Sampan Senja

Tanpa ia berkata pun, aku tahu ia merasa penat;

sebagaimana ia tahu letih yang terpancar dari riak mataku…

Tak usah bertanya mengapa, atau bagaimana…

Perihnya, perihku; jenuhnya, jenuhku…

Dan kami jemi dengan semua..

Semuanya palsu, ilusi…

Layaknya kami…

“Aku muak,” seduku..

“Aku pun tlah melampaui ambangku,” ujarnya..

Lalu ia menatap nanar, hampa

ke dalam mataku yang sama kosongnya,

mencoba mengulik jawaban yang tampaknya tak ingin mengapung ke permukaan…

Dan kami terlalu sesak untuk menyelam, terlalu resah untuk mulai menggali…

Lalu kami mengambil dayung masing-masing,

bersampan menuju senja yang berlainan…

Dan sambil lalu, aku yakin ia mendengar lirih pesanku…

“Singgahku telah berakhir..

Tiada tambat yang mampu bertahan ketika digelayuti dua jerat sekaligus,

layaknya jangkar yang hanya membawa hanyut ketika ia congkak menahan kait banyak kapal…

Pilihlah satu saja sebelum kamu menjadi terlalu berkarat,

tapi bukan layarku yang tak hendak lagi dibelai anginmu…”

(sebuah pesan buat para pria tukang selingkuh!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: