Dulu

Aku pernah gagal memetakan kamu, sebuah kesalahan yang membuat aku tidak habis pikir.
Bukankah cetak biru itu kita sendiri yang mengukir ?
Lalu kenapa kamu pergi melipir, meninggalkan detail lesu di sajak-sajak penuh semangat yang dulu kita tulis bersama ?
Aku hanya bisa diam, meletakan kuas, dan menggelayutkan pias di sisa hari.
Aku bukan merasa tersakiti, hanya saja ada nista yang mengetuk, membisikkan bahwa kamu telah hilang,
yang tersisa hanya jumlah hari untuk dibilang, serima rindu untuk disunting, dan seribu ragu untuk digugu.

Tapi itu dulu, bukan begitu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: