Durasi

Sejenak pun kilat melecut, tetap dia membawa cahaya.
Sadarkah kamu bahwa dekapnya memang pernah nyata ?

Manusia memuja durasi,
hanya karena sesuatu lekang lebih lama,
hanya hal itu saja yang diakui fana adanya.

Hati memiliki relativitas yang tak mampu kau ukur
dengan gemulai tarian tangan yang mengitari urai alur masa.
Biarlah rasa-rasa yang mereka pandang sebelah mata itu melesat,
meninggalkan sinisme dunia untuk semata layu karena waktu,
mati karena lelah bukan karena kalah.

Kekal itu bukan milik kita,
kamu sendiri yang berkata ingin berdansa dengan logika.
Debar ini pun bersembunyi bukan karena rapuh,
maka nikmati saja desir pasir yang jatuh.

Untuk KAMU, August Rush ♥

6 Komentar

  1. Agustus 31, 2012 pada 4:32 am

    Kalau sudah nikmati pasir yang berjatuhan
    apakah harus diam seperti karang
    yang setiap waktu dihantam kerasnya lautan
    Ataukah harus mengakui bahwa DIA-lah yang menciptakan Durasi
    sehingga hal fana itu sirna adanya

    hehehe😀

    • Agustus 31, 2012 pada 4:34 am

      Berdiam justru dalam pengakuan penuh yang sunyi, bahwa durasi berada dalam genggamannya, bukan dalam penilaian manusia🙂

      • Agustus 31, 2012 pada 4:37 am

        wahh saya jadi mengerti..
        mantabbbbb banget puisinya mba zea,
        kapan-kapan ajarin ya hehehe😀

      • Agustus 31, 2012 pada 4:29 pm

        Makasih, Iwa🙂

  2. September 2, 2012 pada 11:37 am

    “durasi” di sini maksudnya waktu mbak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: