Postcards From Lampung Carnival 2014

Nah ini foto Festival Krakatau loh. Foto yang dari saya menyusul.

 

visit our site and follow our IG @zeabrizkie for fashion stuffs!
150525113058_newlogo-POLKAlight

Jejak BOcahiLANG

Agenda tahunan bertajuk “Lampung Culture & Tapis Carnival IV” yang diselenggarakan pada tanggal 31 Agustus 2014 menjadi penutup dari rangkaian acara Festival Krakatau 2014. Panggung yang sudah tertata rapi di depan Mahan Agung, Bandar Lampung mulai dipenuhi para penonton sejak pukul 13.30 WIB. Mereka tidak menghiraukan terik matahari siang itu. Hanya menunjukkan niat dan minat untuk melihat karnaval bertaraf nasional tersebut.

Lihat pos aslinya 311 kata lagi

Ektoplasma

Adaku dalam ruang kenanganmu hanya seperti hantu.
Menetap tanpa pernah benar kau tatap.
Menggentayangi tanpa bisa menggerayangi.
Menggebu tapi selalu dibuat bisu.
Dan bagaimana aku memberimu rasa yang utuh jika setiap sentuh berujung keluh?

Sudah Matikah Empati Di Negeri Ini?

MotorBirunya Igfar

Sumber Foto : Merdeka.com Sumber Foto : Merdeka.com

Beberapa hari lalu, hati saya ngilu karena membaca sebuah berita di media on-line nasional dimana seorang penyandang disabilitas terpaksa duduk di lantai kereta karena kursi yang seharusnya di peruntukkan untuk mereka diduduki oleh orang yang sehat jasmani.

Lihat pos aslinya 523 kata lagi

Jarak

Aku menatap lurus entah kemana ketika kamu kembali berceloteh tentang hal-hal yang tidak aku pahami.
Tentang perempuan yang katamu kamu cintai.
Tentang hubungan yang katamu tidak kamu nikmati.
Tentang keinginanmu bertahan yang bagiku nisbi.

Aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
Bukankah baru minggu lalu?
Ah sejak bertahun-tahun lalu juga cerita ini sudah jadi benalu.
Parasit yang memangsa kafein yang kusesap dari bercangkir-cangkir kopi yang kau pesankan supaya aku kehabisan alasan untuk mengalihkan percakapan.

Semua sudah menjadi rutinitas bagiku.
Kau bilang, ini seperti deja vu.
Menyesap kopi yang tidak sepahit akhir cintamu, katamu.
Entahlah.
Bagiku ini hanya repetisi kegilaanmu yang sepertinya menjadikan sakit hati menjadi candu.

Miris, karena bagiku setiap awal hubunganmu adalah antisipasi akan rasa-rasa perih yang nyaris pasti terjadi.
Kamu dipatahkan satu, maka kamu mencari seribu replikanya untuk mengganti.

Kurasa memang sudah takdir bintang untuk senantiasa direngkuh kegelapan.
Matahari tidak pernah terlihat indah ketika langit terang.
Aku tidak mau benar-benar mengurusi serakan kegilaanmu, maka aku hanya diam dari kejauhan.
Menatapmu dari balik cangkir kopi seakan aku peduli.

Manusia tidak peduli apa yang dirasakan oleh bintang yang berpijar jauh disana ketika dia perlahan membakar dirinya sendiri menuju kepunahan.
Karena itulah cara hidup bintang, mati dalam diam supaya dapat menunjukan keberadaan.

Kamu adalah bintang yang kupilih untuk kucintai.
Berpendarlah, seperti airmatamu yang tertahan dalam pantulan pekat kopi.
Cukup dari jauh saja, sekedar supaya pesonamu tidak mati.

Listening into another Bjerre’s depression with a cup of coffee in my hand. Ah, I love this man’s pain.

Beast

I weep for your perfection as it eloquently points at my flaws. Everytime you lovingly staring at me, giggling about how those are such cutesy quirks, I clenched my jaws whilst wishing the time is not too soon to be arrived at the point when you realized that they are actually defects.

Wounds

Remeniscing the old days and analysing every aches happened, I always wonder what happened back then.
But it really was us being naive to be blamed, thinking “over” is not part of being “lovers”, as youth betrays us with indulgences those blinded our sensitivity towards other and sense of rebellion which ended up with ignorance.

Tengik

Waktu telah mengubah kita menjadi masam, layaknya susu yang terpapar udara terlalu lama, dan bahkan dengan tengik yang begitu nyata pun tak pernah dia terdeteksi indra karena kita terlanjur terbiasa.

Setelah menyadarinya pun, kita hanya tersenyum, berpura-pura memaafkan, karena sesungguhnya berpura-pura nyaman di dalam rumah lapuk lebih mudah daripada mencuilnya menjadi puing untuk kemudian dibangun kembali.

MENOLAK LUPA

Sarapan Hati

Pagi ini aku makan roti.

Tahukah kamu, sebelum diberi ragi, adonan roti ini kecil, diam, dingin, dan tak mampu berkembang?

Genggaman tanganmu yang pertama bereaksi seperti ragi kepada harapan yang terdiam meragu, membuatnya hangat, mekar, dan melimpahi kamu dengan nutrisi nurani hingga saat ini.

Dealing With Death

Beberapa hari yang lalu, beberapa rekan menulis twitter tentang seorang sesama alumnus. Twitternya berupa testimonial dan doa yang baik-baik sekali, kupikir si fulan berulangtahun. I refreshed the timeline, untuk make sure, mana tahu ternyata dia hendak menikah atau hal-hal lain. Dan tweet paling atas di linimasaku adalah: “RIP @radiktapawanto”.
Syok? Tentu saja.

Saya tidak dekat dengan beliau ini, tapi sering bertegur sapa, dan entah bagaimana orang yg saya kenal ada saja yg berhubungan dengan almarhum.
Saya tanya rekan seperantauannya, “Dit, berita soal Mbor beneran?”, sang rekan balas bertanya, “Mbor kenapa?”. Ya, kepergian beliau ternyata diakibatkan kecelakaan di lokasi kerja, mendadak sekali, dan setelah kami bertelepon, sang sahabat panik menelpon ponsel almarhum, lalu keluarganya, yang kemudian mengkonfirmasikan kebenaran berita tersebut. Baru saat itulah saya berucap, “innalillahi wa innaillaihi rajiun.”

Beliau adalah pribadi yang hangat dan lembut. Di semester awal saya kuliah, mendadak dia menyapa saya, “lo pasti temennya Hida yg pernah ikut summer travel juga, pasti, soalnya nama beginian gak banyak nih.” Waktu itu saya tertawa dan mengiyakan.
Saya bukan orang yang supel, lingkaran pertemanan saya tidak banyak. Beliau ini termasuk seseorang yang aktif dan populer, namun hingga hari terakhirnya di kampus, jika kami berpapasan, dia selalu menyempatkan menyapa saya. Setelah kami lulus, beliau sering menyapa melalui media sosial.

Saya tidak pernah dekat dengan Radikta, Mbor, Dito, atau apalah panggilan akrab kalian kepada si supel periang satu ini, tapi manusia pun toh tidak perlu dekat dengan matahari untuk merasakan kehangatannya.
Kepergian beliau membuat saya berpikir, apakah orang lain akan mengingat saya sehangat mereka mengingat beliau? Semoga ya, semoga.

See you on the other side, dude. May you wait in peace.

Memoar Troya

Kemarin aku diserang kenangan-kenangan yang kukira sempat lekang.
Apa yang kuduga akan menjadi sekumpulan nostalgia mengenai masa-masa bahagia, kemudian berubah layaknya Kuda Troya.

Semula semua tentangmu hanyalah eulogi, serangkaian kata-kata merdu menyanyikan kecermelanganmu.
Aku lupa, eulogi adalah biografi, opini yang berakhir seiring habisnya linimasamu untuk menari.
Kehampaan dunia yang kehilangan kamu sempat lama terpias, dan riuh rendah kembalinya sempat membuatku terhenyak.
Tercekat dan sesak.

Karena setelah banyaknya masa-masa untuk rasa-rasa fana yang ria, pada akhirnya yang paling kuingat adalah rasa pahit ucapan selamat tinggal yang tertinggal di ujung cecap lidah, vokalisasi perpisahan tidak pernah sempat untuk saling kita ucap.

What a waste that even when the time comes for us to meet once again, we won’t recognize each other.

« Older entries