangsi.
Bukan sesuatu yang dapat direduksi menjadi satu deduksi.

Tidak ada jawaban manunggal tentang sebab-sebab kisah yang terpenggal.
Seperti memperdebatkan gugurnya daun yang masih sekal; karena angin yang bertiup atau karena pohon tak lagi menginginkan ia tinggal.

Jarak

Aku menatap lurus entah kemana ketika kamu kembali berceloteh tentang hal-hal yang tidak aku pahami.
Tentang perempuan yang katamu kamu cintai.
Tentang hubungan yang katamu tidak kamu nikmati.
Tentang keinginanmu bertahan yang bagiku nisbi.

Aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
Bukankah baru minggu lalu?
Ah sejak bertahun-tahun lalu juga cerita ini sudah jadi benalu.
Parasit yang memangsa kafein yang kusesap dari bercangkir-cangkir kopi yang kau pesankan supaya aku kehabisan alasan untuk mengalihkan percakapan.

Semua sudah menjadi rutinitas bagiku.
Kau bilang, ini seperti deja vu.
Menyesap kopi yang tidak sepahit akhir cintamu, katamu.
Entahlah.
Bagiku ini hanya repetisi kegilaanmu yang sepertinya menjadikan sakit hati menjadi candu.

Miris, karena bagiku setiap awal hubunganmu adalah antisipasi akan rasa-rasa perih yang nyaris pasti terjadi.
Kamu dipatahkan satu, maka kamu mencari seribu replikanya untuk mengganti.

Kurasa memang sudah takdir bintang untuk senantiasa direngkuh kegelapan.
Matahari tidak pernah terlihat indah ketika langit terang.
Aku tidak mau benar-benar mengurusi serakan kegilaanmu, maka aku hanya diam dari kejauhan.
Menatapmu dari balik cangkir kopi seakan aku peduli.

Manusia tidak peduli apa yang dirasakan oleh bintang yang berpijar jauh disana ketika dia perlahan membakar dirinya sendiri menuju kepunahan.
Karena itulah cara hidup bintang, mati dalam diam supaya dapat menunjukan keberadaan.

Kamu adalah bintang yang kupilih untuk kucintai.
Berpendarlah, seperti airmatamu yang tertahan dalam pantulan pekat kopi.
Cukup dari jauh saja, sekedar supaya pesonamu tidak mati.

Listening into another Bjerre’s depression with a cup of coffee in my hand. Ah, I love this man’s pain.

Hilang

Jemari-jemariku mendentingkan kabar kerinduan yang sumbang tanpa tersahut.
Mungkin namaku telah terlupa di ujung lidahmu, mungkin wajahku telah lebur dalam kabut.
Apapun itu, kita tidak pernah saling memiliki, kecuali di satu malam ketika genggaman kita saling terpaut.
Lalu kita membisu, karena apa yang berceracau di dalam tidak mampu kita sebut.

Saat aku mulai mencintai kamu, aku mengambil kesempatan. Saat aku meninggalkan kamu, itu adalah pilihan.
Walaupun sesungguhnya tiada yang benar-benar aku lepaskan, semata kemesraan fiktif tanpa kebersamaan.

How To Expect Disappointments

Life is like unpacking your mega suitcase in the hotel shortly after you arrived. You’d forget toothbrush, or adaptors, or even your home key. Instead, you packed the stilleto that you wouldn’t wear anywhere, the books you’ve already finished, and the leftover food from previous airport. You simply left behind the important things, and carried along whatever useless for your trip.
Sometimes, things that have been with you all along that already become a routine for you to be with them are the ones you’d took for granted. Because you know, they’ll always be there suiting you well.

Then you wander off on your own into the darkness you thought you could enlighten on your own with your fancy new stuffs just to find yourself trapped in delusional expectations.
Winners stand alone. Losers stand alone. In the end, nobody is actually with anybody.

on my way to Lala-land where the nuts and the dissapointeds mingles with loneliness.

Nosophilia

It’s been days since I’ve heard from you. My thumbs are aching to find your news somewhere, but something inside me refused to stalk.

I have no business with you as for you I’m merely an anonymous matter revolving around your halo. Unlike her, that you hate deeply, as so you say constantly though everyone knows the wound is deep for the love she betrayed within you is true. I know, you still weep at night. I know the contour of your face, I know those lines around your eyes appear just last night.

I can see right through you, literally, as your skin fades much away for your sadness and your troubled kidney annihilate your existence one cell at a time. I’d like to soothe you, because in every chaos you’re into, I fall even more frantically for you.

Beast

I weep for your perfection as it eloquently points at my flaws. Everytime you lovingly staring at me, giggling about how those are such cutesy quirks, I clenched my jaws whilst wishing the time is not too soon to be arrived at the point when you realized that they are actually defects.

« Older entries