Legenda Makam Mbah Priok

Insiden Makam Mbah Priok yang baru-baru ini terjadi menggugah minat saya terkait Makam ini sendiri, karena saya terus terang malas mengamati para aparat yang masih saling mengoper tanggung jawab.  Saat saya bertanya kepada teman saya yang notabene bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi, dia menjawab “gue malah baru tau ada yang namanya Mbah Priok”.  Jadi, saya melakukan telusuran sederhana dari Google, meskipun saya sepenuhnya menyadari bahwa penelusuran Google tidak sebanding dengan riset yang sesungguhnya, tapi setidaknya akan cukup menjawab pertanyaan kita.  Berikut adalah cerita yang saya gabung-gabungkan dari berbagai sumber.

Makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara, memang bukan sembarang makam. Mbah Priok, yang nama aslinya adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, merupakan salah satu tokoh yang dikenal sebagai penyiar agama Islam. Dia berasal dari Pulau Sumatera, tepatnya dari daerah Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan.

Selama dua bulan, beliau dan rombongannya mengarungi lautan dengan menggunakan perahu. Apesnya, perahu mereka berpapasan dengan armada kapal perang Belanda. Tanpa peringatan, Belanda menghujam mereka dengan meriam. Meskipun demikian, tidak satupun peluru meriam itu mengenai perahu mereka.

Perahu yang mereka tumpangi juga sempat dihantam ombak besar sehingga menghanyutkan seluruh perbekalan. Ketika itu, yang tersisa hanyalah periuk untuk menanak nasi dan sedikit beras yang sudah berserakan. Beberapa hari berikutnya, ombak besar kembali datang dan membuat perahu terbalik. Musibah itu menewaskan tiga rekan yang menyertai. Namun Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad selamat. Dengan kondisi yang lemah, pada tahun 1756, mereka terseret ombak hingga ke semenanjung yang saat itu belum bernama.

Ketika ditemukan warga, Habib Hasan sudah tewas sedangkan Habib Ali masih hidup. Di samping mereka, terdapat periuk dan sebuah dayung. Akhirnya, warga memakamkan jenazah Habib Hasan tak jauh dari tempatnya ditemukan. Sebagai tanda, makam Habib diberi nisan berupa dayung yang menyertainya. Sementara periuk diletakkan di sisi makam.

Konon, nisan tersebut tumbuh menjadi sebatang pohon Tanjung. Sementara, periuk yang tadinya berada di sisi makam terus bergeser ke tengah laut.  Bahkan, warga setempat percaya, periuk itu muncul di lautan dengan ukuran makin besar. Kejadian itulah yang menyebabkan warga setempat menamakan kawasan itu sebagai “Tanjung Priuk”.

Sumber lain mengatakan bahwa Habib Hasan sempat tinggal di Batavia dan menyiarkan agama Islam di sana, dan kemudian meninggal pula disana.  Kawasan tempat di mana Habib pernah selamat dari badai itu lah yang dinamai Tanjung Priuk.

Makam Habib Hasan yang semula berada di Pelabuhan Tanjung Priok, dipindahkan ke wilayah pelabuhan peti kemas Koja Utara oleh Belanda. Saat itu, Belanda ingin membangun pelabuhan. Namun, pembangunan selalu gagal karena adanya makam keramat di kawasan tersebut. Setelah makam dipindahkan, barulah pelabuhan bisa dibangun.  Makam di Koja ini kemudian dikenal sebagai makam Mbah Priok.

Tempat itu kemudian dikenal luas. Tiap akhir pekan, sampai sekarang, sedikitnya 1.500 orang mengikuti pengajian di sana. Sampai akhirnya timbul kasus. Bangunan pendopo makam Mbah Priok dinyatakan berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II sehingga menyalahi aturan dan harus ditertibkan.

Pemerintah Provinsi DKI bersikukuh bahwa komplek makam Mbah Priok atau Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad sudah dipindahkan. Pemerintah Provinsi melalui Pelindo memiliki gambar foto udara areal itu sudah pernah rata dengan tanah.   “Bukan saya tidak hormat. Tadi malam saya menghubungi Pelindo. Dan dinyatakan pada 1997 seluruh makam itu sudah dipindahkan ke Semper. Itu ada foto udaranya, makamnya sudah rata,” kata Wakil Gubernur DKI Prijanto.

Siapa yang berbohong mengenai lokasi makam yang sesungguhnya ?

Para penjaga makam atau kah pemerintah yang ingin lepas dari tanggung jawab atas insiden yang baru-baru ini terjadi ?

5 Komentar

  1. andipeace said,

    April 17, 2010 pada 5:14 pm

    beroptini…sebenarnya kalau saling pegang prinsip tenggang rasa, menghornati pendapat dan kesadaran, pasti tak seperti itu kejadiannya.

    salam adem ayem

    benar sekali,
    bangsa Indonesia sudah lupa bagaimana seharusnya menjalankan Tepa Selira.
    bisa-bisa kebanggaan sebuah bangsa benar-benar luntur.

  2. April 18, 2010 pada 1:58 pm

    Met maleem, asyik abbis deh postingnya, sukses untuk anda.
    Kunjungi juga Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, ada posting baru yang membahas : “Persiapan usaha cuci sepeda motor?”, dan artikel lain yang berguna, jangan lupa kasi komentar yaaa. Makasiiih.

    makasih, nanti saya sempatkan berkunjung🙂
    semoga postingannya bermanfaat ya.

  3. April 23, 2010 pada 3:16 pm

    wew….wew….zeeeee komeng yak hehehe

    gw rasa sih itu kesalahpahaman antara aparat & warga. Krn setau gw sih ga ad yg namanya penggusuran hanya kembali dibenahi tatanan daerahnya. Bisa juga mungkin termakan isu media,,,dgn sebutan adanya “penggusuran” oleh media-media yang beredar

    memang media jaman sekarang menyesatkan ya😀

  4. April 28, 2010 pada 9:09 pm

    […] This post was mentioned on Twitter by Z Zeaoryzabrizkie. Z Zeaoryzabrizkie said: baru-baru ini diposting buat yg mau tau Legenda Mbah Priok https://ziggy1st.wordpress.com/2010/04/17/legenda-makam-mbah-priok/ […]

  5. zacky said,

    Januari 30, 2011 pada 3:29 pm

    sekarang makam tersebut gimana tuh?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: