Inisiatif

Amigdala.

Pusat reka emosiku itu serasa mencecap bara saat tatapan malu-maluku bersirobok dengan sepasang danau kembar di wajahmu yang dengan terangnya menyiratkan tanda tanya. Mungkin kamu menggugat jawab mengapa pipiku mengerucut dengan rona, atau mengapa lidahku mendadak kelu macam terbelenggu.

Ah, kamu tidak tahu. Saat ini rusukku merasa seperti lesung, karena isinya terus berdentum seperti alu, memicu darahku lebih cepat menebar gelenyar sensasi, menghela nafasku agar lebih cepat meninggalkan paru. Aku sesak. Tenggorokanku tercekat. Maka aku hanya tersenyum canggung. Membiarkan romansa, yang mungkin saja terjadi, tetap tersimpan sebagai fiksi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: