Disleksia Mereka dan Budaya Membaca Anak Indonesia

Hari ini gue ke sebuah education center dengan tujuan untuk diwawancara jadi tenaga pengajar disana. Tempat itu adalah lembaga pendidikan super spesial, khusus mengajar anak-anak dengan kekurangan, which was dysleksia. Anak-anak yang mengalami kekurangan ini mengalami keterbelakangan dalam perkembangan otak kirinya, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Sebagai gantinya, mereka biasanya memiliki otak kanan yang SANGAT berkembang, sehingga mereka biasanya jenius dalam hal seni, bisnis, atau mekanikal.

Sedih banget deh, tadi waktu gue break di luar ruang wawancara sambil ngerjain knowledge test, ada murid disitu yang lagi diajarin ngebedain kanan kirinya, ini salah satu ciri lain anak disleksia. Selama wawancara, gue juga dikasih gambaran beratnya ngajar mereka. Mereka sulit nyalin apapun yang kita tulis di papan tulis, apalagi yang kita bacain doang. Setelah mereka catet pun, mereka gak ngerti apa itu maksud tulisan di catetan mereka (gue dan temen-temen kampus gue juga kadang mengalami ini, hahaha …). Gue dikasih tau bahwa cara mengajar paling efektif adalah dengan multisensori, terutama rabaan. Kasian ya Allah, mereka harus belajar huruf dengan meraba playdough atau clay yang mereka buat sendiri untuk mengenali huruf itu kalo lagi baca di lain waktu.

Di sisi lain, banyak banget anak-anak Indonesia yang males banget membaca, padahal mereka memiliki kemampuan untuk itu. Gue gak ngerti kenapa di Indonesia, membaca itu sama sekali belum menjadi budaya. Setiap kali seseorang bilang dia hobi membaca, selalu di-cap nerd (kalo bacaannya komik dan teenlit; kalo bacaannya novel atau buku filosofi supertebal, di-cap untolerably super nerd *lebay*). Why oh why, kalian semua bisa open minded sama budaya kehidupan malam, pakaian mini, homoseksual, dan lain sebagainya, tapi masih meremehkan budaya membaca ?

Tuhan, selamatkanlah anak Indonesia dari kebodohan karena kemalasan mereka sendiri !

4 Komentar

  1. Sya said,

    Januari 6, 2011 pada 6:55 am

    I like to read, as I like to read your post🙂
    Hmm, kasian juga ya anak diseleksia itu.
    Terus, gimana hasil interview kamu?

    • Januari 23, 2011 pada 5:46 pm

      hahaha, aku dinyatakan qualified,
      tapi nggak bisa dijadikan pengajar.
      soalnya aku cuma stay sampe Mei,
      sedangkan pelatihan aja dua bulan, jadi yaaah ..
      give it to the best🙂

  2. cenya95 said,

    Januari 17, 2011 pada 9:56 am

    sedih memang jika banyak anak malas baca…😦
    salam superhangat

    berkunjung… sekedar melepas rindu

    • Januari 23, 2011 pada 5:47 pm

      iya, bingung cara menumbuhkan rasa suka baca,
      apalagi kepada yang seumuran saya yang habitnya udah susah diubah😦

      makasih kunjungannya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: