Tengik

Waktu telah mengubah kita menjadi masam, layaknya susu yang terpapar udara terlalu lama, dan bahkan dengan tengik yang begitu nyata pun tak pernah dia terdeteksi indra karena kita terlanjur terbiasa.

Setelah menyadarinya pun, kita hanya tersenyum, berpura-pura memaafkan, karena sesungguhnya berpura-pura nyaman di dalam rumah lapuk lebih mudah daripada mencuilnya menjadi puing untuk kemudian dibangun kembali.

MENOLAK LUPA

Iklan

FOOD JOURNEY: Starbucks Coffee

Siapa sih yang gak tau Starbucks? (Kalo ada, maaf banget ya. But seriously, watch TV or read modern books). Starbucks Corporation adalah sebuah perusahaan Amerika yang secara global mengelola puluhan ribu gerai kopi di seluruh dunia; tepatnya 20,366 gerai yang tersebar di 61 negara,  termasuk 13,123 gerai di Amerika Serikat sendiri, 1,299 di Kanada, 977 di Jepang, 793 di Inggris, 732 di Cina, 473 di South Korea, 363 di Mexico, 282 di Taiwan, 204 di Filipina, 164 di Thailand dan 3 di India.

Logo Starbucks Pertama

Logo Starbucks Pertama

Starbucks pertama kali buka di Seattle, Washington, tertanggal 30 Maret 1971, dan masih berpusat disana. Pendirinya sendiri adalah Jerry Baldwin yang merupakan guru Bahasa Inggris, Zev Siegl yang merupakan seorang guru Sejarah, dan Gordon Bowker yang merupakan penulis. Awalnya, perusahaan ini akan dinamakan Pequod, seperti nama kapal penangkap paus di dalam novel Moby-Dick, tapi nama ini ditolak. Wajar sih, susah diingat kan?

Starbucks New

Logo Starbucks Pasca 1987

Perusahaan ini tetap berpatokan pada novel Moby-Dick, dan akhirnya dinamakan Starbuck seperti nama Kelasi Kelas Satu yang bertugas di Pequod. Starbuck sendiri digambarkan sebagai kelasi yang bijaksana dan intelektual dari Nantucket. Starbuck diceritakan telah menikah dengan seorang putra sebelum menjadi kru kapal Kapten Ahab. Starbuck pernah berselisih dengan Kapten Ahab, disalahkan meski yang dilakukan Starbuck justru adalah hal yang benar.  Akhirnya, Starbuck berbalik berkhianat kepada Ahab yang dianggapnya terlampau terobsesi kepada paus yang mereka kejar.  Tidak ada kaitan antara Starbuck dengan kopi, meski beberapa orang bersikukuh mengatakan bahwa Starbuck adalah kelasi pecinta kopi.

Starbuck
Starbucks menyediakan berbagai jenis minuman dari kopi, susu, buah, dan teh, panas ataupun dingin, dengan beragam pilihan kudapan. Favorit saya? Mocca Frappucino tanpa whipped cream yang didampingi dengan Cheese Puff renyah.  Starbucks juga terkenal dengan konter musik dunianya. Sebelum berkontrak dengan Apple iTunes, Starbucks biasanya menjual CD musik-musik tradisional dunia di kasir-kasirnya.  Setelah berkontrak dengan iTunes, musik yang ditawarkan Starbucks pun jadi lebih beragam. Tidak ketinggalan juga berbagai merchandise, seperti tumbler, coffee pot, dan terutama boneka beruang mereka yang terkenal, didandani sesuai musim.  Starbucks juga menjual kopinya, yang berbentuk biji, ataupun yang sudah digiling.  Bagi yang tidak memiliki penggiling, langsung minta kasir untuk menggilingkan di tempat.

My Mocca Frappucinno
Di Indonesia sendiri saat ini sudah berdiri sekitar 125 gerai Starbucks. Pertama kali dibuka di Plaza Indonesia, sesuai plakatnya ini.  Sebelumnya, Starbucks sudah lama mengimpor kopi dari Sumatra dan Sulawesi dan hingga saat ini masih salah satu menu andalan Starbucks.  Gerai kopi yang memiliki logo bergambar Siren (sejenis putri duyung, digambarkan cantik dan pandai bernyanyi) ini juga sekarang menyediakan kopi siap saji dalam kemasan yang bisa kita beli di berbagai department store.

Plakat Starbucks di Plaza Indonesia

Sering bingung dengan istilah yang digunakan di Starbucks? Pelajari list di bawah sebelum kamu berangkat kesana bareng teman atau gebetan and avoid the shame. Yang pertama adalah mengenai UKURAN. Di Starbucks, mereka gak menanyakan small, medium, atau large. Meski mereka tetap mengerti kalau kamu gunakan istilah ini pun, ada baiknya kamu menghapal juga istilah yang mereka gunakan yang berasal dari Bahasa Italia.

  • Demi‘Demi’ sendiri, uniknya, bukan berasal dari Bahasa Italia, melainkan Bahasa Perancis yang artinya ‘setengah’.  Ini adalah ukuran terkecil di Starbucks yang biasanya digunakan untuk Espresso.  Espresso standar biasanya hanya disajikan dengan ukuran satu ons, tapi ‘Demi’ di Starbucks menampung tiga ons atau setara dengan 89 mL Espresso.
  • Short‘Short’ adalah istilah orisinil gerai Starbucks yang menampung delapan ons atau 240 mL yang merupakan jumlah standar kopi yang biasa kita minum di rumah dengan cangkir kita sendiri.  Karena ukuran ‘Demi’ hanya digunakan untuk Espresso, bisa dibilang ini ukuran terkecil di Starbucks.
  • Tall‘Tall’ juga istilah orisinil Starbucks yang lain, dan disetarakan dengan ‘small’, yang mengimplikasikan ‘Short’ adalah ‘Extra Small’. Makanya, kalau kamu memesan dengan bilang ‘small’, ada kemungkinan kamu malah dikasih ‘Tall’  dan terpaksa menghabiskan 12 ons atau 350 mL kopi. Baca entri selengkapnya »

Praduga Tak Bersalah

“The presumption of innocence, sometimes referred to by the Latin expression Ei incumbit probatio qui dicit, non qui negat, is the principle that one is considered innocent until proven guilty.” – wikipedia.org

Gambar

Presumption of innocence. Semua penggemar tayangan berbau kriminal atau hukum pasti familiar dengan istilah ini. Presumption of innocence atau ‘asas praduga tidak bersalah’ menempatkan semua tersangka sebagai orang yang nggak bersalah sampai terbukti dia adalah memang pelaku. Lucunya, sebutannya saja udah suspect, tersangka; dia disangka melakukan, jadi bagaimana mungkin kita berpraduga dia TIDAK melakukan, tapi manusia kan memang suka berpraduga.

Hari ini, gue bukan mau menguliahi soal hukum pidana, dan sori-sori-midori, jurusan gue juga bukan hukum pidana, jadi kalo didiskusiin panjang juga gue kurang ngerti, cuma tau kulit-kulitnya aja. What I’m trying to say is, ‘asas praduga tidak bersalah’ ini seharusnya kita pakai juga dalam pergaulan. Manusia jaman sekarang banyak yang lupa idiom “jangan menilai buku dari sampulnya, apalagi dari film adaptasinya” (oke, frase belakangan cuma ekstra). Berapa banyak kita dengar teman kita mengajak kita menjauh dengan kalimat semacam “kayaknya orangnya nggak bener deh”, “kok lo mau sih jalan sama orang kayak gini?”, “yakin lo?”, dan lain sebagainya.

***

Ah teman-temanku sekalian, sampai terbukti dia nggak bener, jangan judge dia dan jangan pernah percaya kalimat-kalimat menghakimi yang dimulai dengan ‘kayaknya’. Lalu kenapa kalau temen lo masih suka dandan emo, atau punk, atau masih ala-ala anak kosan yang lupa pergi ke laundry kiloan? Apakah itu artinya dia nggak bener? Apakah bener nggak benernya seseorang dinilai dari bersih atau nggak kulitnya dari tato, atau ketiadaan piercing, atau disisir atau nggaknya rambutnya? (emaap, yang terakhir curcol)

Sinetron, media, dan lain sebagainya selalu menempatkan orang-orang berpenampilan semacam ini sebagai orang-orang yang nggak bener, yang nantinya bakal nempatin kamu dalam peer pressure yang memaksa kamu untuk ngerokok, minum alkohol, atau pake narkoba. This is so funny, ladies and gents. Peer pressure itu cuma karangan remaja-remaja lemah, wimpy kids, terutama mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan argumen lemah menggunakan kata ‘kayaknya’. Admit it, kebanyakan kenakalan remaja bukan berawal dari dipaksa untuk melakukan kenakalan, melainkan kamu nonton temen kamu, atau orang lain, praktek di depan kamu and it looks cool, so you imitate it. Kalau ada kenakalan remaja yang dipaksakan dengan cara bullying, maka seharusnya si korban menghindari circle itu, tapi kenapa dia masih betah aja? Kenapa dia mengulangi kenakalan itu? Simple answer: he/she actually enjoys it.

***

It’s fine kalo temen-temen gue nggak mau pake baju rapi dan nyisir, atau dandan plus pake high heels selama gue nyambung dan seneng waktu hang out bareng mereka. Toh, nilai plusnya, I might get the most attention while we hang-out together (I’m so sorry for being such an attention whore). I don’t care if my friend is homosexual, mereka cuma orang-orang dengan selera berbeda, sama seperti gue lebih suka makan pedes dibanding makan manis. Not that I support them, though, setiap harinya gue selalu berdoa mereka BISA (bukan mau, karena niat doang terkadang nggak cukup) kembali ke jalan yang digariskan sama Yang Di Atas.

I don’t even care if my friend is alcoholic or drug addict, dia gak bersalah selama dia nggak maksa nyetirin gue waktu lagi high, atau maksa gue minum alkohol, atau nyoba drugs. They’re still a friend, and more over, they are a friend in need; selalu ada sebabnya orang-orang lebih milih halusinasi dibandingkan realita, gak peduli seremeh apa penyebabnya, kita harus mengerti dan kita harus bantu. So far, nggak ada satupun temen gue yang maksa gue untuk minum alkohol atau nyoba narkoba. Sebagai sesama remaja (sumpah, gue masih remaja), mereka tau kalo gue punya ego bahwa gue lah yang harus nentuin pilihan gue sendiri, bukan mereka.

***

 See, they are humans and we are humans, selama kalian bukan mutan yang tingkat evolusi dan rantai makanannya lebih tinggi, kalian sama sekali nggak punya hak untuk menilai mereka, menilai saya, sebelum kalian benar-benar bisa membuktikan bahwa saya, mereka, bersalah terhadap kalian.

Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Bijak

Saya berbicara disini dengan kapasitas orang awam, manusia biasa, sebagaimana seharusnya kita menganggap 200 juta orang lainnya di Indonesia, meskipun sekitar 180 juta jiwa tidak peduli dengan apa yang saya bicarakan karena kebutuhan tersier semacam ini tidak pernah ada di dalam daftar kebutuhan mereka. Saya mewakili suara mereka yang memprotes ‘KETIDAKBIJAKAN’ pemerintah terkait pajak yang dikenakan kepada usaha distributor film, ya BIOSKOP. Saya mewakili mereka-mereka yang sudah menjerit-jerit di berbagai jejaring microblogging, macroblogging, social network biasa, forum, dan lain sebagainya.

Indonesia, saudara-saudara, bukannya akan sepi dari hiburan akibat adanya peraturan baru ini. Kita mampu mencetak sekitar 70 film layar lebar pertahunnya, belum lagi sinetron-sinetron tanpa ending dan film-film berdurasi singkat yang menarik itu. Itu lho, legenda lama jadi modern, misalnya Klenting Kuning memakai kaus dan bekerja sebagai pegawai toserba, Ande-Ande lumutnya melawan ketam raksasa dengan efek sejadinya. Insya allah terhibur kok. Bagi yang lebih beruntung, yaa kita punya TV kabel.

Maafkan saya untuk ironi-ironi di atas.

Ada beberapa poin penting untuk ditunjuk sebagai malapetaka yang berpotensi dihasilkan ketidakbijakan ini :

  • Hilangnya lapangan kerja karena bioskop-bioskop harus memotong pegawai, bahkan menutup beberapa cabang, akibat sepinya pengunjung setelah film-film asing tidak lagi menghampiri layar bioskop kita. Tutupnya bioskop juga menandakan kegagalan pertumbuhan ekonomi di sektor usaha hiburan.
  • Meningkatnya angka bajakan. Menurut IIPA Special Report pertahunnya, Indonesia terus menerus masuk blacklist negara dengan angka pembajakan yang tinggi. Berusaha mengeluarkan diri dari blacklist tersebut sekaligus menarik pajak yang seharusnya tidak ada dari benda ilegalnya merupakan usaha yang TIDAK MUNGKIN.
  • Meningkatnya pergaulan bebas. Hey hey hey, saya anak muda. Apa lagi yang bisa saya lakukan sebagai hiburan di mall apabila bioskop sudah tutup ? Mari ke klub malam. Hey kamu disana, cowok, kencan kemana selain ke bioskop ? Makan dong. Kalau sudah makan ? Mungkin di kamar, meningkatkan angka kehamilan di luar nikah.
  • Perpecahan lain antara Pemerintah dengan Masyarakat, sekarang aja udah saling protes.

Saya membuka Kompas.com, dan seorang tokoh perfilman mengatakan “Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta.” Saya bingung, kok merasa dianaktirikan ya ? Tentu saja film Indonesia dapat dikenakan pajak lebih besar karena dibuat disini, ya 500 juta itu total pajak pembuatannya sekalian, mungkin sama pelicin. Kalau film luar kan kita terima bersih, disana malah mereka bayar pajak berapa, saya tidak mau menghitung, takut melihat nol-nol berderet.

Kalau dipikir lagi oleh sang tokoh, dulu pajak dikenakan murah agar masyarakat lebih memilih pergi ke bioskop dibanding membeli piranti bajakan. Kalau sekarang, meskipun film masuk ke bioskop, akan terjadi kenaikan sekitar 200%. Sebelumnya, film dikenakan pajak tontonan dan pajak hiburan saja, dan sekarang pajak yang sebelumnya sudah sejumlah 25% itu akan ditambah 23,75 %, belum termasuk biaya operasional, gedung, gaji karyawan, dan bla bla bla. Semuanya nantinya dibebankan kepada kita, KONSUMEN.

Kebijakan ini tidak salah, sama sekali tidak, jika dikeluarkan nanti-nanti, saat orang Indonesia sudah bisa beretika seimbang. Mau menghargai film nasional, menghindari bajakan, memiliki kontrol diri dalam pergaulan, dan blablabla. Tapi sayangnya kita semua masih selalu jadi korban gaul, masih senang menghampiri lapak film bajakan meski nanti juga ditayangkan di TV lokal maupun TV kabel, dan melecehkan perfilman nasional. Yah, untuk poin terakhir, saya tidak bisa menyalahkan. Dari 77 film Indonesia yang beredar setiap tahunnya, paling hanya 7 film yang LAYAK ditonton dan tidak melibatkan kilasan paha dan belahan dada.

Dua Puluh Dua

kita masih saja berbeda,
masih saja tidak ada kata mengalah,
masih saja sulit saling memaafkan,
masih saja terus mengungkit masa lalu,
masih saja sering bertengkar.

kamu masih saja membenci rambutku yang tidak disisir,
masih saja tidak mau menonton serial drama yang kusukai,
masih saja bertampang sebal kalau aku masuk toko sepatu,
masih saja mengomel saat aku membaca selagi makan,
masih saja tidak mengerti kenapa aku suka sekali menulis hal-hal semacam ini di internet.

dan aku masih saja tidak mengerti apa menariknya menonton bola yang direbutkan sebelas orang sekaligus (sebelas kah ?),
masih saja bingung kenapa kau tidak suka sajian laut,
masih saja tidak terima kalau kau mengganti musik yang kusukai,
masih saja tidak habis pikir kenapa pesan singkat darimu harus selalu sangat singkat.

tapi tetap saja aku mengagumi kamu,
tetap saja kamu memuji apa adanya aku,
tetap saja kita bersama.

entahlah apa alasannya,
tapi sekarang sudah bulan keduapuluhdua.
SELAMAT !

Saya VERSUS Dunia

Kata rekan saya, saya ini memang sesat, tapi banyak yang bisa dipelajari dari diri saya.

Entah apa maksudnya, saya bukan subjek observasi psikologis, saya tidak mengirimkan written consent. Tapi Facebook membuktikan kelabilan psikologi saya dapat terlihat dari update status (ya, status-status tidak penting itu).  Konon saya, menurut si deskripsi teman, mengalami moodswing yang luar biasa di setiap kalinya.  Selalu sangat senang, sangat sedih, sangat marah, atau sangat kesal.  Bukan perasaan yang setengah-setengah.

Ciri khas berikutnya adalah; mysterious subject.  Sulit menebak apa yang membuat saya senang, sedih, kesal atau marah.  Kecuali pada saat-saat saya menyebut subjek, bahkan melakukan tagging, yang sangat langka juga; kebanyakan hanya untuk menggambarkan kegiatan saya.  Jika ditanya, seringnya marah kepada siapa ?

Astaga, saya sering marah kepada DUNIA !

Maaf jika saya menjeneralisasikan manusia, tapi ya, saya benar-benar marah pada dunia (terkadang).  Pencemaran lingkungan, kerusakan moral, hedonisme, semua.  Saya benci wanita, saya benci pria.  Meski sering dianggap feminis, tetapi sesungguhnya saya MALU pada kaum saya yang tidak mandiri, tidak kokoh itu.  Dibilang tidak feminis, saya BENCI kaum pembela patriarki yang arogan dan tidak rasional.  Ya, saya ingin melawan dunia, setidaknya 98% dunia, bukan karena saya yang paling benar, tapi karena mereka sudah SANGAT SALAH dalam menjalani hidup.

Heboh Rokok Elektrik

E Cigarrete

Beberapa waktu yang lalu saya baca soal di-’haram’-kannya rokok elektrik oleh BPOM dengan alasan kadar nikotinnya tidak tercantum, kadar nikotinnya labil, dan dianggap beracun (karena masih mengandung nikotin). Waktu saya membaca artikel ini, saya berpikir “jangan-jangan akal-akalan produsen, toh yang paling dihindari kan TAR yang mengakibatkan flek, bukan nikotin yang sekedar mengakibatkan kencanduan rokok akibat terhambatnya aliran adrenalin tanpa asupan nikotin.” Tapi artikel itu (link) mencantumkan bahwa WHO juga masih belum memastikan keamanan rokok ini; bukannya karena akan mengakibatkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin, melainkan karena BELUM DAPAT dikatakan sebagai alat yang membantu menghentikan kebiasaan merokok.

APA ITU ROKOK ELEKTRIK ?

Menurut WIKIPEDIA (situs kesayangan saya), electronic cigarette (e-cigarette), atau yang dikenal juga sebagai personal vaporizer, adalah alat bertenaga baterai yang menyediakan sejumlah dosis nikotin untuk dihirup oleh penggunanya dalam bentuk UAP, sebagai alternatif dari rokok, cerutu, atau pipa tembakau yang menyuplai nikotin ke dalam tubuh penikmatnya dalam bentuk ASAP. Meski demikian, uap dari alat ini juga memberi sensasi dan rasa yang kurang lebih sama dengan rokok tanpa menghasilkan asap, melainkan sekedar uap. Di otak saya, cara kerjanya sih mirip SHISHA.

Rokok elektronik ini memiliki berbagai bentuk, mulai dari yang mirip dengan rokok, atau cerutu, atau pipa tembakau yang asli, sampai yang mirip pena saja. Model yang populer adalah jenis yang dapat digunakan berulangkali dengan bagian-bagian tertentu saja yang diganti atau di-refill. Tapi saat ini dikembangkan juga model yang sekali pakai, yang menurut saya akan memperbanyak E-WASTE.

Electronic Pipe

JADI NIKOTINNYA ADA ATAU TIDAK ?

Larutan nikotin, yang disebut juga sebagai e-liquid atau e-juice, dijual terpisah dalam bentuk catridge isi ulang, dan kadang di-‘bumbui’ dengan berbagai rasa, mulai dari menthol, kopi, karamel, sampai berbagai rasa buah. Kandungan nikotin di dalam larutan ini bervariasi, dari NOL, rendah, mengengah, tinggi, dan TINGGI SEKALI. Keterangan tentang kandungan nikotin biasanya dicantumkan di kemasannya. Larutan ini biasanya merupakan nikotin yang dilarutkan dalam Propylene Glycol (sejenis alkohol yang memiliki rasa manis, banyak di temukan di kosmetik, perlengkapan mandi, sebagai pelarut obat, dan penjaga kelembaban tembakau rokok) atau Vegetable Glycerin (Glycerol, biasa digunakan sebagai pemanis untuk diet, pelarut, dan pengawet). Keduanya adalah bahan yang tidak berbahaya untuk dikonsumsi selama ada di dalam ambang dosis yang wajar. Baca entri selengkapnya »

Petugas a-BETE : Harus Waspada DBD, atau Waspada PUNGLI ??

Kejadian NYATA yang terjadi dua hari yang lalu di kosan.

(pintu digedor kayak ada penggrebekan Narkoba, jadi saya yang masih setengah tidur loncat spontan buka pintu.)

PETUGAS : “Pagi, Mbak. Saya dari kelurahan, ini mau ngasih penyuluhan DBD.”

SAYA : “Hho ..” (ngeliatin tangan petugas yang sibuk nulis-nulis)

PETUGAS : “Ini silakan dibaca, Mbak. Tolong dipegang ini.” (ngejejelin brosur dan gunungan bungkus Abate ke tangan saya)

SAYA : “Penyuluhannya mana, mas ?”

PETUGAS : “Itu dibaca aja, Mbak, brosurnya.” (masih sibuk nulis) “Nama mbak siapa ya ?”

SAYA : “Z-E-A, mas. Itu nulis apa ya, kayak kwitansi ?”

PETUGAS : “Ini buat Abate yang Mbak pegang, jadi 30.000 rupiah aja, Mbak.”

SAYA : “Kata siapa saya mau beli ? Lagian kosan ini pake shower, sana kasih ke pengurus kosan aja.”

PETUGAS : “Khan buat ngepel, mbak. Semuanya wajib nih beli.”

SAYA : “Kosan sini dipelin.” (mulai jutek)


PETUGAS : “Semua harus partisipasi minimal 5 bungkus, mbak.” (muka melas)

SAYA : “Ya udah, sini saya bantu laporan mas deh, tapi 5 bungkus aja. Jadi pas khan 10.000 ?” (nunjuk harga Rp. 2000 di bungkus)

PETUGAS : “Wah, nggak bisa, mbak. Jadinya 15.000, soalnya sama biaya operasional dari kelurahan, seribu per bungkus.”

SAYA : “Masa sih ? Mana surat perintah operasional yang bilang ada biayanya ?”

PETUGAS : “Eh … itu ada di peraturan, Mbak, ga dikeluarin di surat gitu.”

SAYA : “Peraturan siapa, mas ?” PETUGAS : “Emmm … Dinas Kesehatan …” (gestur mulai ga sabaran)

SAYA : “Hah ? Dikeluarin kapan, mas ? Nomor berapa ? Koq ga ada penyuluhannya di kampus saya ya, khan saya fakultas hukum. Terus mas ini dari Dinkes apa Kelurahan jadinya ?”

PETUGAS : “Ada koq, Mbak, aturannya.”

SAYA : “Yang bener, mas ? Nomor berapa tuh peraturannya ? Saya Google dulu boleh ga ? Kalo nggak ada berarti mas PUNGLI loh, saya laporin loh !” (mata nyipit)

PETUGAS : “Ahhh, ya udah deh kalo mbak adanya sepuluh ribu (ngeles kurang ajar), nih ambil aja, kuitansi juga ga saya ganti nih, soalnya memang kudu segitu harganya, mbak saya diskonin loh.” (gelisah-gelisah kesel)

SAYA : “Ya udah, saya minta duit dulu ke kakak saya ya.”

Setelah penyerahan uang, sang petugas kabur secepat kilat. Sedangkan saya mendoakan semoga puasanya TETAP diberkahi oleh Allah SWT. Kemudian saya dan adik bertanya-tanya bagaimana kalau saya mengakunya dari Fakultas Biologi dan malah ceramah balik ke si petugas.  Apalagi dia beranggapan LARVASIDA bisa mengusir NYAMUK kalau dipakai mengepel.  Hari itu saya beranggapan saya beramal kepada sang petugas yang mulai keringat dingin dan gemetar setelah saya ancam dilaporkan dengan tuduhan PUNGLI.

Percakapan ini kemudian saya ekspos ke FB, dan banyak reaksi yang cukup mencengangkan.  Mari saya beri salinannya.

H.N.Z. Bah! Hahaha. Cerdas cerdas…
Kalo ibuku mah langsung neriakin mas2’a.
“harga abate seharga ongkos anak saya! Males amat.”

Sh.B. Hihi, keren lo Ze… Kalo kosan lama gw cr menghindarinya dgn masang tulisan gede d dpn gerbangnya: “NGAMEN GRATIS, ABATE APALAGI”, lumayan ngaruh jg siy, si mas2/mbak2 penjual abate ga pernah nongol lg dah d kosan gw, hehe.

Ma.A. ze,, gw pernah juga punya pengalaman ‘abete’,, kamar gw dimasukin babang” obat abate dulu pas gw lagi tidur pules”nya, hasilnya bangun” handphone gw lenyap.. setaun kemudian babang” abate dateng lagi ke kosan, terus waktu nawarin abate ama temen sekosan gw langsung diteriakin MALIIINGG, eehh langsung lari seketika ntuh si babang..

A.An.Am. hahaa..itu kan grstis ze mestinya
hahaa..gw ktawa2 bacanya
hmpir sama kyk gw.tapi gw endingnya ga beli kyk lo.cuma sm2 di kerjain dulu.

HARAPAN SAYA : semoga ada Pejabat berotak waras, apalagi dari DINKES, yang baca post ini dan berkesadaran MENERTIBKAN pembagian Abate.  Jangan bikin masyarakat jadi apatis terhadap pencegahan DBD gara-gara masalah ini.

Bagaimana pengalaman Ah BETE anda ?

Legenda Makam Mbah Priok

Insiden Makam Mbah Priok yang baru-baru ini terjadi menggugah minat saya terkait Makam ini sendiri, karena saya terus terang malas mengamati para aparat yang masih saling mengoper tanggung jawab.  Saat saya bertanya kepada teman saya yang notabene bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi, dia menjawab “gue malah baru tau ada yang namanya Mbah Priok”.  Jadi, saya melakukan telusuran sederhana dari Google, meskipun saya sepenuhnya menyadari bahwa penelusuran Google tidak sebanding dengan riset yang sesungguhnya, tapi setidaknya akan cukup menjawab pertanyaan kita.  Berikut adalah cerita yang saya gabung-gabungkan dari berbagai sumber.

Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, memang bukan sembarang makam. Mbah Priok, yang nama aslinya adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, merupakan salah satu tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam. Dia berasal dari Pulau Sumatera, tepatnya dari daerah Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan.

Selama dua bulan, beliau dan rombongannya mengarungi lautan dengan menggunakan perahu. Apesnya, perahu mereka berpapasan dengan armada kapal perang Belanda. Tanpa peringatan, Belanda menghujam mereka dengan meriam. Meskipun demikian, tidak satupun peluru meriam itu mengenai perahu mereka.

Perahu yang mereka tumpangi juga sempat dihantam ombak besar sehingga menghanyutkan seluruh perbekalan. Ketika itu, yang tersisa hanyalah periuk untuk menanak nasi dan sedikit beras yang sudah berserakan. Beberapa hari berikutnya, ombak besar kembali datang dan membuat perahu terbalik. Musibah itu menewaskan tiga rekan yang menyertai. Namun Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad selamat. Dengan kondisi yang lemah, pada tahun 1756, mereka terseret ombak hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama. Baca entri selengkapnya »

no smoking life = NO REGRET LIFE

Apa sih salahnya kalo cewek ngerokok sih? Cowok aja ngerokok, kenapa cewek nggak boleh?
It’s our right to have sum extacy in life, just another guilty pleasure.Tapi girls, the problem is, kita itu hidup di negeri dongeng, dimana semuanya abu-abu, pokoknya ini itu pamali. Orang-orangnya suka meributkan masalah kecil dan dibesar-besarkan, tetapi masalah yang besar malah tidak dipedulikan.

Mungkin kesan yang akan didapat bahwa wanita yang merokok adalah: gaul, nggak alim, suka jalan-jalan, bahkan ke suka dugem dan pulang pagi. Malah ada cowok cupu yg nulis di blognya, “cewek ngerokok itu udah ga virgin ya?” (sumpah, lo bego banget sampe gue ga tega naro linknya). Jauh dari kesan anggun, kalem, dan alim (konotasi positif yang biasa disematkan kepada wanita).

Dimana posisi saya? Bagi saya merokok atau tidak merokok adalah sebuah pilihan. Saya tidak merokok karena alasan yang tidak jelas, bengek banget nggak sih, bikin bokek juga nggak, entahlah. Saya tidak membenci rokok, tapi juga tidak menyukai rokok. I wish I could be a smoker, but I couldn’t. Sudah saya coba sepenuh hati biar bisa KELIATAN GAUL (wakakakkakak !), atau biar lebih LELUASA BERPIKIR, atau bisa pup lebih lancar, tapi tetep ga sukses kecanduan merokok. Apa cara gue ngisep rokok masih salah ? Ada yg maw ajarin trik-nya ?

But seriously, ternyata rokok nggak cuma menimbulkan penyakit, jerawat, kemandulan, dan kematian, tapi juga menimbulkan KEGEMUKAN !!
kyaaa ~

Cewek remaja yang merokok mungkin akan mengalami kegemukan di masa dewasanya. Menurut penelitian terbaru di Finlandia, remaja putri yang merokok minimal 10 batang per hari berisiko kegemukan. Ukuran pinggangnya saat dewasa akan 1,34 inci lebih besar ketimbang mereka yang tidak merokok. Hasilnya, remaja yang merokok lebih dari 10 batang sehari akan 2,32 kali lebih besar kecenderungannya mengalami kegemukan. Tapi hal inii ga ngaruh ke COWOk, curang banget khan ??!

Kalo abis ngerokok juga rasanya gue kembung, pengen ngegaaas trs, dan ternyata karena rokok bikin kita ngisep udara terlalu banyak dan cepat dan masuk ke perut, jadinya asam lambung kita meningkat. Ujung-ujungnya sih MAAG, laper, dan pembuangan ‘lancar’.

Another fact, cewek yang merokok sangat mungkin untuk mulai memasuki masa menopause sebelum usia 45 tahun dan juga membuat mereka menghadapi resiko osteoporosis dan serangan jantung. Di antara sebanyak 2.123 perempuan yang berusia 59 sampai 60 tahun, mereka yang saat ini merokok, 59% lebih mungkin mengalami menopause dini dibandingkan dengan perempuan yang tidak merokok, pernyataan ini dibuat Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo.

Pengaruh rokok langsung kepada kecantikan ?
Nih ya, nikotin dalam rokok menyebabkan pembuluh darah halus mengerut. Akibatnya pasokan dari makanan dan oksigen berkurang. Kulit kekurangan makanan dan akan terlihat suram serta pucat. Selain nikotin, musuh kulit yang datang dari rokok adalah sekelompok zat beracun yang disebut zat adelhides. Ini ada kaitannya dengan teori penuaan kulit yang disebut Reaksi Silang ( cross linked reaction ). Zat racun tadi merangsang reaksi silang antar molekul penting pembentuk kulit yan mengakibatkan elastin menjadi kaku dan kolagen mengendur.

Menurut Family Health Encyclopedia, satu batang rokok saja sudah merusak 25 gram vitamin C. Padahal, vitamin C bisa menghalangi radikal bebas yang menggerogoti sel-sel sehat sehingga kulit lebih cepat keriput dan menua. Sumber yang sama mengungkapkan bahwa perokok mengalami penuaan dan pengeriputan kulit yang lebih cepat , karena menghisap dan menghembuskan asal rokok akan meninggalkan jejak yang akan menetap sebagai kerutan di sekitar mulut dan bibir.

Efek buruk rokok tidak hanya pada kesehatan dan kecantikan kulit, tetapi juga pada rambut dan gigi. Tidak sulit menandai perokok dan bukan perokok dari jari dan giginya, karena nikotin meninggalkan noda. Efek yang langsung terlihat adalah mata yang sembab. Hal ini juga akan mempengaruhi penampilan. Rambut juga berbau asap, berminyak, dan kusam, karena suplai oksigennya terhambat.

So, ini lah manfaat dari rokok :
#1 Bikin gemuk
#2 Bikin cepet dewasa
Pantesan gue selalu ramping dan sering dibilang kayak anak SMP, pasti karena gue nggak ngerokok. GRRR !

STOP SMOKING !!

« Older entries