Cinta dan TAI

Well, setelah lama berbahasa Indonesia, gue merasa Bahasa Indonesia itu penuh dengan sinisme dan kekacauan tata bahasa. Bukan gue mau sok ikut-ikutan para pakar hukum yang ngeributin tentang betapa salahnya istilah “tindak pidana”. No, ini sesuatu yang lebih ringan dari itu. I’m not that heavy inside anyway…

Dan ini juga bukan dengan rangka ngomongin seseorang lohhhhhhhh!

Jadi gini…

Gue gak ngerti soal imbuhan akhiran –i. Sebenernya –i itu diletakin dimana sih?

Di belakang huruf vokal ato bukan?

Masalahnya… kenapa “menceritakan” bukan “menceritai”???

Padahal, pada kata yang lebih mulia dari itu, kita pake imbuhan –i. Ya, saudara-saudaraku, kata “mencintai”, kenapa bukan “mencintakan”?

I know it sounds weird, tapi khan kalo kita dari dulu pake begitu gak bakal aneh rasanya. Masalahnya, “cerita” dan “cinta” punya huruf akhir yang sama dan suku kata akhir yang berbunyi sama. Kenapa harus “cinta” yang pake imbuhan –i?

Kenapa kata yang begitu kita sakralkan dan merupakan simbol harapan kita semua itu harus berlekatan dengan kata yang jorok, yaitu “tai”???????!!!!!!

Baca entri selengkapnya »