Jarak

Aku menatap lurus entah kemana ketika kamu kembali berceloteh tentang hal-hal yang tidak aku pahami.
Tentang perempuan yang katamu kamu cintai.
Tentang hubungan yang katamu tidak kamu nikmati.
Tentang keinginanmu bertahan yang bagiku nisbi.

Aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
Bukankah baru minggu lalu?
Ah sejak bertahun-tahun lalu juga cerita ini sudah jadi benalu.
Parasit yang memangsa kafein yang kusesap dari bercangkir-cangkir kopi yang kau pesankan supaya aku kehabisan alasan untuk mengalihkan percakapan.

Semua sudah menjadi rutinitas bagiku.
Kau bilang, ini seperti deja vu.
Menyesap kopi yang tidak sepahit akhir cintamu, katamu.
Entahlah.
Bagiku ini hanya repetisi kegilaanmu yang sepertinya menjadikan sakit hati menjadi candu.

Miris, karena bagiku setiap awal hubunganmu adalah antisipasi akan rasa-rasa perih yang nyaris pasti terjadi.
Kamu dipatahkan satu, maka kamu mencari seribu replikanya untuk mengganti.

Kurasa memang sudah takdir bintang untuk senantiasa direngkuh kegelapan.
Matahari tidak pernah terlihat indah ketika langit terang.
Aku tidak mau benar-benar mengurusi serakan kegilaanmu, maka aku hanya diam dari kejauhan.
Menatapmu dari balik cangkir kopi seakan aku peduli.

Manusia tidak peduli apa yang dirasakan oleh bintang yang berpijar jauh disana ketika dia perlahan membakar dirinya sendiri menuju kepunahan.
Karena itulah cara hidup bintang, mati dalam diam supaya dapat menunjukan keberadaan.

Kamu adalah bintang yang kupilih untuk kucintai.
Berpendarlah, seperti airmatamu yang tertahan dalam pantulan pekat kopi.
Cukup dari jauh saja, sekedar supaya pesonamu tidak mati.

Listening into another Bjerre’s depression with a cup of coffee in my hand. Ah, I love this man’s pain.

Beast

I weep for your perfection as it eloquently points at my flaws. Everytime you lovingly staring at me, giggling about how those are such cutesy quirks, I clenched my jaws whilst wishing the time is not too soon to be arrived at the point when you realized that they are actually defects.

Wounds

Remeniscing the old days and analysing every aches happened, I always wonder what happened back then.
But it really was us being naive to be blamed, thinking “over” is not part of being “lovers”, as youth betrays us with indulgences those blinded our sensitivity towards other and sense of rebellion which ended up with ignorance.

Sarapan Hati

Pagi ini aku makan roti.

Tahukah kamu, sebelum diberi ragi, adonan roti ini kecil, diam, dingin, dan tak mampu berkembang?

Genggaman tanganmu yang pertama bereaksi seperti ragi kepada harapan yang terdiam meragu, membuatnya hangat, mekar, dan melimpahi kamu dengan nutrisi nurani hingga saat ini.

Dealing With Death

Beberapa hari yang lalu, beberapa rekan menulis twitter tentang seorang sesama alumnus. Twitternya berupa testimonial dan doa yang baik-baik sekali, kupikir si fulan berulangtahun. I refreshed the timeline, untuk make sure, mana tahu ternyata dia hendak menikah atau hal-hal lain. Dan tweet paling atas di linimasaku adalah: “RIP @radiktapawanto”.
Syok? Tentu saja.

Saya tidak dekat dengan beliau ini, tapi sering bertegur sapa, dan entah bagaimana orang yg saya kenal ada saja yg berhubungan dengan almarhum.
Saya tanya rekan seperantauannya, “Dit, berita soal Mbor beneran?”, sang rekan balas bertanya, “Mbor kenapa?”. Ya, kepergian beliau ternyata diakibatkan kecelakaan di lokasi kerja, mendadak sekali, dan setelah kami bertelepon, sang sahabat panik menelpon ponsel almarhum, lalu keluarganya, yang kemudian mengkonfirmasikan kebenaran berita tersebut. Baru saat itulah saya berucap, “innalillahi wa innaillaihi rajiun.”

Beliau adalah pribadi yang hangat dan lembut. Di semester awal saya kuliah, mendadak dia menyapa saya, “lo pasti temennya Hida yg pernah ikut summer travel juga, pasti, soalnya nama beginian gak banyak nih.” Waktu itu saya tertawa dan mengiyakan.
Saya bukan orang yang supel, lingkaran pertemanan saya tidak banyak. Beliau ini termasuk seseorang yang aktif dan populer, namun hingga hari terakhirnya di kampus, jika kami berpapasan, dia selalu menyempatkan menyapa saya. Setelah kami lulus, beliau sering menyapa melalui media sosial.

Saya tidak pernah dekat dengan Radikta, Mbor, Dito, atau apalah panggilan akrab kalian kepada si supel periang satu ini, tapi manusia pun toh tidak perlu dekat dengan matahari untuk merasakan kehangatannya.
Kepergian beliau membuat saya berpikir, apakah orang lain akan mengingat saya sehangat mereka mengingat beliau? Semoga ya, semoga.

See you on the other side, dude. May you wait in peace.

Memoar Troya

Kemarin aku diserang kenangan-kenangan yang kukira sempat lekang.
Apa yang kuduga akan menjadi sekumpulan nostalgia mengenai masa-masa bahagia, kemudian berubah layaknya Kuda Troya.

Semula semua tentangmu hanyalah eulogi, serangkaian kata-kata merdu menyanyikan kecermelanganmu.
Aku lupa, eulogi adalah biografi, opini yang berakhir seiring habisnya linimasamu untuk menari.
Kehampaan dunia yang kehilangan kamu sempat lama terpias, dan riuh rendah kembalinya sempat membuatku terhenyak.
Tercekat dan sesak.

Karena setelah banyaknya masa-masa untuk rasa-rasa fana yang ria, pada akhirnya yang paling kuingat adalah rasa pahit ucapan selamat tinggal yang tertinggal di ujung cecap lidah, vokalisasi perpisahan tidak pernah sempat untuk saling kita ucap.

What a waste that even when the time comes for us to meet once again, we won’t recognize each other.

Kalkulasi

Keramik-keramik persegi berjajar melantaikan putih di alur yang biasa kita jajaki.
Halus, mulus, berkilauan.
Waktu aku masih baru berhenti menyusu dari kelenjar ibuku, kupikir semua kisah picisan Adam dan Hawa akan sama lurusnya.

Hari-hari lugu semacam itu sudah menjadi gagu.
Skeptisme menggantikan binar mata bocah yang pernah bermimpi menari di atas bulan.
Waktu terlalu lama mengkhianati, mengkikis ari yang tanpa disadari membela diri.
Menebal, membatu, berhenti mempercayai.

Karena semua api akan selalu padam, bahkan matahari.
Karena semua kesenangan akan selalu lekang, semata sejenak menghampiri.
Isi kepalaku selalu mereka skenario terpahit, mengantisipasi kuyup di mata, rasio-rasio gila mengenai bagaimana nanti caraku memindai punggungmu saat kamu berlalu.

Your presence is too perfect to be real sometimes. Good things always come to an end, especially when they are too good to be true. But just stay. Stay, and I will try to believe.

May It Be

Tidakkah kamu lelah selalu menarikan tinta menjadi guratan cinta?
Sadari bahwa luka tidak banyak terjadi dalam alur komedi.
Kamu menyakiti diri, menjadikan perasaan orang lain menjadi sebuah ekspektasi.

Bukan korban perasaan namanya, kamu itu korban khayalan.
Khayalanmu sendiri pula.

Selamat bulan Mei, wahai hati-hati yang masih sendiri.

Difusi-Difusi Fiktif

Aku masih ingat pertama kali bertatap dengan wajah yang masih lugu, remang di bawah bayang yang sama sekali tidak sesuai dengan raut berbinarmu yang seharusnya ditunjukkan kepada dunia. Kupikir kamu lucu. Tidak ada reaksi kosmis yang dipuja milyaran pujangga ketika mereka jatuh cinta. Mungkin aku terlampau menahan sakit untuk merasa bahagia. Yah.. Setidaknya pada saat itu.

Aku masih ingat pertama kali akhirnya terperosok dalam lubang dalam yang mungkin kusengaja. Berbagai serenada dilantunkan hari itu, bagai kidung pengiring bersatunya dua asa, difusi fiksi di dalam fiksi kisah ini. Maya yang dulu kudamba selagi seraya bersemu di hadapan dunia.

Di dalam lubang itu kamu kubur aku dengan kisah berurai airmata yang telah kamu lalui sebelum kita bersua. Aku merasa jumawa, dipercaya dengan rahasia hangat yang meleleh dari mata kamu itu. Lalu kamu melemparkan cerita tentang mimpi, tentang harapan yang akan kamu singsing di masa depan. Mimpimu kubawa pulang, lalu kumodifikasi. Sebisa mungkin membayangkan ada aku di dalam alur khayalmu. Lucu.

Tahun-tahun berlalu, dan lubang itu tak lagi dalam. Orang lain akan dapat melewatinya dengan mudah. Bukan aku. Aku masih jauh terkubur di dalam situ. Lubang gelap yang ditimbuni gemerlap asa; gundukan yang tak kuasa aku gali karena takut menghilangkannya; kolase kenangan yang membuktikan bahwa dulu kita pernah bersama dimana diam-diam aku menyimpan harmoni yang kau cipta untuk orang lain, menjadi laguku sendiri untuk dikidungkan berdua dengan kamu. Lagu sendu tentang rindu yang sembunyi.

Bibbedi Bibbidi Bo Sendiri

Sudah saatnya, wahai Hawa, kamu enyahkan fantasi cinta abadi dari ibu peri karena itu adalah salah satu mimpi yang cukup musykil untuk terjadi.
Realisasi macam apa yang kamu nantikan?

Tidak akan ada tikus yang menyulam dan berdansa selagi baju pestamu mewujud rupa.
Ambil jarum-jarum itu.
Berhentilah meratap.
Jahit gemintang di atas perca terindahmu, dan temukan pria yang lebih pantas dibanding pangeran manja yang terjebak di pesta dansa ayahnya.

« Older entries