Laju Cahaya

Kamu mengajarkanku rupa-rupa cahaya,
seolah lupa terhadap terangnya dunia aku buta.

Lalu kamu menyentuh tanganku,
seraya berkata, “seperti inilah rembulan.”
Lalu kamu mengecup keningku,
seraya berkata, “seperti inilah matahari.”
Lalu kamu mengecup pipiku,
seraya berkata, “seperti inilah gemintang.”
Kemudian kamu mengecup bibirku,
aku menanti karena tetiba hanya ada hening.

Kamu berkata akhirnya,
“mungkin tadi pelangi terindah yang pernah kualami.”

7 Komentar

  1. jtxtop said,

    Januari 3, 2013 pada 1:35 pm

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  2. laylarizqi said,

    Januari 15, 2013 pada 7:57 am

    Reblogged this on The Secret Mind and commented:
    Awesome…

  3. Iwa Riot said,

    Februari 10, 2013 pada 7:08 pm

    kunjungan malam mba zea
    udh lama ga berkunjung makin ok aja setiap postingannya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: