Tua Sebelum Tidak Lagi Fana

Ketika muda, saya pikir saya akan meninggal seperti kakek saya. Tenang, dalam usia lanjut, meninggalkan keluarga yang sudah mampu berdiri sendiri.  Belum lagi saya mencapai usia balig, seorang sahabat tiba-tiba saja meninggal; tidak ada yang menyangka, tidak ada yang mampu menjawab kenapa.  Rasanya ini sebuah tamparan bagi logika saya yang masih belia, mengapa manusia seumuran saya direnggut kehidupannya sebegitu awalnya ?
Ternyata tidak semua orang mendapatkan hak istimewa untuk menjadi TUA.

Saya tidak menangis sepanjang jenazah almarhum didoakan, dikubur; bahkan ketika prosesi tiga hari, kemudian tujuh hari; airmata saya tidak juga mengalir. Sebulan berlalu, setahun berlalu, dan saya baru sadar bahwa almarhum sudah benar-benar pergi karena tidak ada lagi telepon-telepon lucu yang biasanya berdering beberapa minggu sekali. Setelah kesadaran ini timbul, barulah saya menangis sejadi-jadinya.

Pagi ini, setelah kemarin mendapat kabar bahwa bibi saya meninggal, saya bangun mendapati SMS (banyak SMS) dan PM di messenger saya bahwa salah satu karib saya semasa SMA telah dipanggil oleh-Nya. Saya membacanya. Kemudian saya minum segelas air seperti biasa, sarapan, dan duduk lagi di tempat tidur. Saya baca semua pesan itu sekali lagi, saya memeriksa jejaring sosial, dan dengan hening saya terdiam. Seperti baru tersadar dari sebuah tenung, dengan panik saya menelpon teman yang lain. Dan berita ini benar adanya, bahwa teman saya ini memang sudah mengucapkan selamat tinggal kepada saya, kepada semua rekan-rekan dan keluarganya, kepada dunia … SELAMANYA.
Rasanya baru kemarin saya bercanda dengan almarhum di jejaring sosial, baru beberapa bulan ini dia membuat Twitter, bahkan rasanya baru kemarin juga saya dan dia menikmati hiruk pikuk permainan kami sendiri di studio musik, menyaksikan dia tanpa sengaja mematahkan simbal, bermain biliar bersama, dan menyaksikan dia menjadi ketua kelas saya di kelas sepuluh.

Waktu menunjukkan pukul 16.07. Sejak berita ini dikabarkan kepada saya sekitar jam 9 pagi, saya belum meneteskan airmata sama sekali. Tidak peduli kalimat duka macam apa yang saya tuliskan di media sosial, sesungguhnya logika saya masih belum dapat mencerna bahwa almarhum tidak akan pernah membalas lagi pesan singkat saya, tidak akan berbuka bersama, dan tidak akan bersilaturahmi lagi untuk Idul Fitri yang akan datang.  Semoga saya diberi kekuatan ketika logika saya sepenuhnya terbangkitkan.

Istirahat yang tenang disana ya, teman, kami akan sekuat tenaga mengikhlaskan.

Image

In loving memory of Ahmad Fuady ( 3 December 1988 – 11 June 2012 ),
a loving son, a caring brother, a cheering friend, an inspiration.

2 Komentar

  1. Fiyaa said,

    Juni 11, 2012 pada 4:17 pm

    😦 Saya entah kenapa merasa ikut sedih dengan semua cerita dukanya.😦 Semoga mereka semua yang telah lebih dulu pergi, tenang di rumah baru mereka dan yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

    • Juni 11, 2012 pada 4:28 pm

      Terima kasih, Mbak Fiyaa, maaf sudah menebarkan haru ke hari kamu. Tapi semoga ada pelajaran yang dipetik.
      Amin Ya Rabbal Alamiin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: