Difusi-Difusi Fiktif

Aku masih ingat pertama kali bertatap dengan wajah yang masih lugu, remang di bawah bayang yang sama sekali tidak sesuai dengan raut berbinarmu yang seharusnya ditunjukkan kepada dunia. Kupikir kamu lucu. Tidak ada reaksi kosmis yang dipuja milyaran pujangga ketika mereka jatuh cinta. Mungkin aku terlampau menahan sakit untuk merasa bahagia. Yah.. Setidaknya pada saat itu.

Aku masih ingat pertama kali akhirnya terperosok dalam lubang dalam yang mungkin kusengaja. Berbagai serenada dilantunkan hari itu, bagai kidung pengiring bersatunya dua asa, difusi fiksi di dalam fiksi kisah ini. Maya yang dulu kudamba selagi seraya bersemu di hadapan dunia.

Di dalam lubang itu kamu kubur aku dengan kisah berurai airmata yang telah kamu lalui sebelum kita bersua. Aku merasa jumawa, dipercaya dengan rahasia hangat yang meleleh dari mata kamu itu. Lalu kamu melemparkan cerita tentang mimpi, tentang harapan yang akan kamu singsing di masa depan. Mimpimu kubawa pulang, lalu kumodifikasi. Sebisa mungkin membayangkan ada aku di dalam alur khayalmu. Lucu.

Tahun-tahun berlalu, dan lubang itu tak lagi dalam. Orang lain akan dapat melewatinya dengan mudah. Bukan aku. Aku masih jauh terkubur di dalam situ. Lubang gelap yang ditimbuni gemerlap asa; gundukan yang tak kuasa aku gali karena takut menghilangkannya; kolase kenangan yang membuktikan bahwa dulu kita pernah bersama dimana diam-diam aku menyimpan harmoni yang kau cipta untuk orang lain, menjadi laguku sendiri untuk dikidungkan berdua dengan kamu. Lagu sendu tentang rindu yang sembunyi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: